Checkbind.com — Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh membongkar ladang ganja raksasa. Tim gabungan menemukan lahan seluas 18 hektare di pedalaman Kabupaten Aceh Utara. Oleh karena itu, pengungkapan fantastis ini langsung menyita perhatian masyarakat luas. Selanjutnya, aparat keamanan membongkar lokasi tersembunyi ini setelah melakukan pengintaian secara intensif.
Selain memusnahkan ribuan tanaman terlarang, petugas melumpuhkan empat petani lokal di lokasi. Para tersangka mengelola seluruh proses bercocok tanam ganja secara rapi. Akibatnya, mereka tidak mampu berkutik saat pasukan bersenjata menyergap area perkebunan. Namun demikian, pihak kepolisian terus mengejar sosok penyandang dana di balik ladang raksasa ini.
Sementara itu, Kepala BNNP Aceh, Dedy Tabrani, menyampaikan keterangan resmi di Banda Aceh pada Rabu. Beliau membeberkan titik koordinat ladang haram tersebut secara terperinci. Lokasi perkebunan persis berada di Dusun Alue Garut dan Dusun Cot Mancang. Kedua dusun tersebut berada di Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Lebih lanjut, pelaku sengaja memilih medan terjal agar kendaraan tidak bisa melintas. Alhasil, para pembuat ladang merasa aman menjalankan bisnis gelap selama berbulan-bulan.
“Tim gabungan kami menggerebek ladang raksasa ini pada Selasa (27/10/2026),” tegas Dedy. Perencanaan operasi serbuan ini berjalan sangat matang dan terukur. Kemudian, petugas menyerahkan keempat terduga petani kepada penyidik Polres Lhokseumawe. Pihak kepolisian langsung menjalankan pemeriksaan intensif serta penyelidikan secara mendalam. Dedy mengonfirmasi kabar penyerahan ini kepada awak media pada Rabu (28/10/2026).
Oleh sebab itu, penyerahan para tersangka bertujuan memperkuat konstruksi hukum penyidikan. Di samping itu, tim penyidik menginterogasi para pelaku demi membongkar alur distribusi. Polisi ingin mengendus pasar utama sasaran hasil panen ladang raksasa tersebut.
Kendati demikian, aparat penegak hukum tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Keempat pria ini masih berstatus hukum sebagai terduga pelaku. Maka dari itu, jaksa wajib membuktikan peran spesifik setiap tersangka dalam persidangan resmi.
Lantas, bagaimana para petugas gabungan membongkar rahasia kelam ladang ganja seluas 18 hektare ini?
Ternyata, pengerahan 90 personel gabungan menjadi kunci sukses keberhasilan operasi ini. Pasukan tangguh ini menggabungkan BNNP Aceh, Polda Aceh, Satuan Brimob, dan Polres Lhokseumawe. Selain itu, para petugas harus menembus belantara lebat dan menaiki perbukitan terjal. Pasukan pantang menyerah demi mencapai tempat penyemaian ribuan pohon ganja tersembunyi ini.
Berdasarkan analisis lapangan, lokasi ladang berdiri pada ketinggian 207 meter di atas permukaan laut. Lebih mengejutkan lagi, ribuan pohon ganja tumbuh sangat subur di lokasi. Tanaman terlarang tersebut rata-rata mencapai tinggi satu hingga dua meter. Hal ini menandakan bahwa para pengelola merawat perkebunan ini secara berkala.
Di sisi lain, para pelaku menerapkan jarak tanam sekitar setengah meter saja. Teknik ini bertujuan memaksimalkan kapasitas penggunaan lahan hutan. Lebih jauh lagi, petugas memprediksi usia tanaman berkisar dua hingga empat bulan. Artinya, ribuan batang pohon ganja tersebut sudah sangat siap panen.
Menariknya, Dedy Tabrani mengaitkan keberhasilan pengungkapan besar ini dengan momentum Hari Sumpah Pemuda. Pembongkaran ladang bernilai miliaran rupiah ini membawa pesan moral yang sangat kuat bagi publik.
“Kami menyelaraskan penindakan ini dengan semangat membara Hari Sumpah Pemuda,” kata Dedy. Langkah ini membuktikan komitmen BNNP Aceh dalam membendung ancaman bahaya narkoba. Selanjutnya, BNNP Aceh ingin mewujudkan Tanah Aceh yang bersih dari peredaran gelap narkotika.
Oleh karena itu, BNNP Aceh mengajak pemuda lokal mengambil peran sebagai pelopor antinarkoba. Generasi muda wajib membentengi lingkungan sosial mereka masing-masing dari pengaruh zat adiktif.
“Pemuda Aceh harus memimpin gerakan antinarkoba di keluarga, sekolah, kampus, hingga gampong,” seru Dedy. Maka dari itu, beliau meminta para pemuda merapatkan barisan bersatu melawan narkoba. Pemuda wajib mengukir masa depan Aceh yang produktif, sehat, dan bersih.
Di samping itu, Dedy menegaskan bahwa penggerebekan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNN. Pihaknya terus menggemakan Gerakan Desa Bersih Narkoba (Bersinar) di seluruh pelosok daerah.
“Kami tidak cuma menindak peredaran gelap di hilir, tetapi juga memusnahkan sumber produksi di hulu,” pangkas Dedy. Oleh sebab itu, BNNP Aceh terus memperkuat sinergi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



