Harga Telur Merosot Drastis, Peternak Ayam Petelur Lampung Timur Terancam Rugi Besar

Diposting pada 4 views

LAMPUNG TIMUR, Checkbind.com — Wajah-wajah cemas kini menghiasi para peternak ayam petelur di Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Bukan tanpa alasan, usaha yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan mereka kini terancam roboh. Badai ekonomi menerjang tanpa ampun, dan mereka merasa semakin terpuruk.

Sudah tiga bulan lamanya harga telur di tingkat peternak terus merosot. Bayangkan, setiap hari harga semakin jatuh. Di sisi lain, biaya produksi justru melambung tinggi. Pakan ayam naik drastis bak roket yang melesat ke angkasa. Sungguh menyiksa hati para peternak. Mereka gelisah, cemas, dan penuh kekhawatiran.

Lebih parah lagi, permintaan pasar ikut melemas. Meskipun harga telur sudah dipangkas habis-habisan, pedagang dan konsumen tetap lesu. Mereka tidak kunjung menunjukkan minat beli yang meningkat. Kondisi ini jelas membuat para peternak ketar-ketir. Kerugian besar sudah mengintai di depan mata mereka.

Peternak Menjerit di Tengah Tekanan Ekonomi

Salah seorang peternak yang merasakan langsung pahitnya situasi ini bernama Masrokan. Dengan nada getir, ia mengungkapkan kondisi yang dialaminya. Harga telur di tingkat kandang saat ini hanya menyentuh angka Rp 23.000 per kilogram. Angka ini sungguh menyayat hati. Bandingkan dengan Maret 2026 lalu yang masih bertengger di Rp 27.000 per kilogram. Artinya, dalam tiga bulan terakhir harga merosot sekitar Rp 4.000.

“Coba bayangkan sendiri,” ujar Masrokan dengan suara lirih. “Sejak Maret sampai sekarang, harga telur di kandang kami terus merosot. Sekarang hanya Rp 23.000 per kilogram.” Ia mengucapkan kata-kata itu saat ditemui pada Selasa (30/6/2026) lalu.

Namun, penurunan harga bukan satu-satunya masalah. Biaya produksi justru melonjak sangat signifikan. Harga pakan ayam mengalami kenaikan yang cukup membebani. Per karung berisi 50 kilogram, harganya naik Rp 35.000 terhitung sejak Maret lalu. Tentu ini bukan angka yang bisa dianggap remeh.

“Yang paling memberatkan kami bukan cuma harga telur yang merosot,” keluhnya dengan nada prihatin. “Di saat yang bersamaan, harga pakan juga ikut naik Rp 35.000 per karung. Otomatis biaya produksi ikut melonjak tinggi.”

Keuntungan Tergerus, Peternak Kehilangan Harapan

Masrokan mengakui kondisi ini menggerus keuntungan mereka secara perlahan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah rasa waswas yang mulai menyelimuti sebagian besar peternak. Mereka khawatir usaha yang dibangun susah payah tidak akan mampu bertahan. Apalagi jika situasi buruk ini terus berlanjut.

“Bayangkan sendiri,” tuturnya dengan mata sembab. “Dengan harga jual serendah ini dan permintaan pasar yang sangat lesu, kami sudah merugi besar. Kalau kondisi ini berlarut-larut, banyak dari kami yang terancam gulung tikar.”

Ia pun berharap pemerintah segera turun tangan dan bergerak cepat. Intervensi pasar sangat mendesak untuk dilakukan. Tujuannya jelas, menyelamatkan harga telur agar kembali stabil.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata,” pungkasnya penuh harap. “Sebab kalau tidak ada intervensi serius, peternak kecil seperti kami akan semakin sulit bertahan.”

Pemerintah Diminta Segera Bertindak

Para peternak di Lampung Timur terus berdoa dan berharap kondisi pasar segera membaik. Mereka ingin harga telur kembali pada level yang tidak merugikan. Keseimbangan antara harga jual dan biaya produksi menjadi kunci utama. Tanpa keseimbangan itu, usaha peternakan ayam petelur akan terus terancam.

Sungguh ironis memang. Di satu sisi konsumen menikmati harga telur yang murah. Namun di balik itu semua, peternak berjuang mati-matian. Mereka bahkan nyaris kehilangan segalanya. Akankah ada tangan-tangan negara yang sigap menolong? Kita semua berharap pemerintah tidak tinggal diam. Solusi nyata harus segera diwujudkan demi nasib para peternak yang sedang terpuruk.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *