BANYUWANGI, Checkbind.com – Selama bertahun-tahun, industri pengalengan ikan di Indonesia harus gigit jari karena ketergantungan besar terhadap kaleng impor. Namun, kabar gembira kini datang dari Banyuwangi! PT Sunrise Masami Internasional akhirnya berani mengambil langkah berani dengan membangun pabrik kaleng sendiri. Perusahaan menggelontorkan investasi fantastis mencapai Rp 200 miliar demi memutus rantai ketergantungan yang selama ini membelenggu industri dalam negeri.
Pabrik pengolahan ikan raksasa di Banyuwangi ini tidak main-main dalam mewujudkan kemandirian industri. Perusahaan menggandeng mitra strategis dari Tiongkok untuk memproduksi komponen kaleng secara utuh, mulai dari badan kaleng (body) hingga tutup kaleng yang selama ini masih berasal dari produk impor. Terobosan ini jelas menjadi angin segar bagi industri makanan nasional yang selama ini harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mengimpor bahan kemasan.
Selama Ini 100 Persen Kaleng Masih Impor, Kini Berubah Total!
Direktur pemasaran PT Sunrise Masami Internasional, Sherly Indrawati Aminoto, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa selama ini perusahaan masih mendatangkan hampir 90 hingga 100 persen kebutuhan komponen kaleng dari luar negeri. Bayangkan, betapa besar devisa yang mengalir ke negara lain hanya untuk memenuhi kebutuhan kaleng!
Namun, kondisi memprihatinkan itu kini mulai berubah drastis. Perusahaan mulai membangun rantai pasok dari hulu agar tidak lagi bergantung pada impor. Sherly pun menjelaskan bahwa selama ini perusahaan sebenarnya sudah memproduksi body kaleng, namun tutup kaleng masih menjadi momok yang menghantui karena teknologi pembuatannya tergolong rumit dan membutuhkan presisi tinggi.
“Kaleng itu sebenarnya terdiri dari dua industri berbeda, yaitu body dan tutup. Selama ini kami sudah memproduksi body, sekarang kami investasi membuat tutupnya karena justru di situlah nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar,” kata Sherly dengan penuh semangat, Jumat (3/7/2026).
Rp 200 Miliar Bukan Angka Main-Main, Ini Hasilnya!
Investasi sebesar Rp 200 miliar yang digelontorkan untuk pengembangan industri kaleng ini tentu bukan keputusan instan. Perusahaan melakukan kajian mendalam dan menyadari bahwa membangun industri hulu menjadi kunci untuk meraih keuntungan jangka panjang. Setelah pabrik kaleng beroperasi penuh, perusahaan tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga membidik pasar nasional hingga ekspor.
Yang lebih mencengangkan lagi, pabrik kaleng ini mampu memproduksi sekitar 50 juta unit setiap bulan atau setara dengan 600 juta kaleng per tahun! Bayangkan betapa besarnya kapasitas produksi yang mampu dihasilkan dari investasi Rp 200 miliar tersebut. Namun, menariknya, kapasitas sebesar itu saat ini masih seluruhnya terserap untuk memenuhi kebutuhan produksi perusahaan sendiri. Ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan kaleng untuk industri pengolahan ikan di Indonesia.
“Belum sempat dijual ke luar karena kebutuhan kami sendiri sudah habis terserap. Artinya kapasitas masih harus terus kita tambah,” ungkap Sherly dengan nada optimistis. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa pasar kaleng di dalam negeri masih sangat besar dan menjanjikan.
Ternyata Membuat Tutup Kaleng Lebih Sulit dari Body, Ini Alasannya!
Sherly kemudian membagikan fakta menarik bahwa memproduksi tutup kaleng bukanlah pekerjaan sederhana. Komponen tersebut justru menjadi bagian paling rumit dalam industri pengalengan karena membutuhkan teknologi presisi tinggi agar kemasan benar-benar kedap udara dan aman untuk produk pangan. Ini menjadi tantangan tersendiri yang selama ini membuat banyak industri memilih impor daripada memproduksi sendiri.
Perusahaan mengambil keputusan cerdas dengan memilih aluminium untuk tutup kaleng karena material ini menawarkan ketahanan korosi yang lebih baik dibanding material lain. Sementara itu, badan kaleng menggunakan material tin free steel (TFS) yang banyak dipakai industri makanan. Perusahaan meyakini kombinasi material ini mampu menghasilkan kemasan berkualitas tinggi yang menjaga kesegaran produk olahan ikan lebih lama.
Efisiensi 15 Persen Bikin Daya Saing Meningkat Drastis!
Perusahaan menjalankan seluruh proses produksi di dalam negeri dan berhasil menekan biaya produksi kaleng sekitar 10-15 persen dibanding saat perusahaan masih mengimpor kaleng dari luar negeri. Bayangkan, efisiensi sebesar itu tentu sangat signifikan bagi kelangsungan bisnis perusahaan!
Sherly menjelaskan bahwa efisiensi itu sekaligus memperkuat daya saing produk olahan ikan Indonesia di pasar internasional yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor perusahaan. Dengan biaya produksi yang lebih murah, produk olahan ikan Indonesia bisa bersaing lebih agresif di pasar global. Ini menjadi strategi jitu untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor dan mendongkrak perekonomian nasional.
Uang Berputar di Dalam Negeri, Ekonomi Indonesia Diuntungkan!
Selain mengurangi biaya, pembangunan industri hulu tersebut juga memberi dampak ekonomi yang lebih luas. Mengapa demikian? Karena nilai investasi, pembelian bahan baku, hingga aktivitas produksi semuanya berlangsung di Indonesia. Artinya, uang tidak lagi mengalir ke luar negeri untuk membeli kaleng impor.
“Kalau industrinya ada di dalam negeri, uangnya berputar di Indonesia, investasi tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya juga lebih besar,” katanya dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa kemandirian industri menjadi kunci untuk memperkuat fundamental ekonomi bangsa.
Serap Ratusan Tenaga Kerja, Target Ekspor Kaleng Menggiurkan!
Fasilitas produksi kaleng tersebut saat ini sudah menyerap sekitar 100-200 tenaga kerja. Seiring peningkatan kapasitas produksi, perusahaan memperkirakan jumlah pekerja masih akan terus bertambah. Ini berarti semakin banyak lapangan pekerjaan terbuka bagi masyarakat sekitar, sekaligus mengurangi angka pengangguran di Banyuwangi dan sekitarnya.
Ke depan, Sherly mengungkapkan bahwa perusahaan juga membuka peluang mengekspor produk kaleng sebagai komoditas tersendiri. Artinya, kaleng tidak hanya berfungsi sebagai kemasan produk olahan ikan, tetapi perusahaan juga bisa menjualnya sebagai produk jadi ke pasar internasional. Jika rencana ini terwujud, Indonesia berpeluang menjadi pemasok kaleng makanan bagi pasar internasional dan merebut posisi yang selama ini dikuasai oleh negara-negara seperti Tiongkok dan Thailand.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



