Pertamax Naik, Pembeli Pindah ke Pertalite, Stok SPBU di Tangerang Cepat Ludes

Diposting pada 4 views

TANGERANG, Checkbind.com – Baru-baru ini, lonjakan harga BBM non-subsidi Pertamax bikin heboh dan memicu reaksi berantai yang terasa betul di lapangan. Di berbagai penjuru Kota Tangerang, warga kini mengeluh pusing tujuh keliling karena Pertalite mendadak jadi barang langka. Mengapa demikian? Stok di SPBU seringkali ludes dalam sekejap, bagaikan disapu ombak.

Situasi ruwet ini terjadi akibat gelombang besar perpindahan konsumen yang sebelumnya setia mengonsumsi Pertamax, tetapi akhirnya memilih kabur ke bensin bersubsidi. Keputusan pahit itu mereka ambil setelah harga Pertamax melambung tinggi menjadi Rp 16.250 per liter, tepatnya sejak Rabu (10/6/2026) lalu.

Antrean Mengular, Petugas SPBU Kewalahan

Nurohman, seorang pengawas di SPBU 34.151.16 Karang Mulya, Tangerang, membenarkan bahwa kondisi di lapangan sungguh mencekam. Ia mengamati sendiri bagaimana volume penjualan Pertamax merosot tajam hingga sekitar 20 persen. Ke mana perginya para pembeli itu? Serempak mereka bergerilya mencari Pertalite.

“Sesudah kenaikan kemarin, penjualan Pertamax langsung anjlok sekitar 20 persen. Akhirnya, ramainya pindah ke Pertalite. Saya lihat antrean motor tidak ada habisnya, terus mengular sampai gerbang kami tutup pada malam hari,” ungkap Nurohman dengan nada frustrasi saat ditemui, Jumat (12/6/2026).

Distribusi Tersendat: Kiriman Telat, Mesin SPBU Terancam Rusak

Namun, tingginya permintaan warga tidak dibarengi dengan kelancaran distribusi dari pusat. Nurohman menjelaskan bahwa jadwal pengiriman sering terlambat hingga setengah hari, membuat kondisi semakin kacau. Tidak hanya itu, pihaknya juga mengeluh karena jatah harian sering dipecah pengirimannya. Akibatnya, stok Pertalite tidak mampu bertahan hingga sore hari.

“Harusnya kami menerima kiriman 16 kiloliter (KL) sekaligus, tapi dipecah jadi 8 KL dulu. Coba bayangkan, dalam satu shift saja, 8 KL itu langsung ludes. Sisanya telat datang, sehingga tadi jam 10.00 WIB stok kami sudah benar-benar kosong melompong,” jelas Nurohman dengan nada kesal.

Lebih parahnya lagi, pengelola SPBU juga harus menghadapi risiko teknis yang mengerikan jika tangki bensin benar-benar kering. Mereka terpaksa menghentikan layanan lebih awal ketika stok tersisa minimal satu ton. Mengapa demikian? Karena memaksa mesin pompa menyedot hingga habis bisa berakibat fatal.

“Kalau kami paksakan sampai habis mentok, mesin pompa bisa jebol karena ‘menggantung’. Biaya perbaikannya sangat mahal, tembus puluhan juta rupiah. Kami tidak berani ambil risiko,” tambah Nurohman sambil menggelengkan kepala.

Warga Kalap: Berkeliling ke Enam SPBU, Korbankan Jatah Rokok hingga Jajanan

Sulitnya mencari Pertalite jelas menjadi beban pikiran dan dompet yang luar biasa bagi warga. Albert (29), seorang pekerja lepas yang kesehariannya sangat bergantung pada kendaraan, mengaku pusing luar biasa. Ia harus berkeliling hingga enam SPBU berbeda, mulai dari wilayah Cengkareng sampai Tangerang, hanya demi setetes Pertalite.

Sayangnya, usahanya sia-sia. Stok nihil di mana-mana. Karena kepepet, Albert terpaksa merogoh kocek lebih dalam Rp 35.000 hanya untuk membeli Pertamax.

“Pusing, banget. Duit habis di jalan buat muter-muter. Akhirnya, siasatnya saya ganti merek rokok ke yang lebih murah. Uang selisihnya saya pakai buat nutupi lonjakan biaya bensin harian,” kata Albert dengan ekspresi pasrah.

Nasib serupa, bahkan lebih tragis, dialami oleh Rizik (23), seorang pengemudi ojek daring. Di hari ulang tahunnya yang jatuh pada Jumat kemarin, ia justru tidak bisa merayakan dengan tenang. Alih-alih berpesta, Rizik malah sibuk memutar kendaraan ke tiga SPBU berbeda untuk berburu Pertalite.

Hasilnya tetap nihil. Dengan terpaksa, Rizik mengisi tangkinya dengan Pertamax senilai Rp 15.000. Ironisnya, uang sebanyak itu bahkan tidak cukup untuk mendapatkan satu liter bensin. Namun, ia terpaksa melakukannya agar tetap bisa menarik orderan makanan dan terus bekerja.

“Tadi saya ngisi Pertamax Rp 15.000 aja, itu nggak nyampe seliter. Nih, ngisi Pertamax emang udah buat urgen aja, buat emergency sambil terus nyari Pertalite lagi nanti di jalan,” keluh Rizik dengan nada getir.

Demi Bertahan Hidup, Warga Pangkas Semua Biaya Hiburan

Untuk menutupi pembengkakan biaya bensin yang semakin membebani keuangan, Rizik mengaku terpaksa melakukan tindakan radikal. Ia mulai memangkas jatah jajannya di jalan secara drastis beberapa waktu belakangan.

“Biasanya, saya jajan sehari gocap (Rp 50.000) di jalan, misalnya beli siomay. Sekarang, paling saya keluarkan Rp 20.000 atau nggak, saya makan dulu dari rumah. Baru kalau di jalan, saya jajan beli susu. Jadi, pengeluaran lebih sedikit, ya setengahnya deh. Biar hemat buat bensin dan keperluan lainnya,” tutur Rizik menjelaskan siasat bertahannya.

Hingga berita ini diturunkan, para pengendara yang geram dan pengelola SPBU yang kewalahan hanya bisa berharap. Mereka berharap Pertamina serta pemerintah segera bertindak cepat menormalkan jalur distribusi. Dengan begitu, stok BBM bersubsidi bisa tersedia secara stabil, tidak langka seperti sekarang, dan tentunya tidak semakin membebani mobilitas ekonomi masyarakat kecil yang sudah tercekik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *