Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, Ratusan Bangunan Rusak dan 8 Warga Luka-Luka

Diposting pada 4 views

PALU, Checkbind.com – Sulawesi Tengah kembali bergetar hebat! Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/2026) siang, dan dampaknya langsung terasa di berbagai penjuru daerah.

Peristiwa alam mematikan ini tidak hanya menimbulkan kepanikan massal, tetapi juga meninggalkan jejak kerusakan yang cukup serius. Guncangan keras merusak puluhan rumah warga, melukai delapan orang, mengganggu layanan publik, dan bahkan merobohkan bagian-bangunan di fasilitas pendidikan serta infrastruktur penting.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan cepat merilis data terkini. Mereka mengonfirmasi bahwa gempa utama terjadi tepat pada pukul 11.27 Wita. Titik episentrumnya terletak sekitar 42 kilometer di tenggara Kota Palu, dengan kedalaman yang sangat dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Kedalaman yang relatif dekat dengan permukaan ini lah yang menyebabkan guncangannya terasa begitu kuat dan merusak.

Tak berhenti di situ, bumi Sulawesi Tengah masih terus bergemuruh. Hingga beberapa jam pasca gempa utama, BMKG mencatat sudah terjadi sedikitnya 21 kali gempa susulan. Kondisi ini tentu saja membuat warga semakin waspada dan cemas. Getaran hebat dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai kabupaten dan kota, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Poso, hingga wilayah Tojo Una-Una. Di mana-mana, kepanikan sempat melanda, dan banyak warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Delapan Warga Terluka, Dua Di Antaranya Alami Luka Berat!

Kabar duka datang dari Kabupaten Sigi. Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Palu melaporkan bahwa setidaknya delapan warga di wilayah tersebut harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka yang diderita pasca gempa.

Yang lebih memprihatinkan, dua di antara korban tersebut mengalami luka berat. Guncangan dahsyat menjatuhkan reruntuhan bangunan di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, sehingga dua warga menderita patah tulang dan benturan keras di bagian kepala. Sementara itu, enam korban lainnya mengalami luka ringan yang tersebar di tiga kecamatan berbeda, yakni Nokilalaki, Palolo, dan Sigi.

Muh Rizal, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, menyampaikan bahwa seluruh korban saat ini sudah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Torabelo Palolo. Pihaknya juga terus bergerak cepat. “Kami terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi intensif dengan BPBD, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya. Seluruh personel dan peralatan SAR kami siagakan penuh untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kondisi darurat,” tegas Rizal, Selasa. Syukurlah, hingga proses pendataan berlangsung, belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat peristiwa ini.

Rumah Rusak Bertambah Jadi 15 Unit, Warga Masih Ketakutan!

Di Kabupaten Parigi Moutong, jumlah kerusakan rumah warga terus bertambah seiring dengan berjalannya proses pendataan. Berdasarkan laporan terbaru dari BPBD Parigi Moutong hingga pukul 17.00 Wita, tim pendataan mencatat sudah 15 unit rumah yang mengalami kerusakan.

Kerusakan tersebut tersebar di beberapa desa, yaitu Desa Boyantongo, Desa Tolai, Desa Torue, dan Desa Sausu Trans. Dari data sementara, Desa Torue menjadi wilayah yang paling parah terdampak dengan sembilan unit rumah yang rusak. Meskipun begitu, BPBD memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Namun, trauma masih menghantui warga. Banyak dari mereka yang memilih untuk bertahan di luar rumah, bahkan hingga malam hari, karena masih ketakutan akan ancaman gempa susulan yang mungkin terjadi kapan saja. Selain bantuan logistik kebencanaan, terpal saat ini menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak untuk menutupi bagian-bangunan yang rusak dan atap yang bocor.

Rumah Sakit Anutapura Kocar-kacir, Pasien ICU Dievakuasi!

Guncangan keras juga sempat mengacaukan aktivitas pelayanan medis di RSUD Anutapura Palu. Suasana mencekam sempat terjadi saat para pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan harus segera berlarian menuju area terbuka sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.

Yang paling menegangkan adalah proses evakuasi pasien-pasien kritis yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU). Tim medis dengan sigap memindahkan mereka dari lantai empat menuju lantai dasar dan area Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dianggap lebih aman.

Direktur RSUD Anutapura Palu, dr Maria Rosa Da Lima Rupa, mengungkapkan bahwa seluruh prosedur evakuasi berjalan dengan baik, meskipun sempat ada kendala teknis. “Beberapa tabung oksigen jatuh dan mengalami kerusakan saat gempa terjadi,” ujarnya. Namun, ia bersyukur semua pasien berhasil dievakuasi dengan selamat sesuai prosedur tetap (protap).

Ia juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap setia mendampingi pasien. “Bayangkan, proses cuci darah masih berlangsung dengan mesin dan darah pasien masih tersambung. Namun, mereka tetap mendampingi dan tidak meninggalkan pasien saat gempa besar terjadi. Jiwa kemanusiaan yang luar biasa dari para petugas ini sungguh menginspirasi,” tuturnya dengan haru.

Kampus Untad dan Kantor Bupati Sigi Porak-poranda!

Gempa tidak hanya merusak pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan sejumlah fasilitas pendidikan dan perkantoran penting. Universitas Tadulako (Untad) Palu menjadi salah satu institusi pendidikan yang merasakan dampak paling signifikan.

Data awal dari pihak kampus mengungkapkan bahwa beberapa bangunan penting mengalami kerusakan. Getaran kuat merobohkan plafon, meretakkan dinding, melepas material pelapis bangunan, memecahkan kaca, dan mengganggu fasilitas videotron di Gedung Rektorat, Gedung Media Center (GMC), Auditorium, Rumah Sakit Untad, Fakultas Teknik, hingga Gelanggang Mahasiswa.

Rektor Untad, Prof Amar, dengan sigap memberikan pernyataan resmi. Ia memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. “Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa maupun korban luka yang dilaporkan akibat gempa,” katanya, Selasa. Kini, pihak kampus akan segera melakukan asesmen teknis menyeluruh untuk memastikan tingkat keamanan seluruh bangunan kampus sebelum digunakan kembali.

Selain kampus, Kantor Bupati Sigi juga ikut terkena imbasnya. Kabar simpang siur sempat beredar bahwa bangunan tersebut runtuh. Namun, Asyid, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sigi, segera meluruskan informasi tersebut.

“Kami minta informasi itu diralat. Bukan kantor bupatinya yang runtuh, tetapi plafon di bagian lobi kantor bupati yang ambruk dan sejumlah retakan muncul pada dinding bangunan,” jelas Asyid.

Jembatan Retak, Hotel Mewah, dan Kafe Hinggap Porak-poranda!

Dampak gempa rupanya juga menjalar ke berbagai infrastruktur dan bangunan komersial lainnya di Kota Palu. Kondisi ini semakin menunjukkan betapa besarnya kekuatan gempa yang mengguncang.

Salah satu akses vital, Jembatan III Palu, retak akibat guncangan dahsyat tersebut. Sebagai langkah antisipasi, petugas langsung menutup jembatan tersebut sementara untuk seluruh aktivitas lalu lintas, baik kendaraan maupun pejalan kaki, sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari tim ahli.

Di sektor perhotelan, dua hotel berbintang pun turut merasakan getaran dahsyat ini. Guncangan merusak plafon dan wastafel kamar mandi di Hotel Santika Palu. Sementara itu, Best Western Plus Coco Palu melaporkan adanya kerusakan pada lantai tangga yang terangkat akibat guncangan.

Tak hanya itu, sebuah kafe populer di Jalan Tanjung Manimbaya, Kecamatan Palu Selatan, juga mengalami nasib serupa. Guncangan merusak parah bagian depan bangunan kafe tersebut, membuat aktivitas usaha harus terhenti sementara.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah bersama BPBD, SAR, TNI, Polri, dan seluruh instansi terkait masih terus bergerak di lapangan. Mereka terus melakukan asesmen dan pendataan lanjutan agar seluruh dampak gempa M 6,7 ini segera mereka atasi dan tangani dengan cepat.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *