Libur MBG, Harga Pangan di Buleleng Turun Signifikan, Warga Akui Belanja Lebih Ringan

Diposting pada 5 views

BULELENG, Checkbind.com – Sejumlah harga bahan kebutuhan pokok di wilayah ini tampak menurun drastis. Momen ini bertepatan dengan masa libur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berlangsung.

Para ibu rumah tangga pun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Mereka merasakan langsung dampak positif dari penurunan harga ini terhadap dompet belanja harian mereka. Sungguh pemandangan yang menyegarkan di tengah hiruk-pikuk kebutuhan rumah tangga yang kerap membebani.

Salah satu warga yang merasakan manfaat ini adalah Farah Ferbiliana. Ibu rumah tangga asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini dengan antusias menceritakan pengalamannya. Menurutnya, harga daging ayam, ikan, dan telur kini turun cukup signifikan.

“Alhamdulillah, sekarang saya merasakan pengeluaran belanja harian saya lebih ringan dibanding sebelumnya,” ucapnya dengan wajah berseri, Selasa (30/6/2026).

Ia pun membeberkan perbandingan harga yang cukup mencolok. Daging ayam yang sebelumnya para pedagang banderol sekitar Rp 40.000 per kilogram, kini para pembeli bisa mendapatkan dengan harga sekitar Rp 35.000 per kilogram Lumayan, bukan?

Farah mengaku sebagai pelanggan setia pasar tradisional. Setidaknya tiga kali dalam seminggu, ia rutin menyambangi pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur. Karena intensitas belanjanya yang tinggi, ia pun cukup peka terhadap perubahan harga bahan pokok, baik saat naik maupun turun.

“Jadi saya benar-benar merasakan bedanya,” tambahnya sambil tersenyum.

Tak hanya daging ayam, komoditas lain juga ikut merosot. Harga ikan pindang misalnya, kini turun dari Rp 15.000 menjadi hanya Rp 9.000 saja. Wah, ini jelas kabar baik bagi pecinta ikan!

Sementara itu, untuk telur, Farah biasanya membeli Rp 20.000 untuk 10 butir. Kini, dengan uang yang sama, ia bisa mendapatkan telur dengan harga lebih murah, sekitar Rp 18.000 untuk jumlah yang sama.

Menurut dugaan Farah, penurunan harga ini kemungkinan besar berkaitan dengan berkurangnya permintaan pasar. Hal ini terjadi setelah program MBG berhenti sementara selama libur sekolah.

“Mungkin karena MBG libur, otomatis permintaan dari program itu berkurang. Yang penting harga tetap stabil dan jangan naik turun terlalu ekstrem. Soalnya ini sangat berpengaruh ke belanja rumah tangga. Alhamdulillah sekarang saya bisa belanja lebih hemat,” jelasnya optimis.

Data resmi dari Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disdagperinkopukm) Buleleng pun membenarkan fenomena ini. Berdasarkan catatan mereka, sejumlah komoditas pangan memang mengalami penurunan harga jika dibandingkan dengan akhir Mei 2026 lalu.

Yang paling mencolok adalah penurunan harga cabai. Cabai merah besar misalnya, turun drastis dari Rp 59.000 menjadi Rp 35.000 per kilogram. Bayangkan, hampir separuh harga! Hal serupa juga terjadi pada cabai merah keriting yang ikut merosot dari Rp 59.000 menjadi Rp 38.000 per kilogram.

Selain cabai, harga daging ayam ras juga turut serta dalam tren penurunan ini. Harganya bergerak turun dari Rp 40.000 menjadi Rp 36.000 per kilogram. Meski tak sedrastis cabai, penurunan ini tetap sangat berarti bagi kantong ibu rumah tangga.

Tak ketinggalan, komoditas telur ayam ras juga mencatatkan penurunan. Dari harga Rp 28.800, kini telur dibanderol Rp 27.200 per kilogram. Lumayan untuk menghemat pengeluaran harian, bukan?

Lantas, mengapa program MBG bisa libur?

Ternyata, program MBG di Kabupaten Buleleng, Bali, berhenti sementara selama masa libur sekolah 2026. Penghentian ini tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga mencakup penerima manfaat lain seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Rusdianto, selaku Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Buleleng, menjelaskan bahwa kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026. Pihaknya menerima surat edaran tersebut pada 17 Juni 2026 lalu.

“Kami melakukan distribusi MBG terakhir untuk peserta didik pada Jumat (12/6/2026),” jelas Rusdianto.

Sementara untuk kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, pihaknya melakukan penyaluran terakhir pada Senin (15/6/2026).

“Kami tidak melaksanakan seluruh kegiatan distribusi MBG selama liburan sekolah. Termasuk untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” tegas Rusdianto saat ditemui Jumat (19/6/2026) lalu.

Meski menghentikan distribusi, pihaknya tetap menjalankan aktivitas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seperti biasa. Rusdianto menyebut bahwa pihaknya belum mendapat kepastian kapan distribusi MBG akan kembali dimulai.

“Kami masih menunggu arahan dari pemerintah pusat untuk jadwal pelaksanaan,” imbuhnya.

Ia memperkirakan layanan akan kembali berjalan setelah kegiatan sekolah dimulai pada pertengahan Juli 2026 mendatang.

“Program ini tetap berjalan kok, hanya distribusinya yang libur selama sekolah libur,” pungkas Rusdianto mengakhiri penjelasannya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *