PALEMBANG, Checkbind.com – Gawat darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan kini memasuki fase kritis! Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan sigap mengerahkan armada helikopter patroli dan helikopter penyiram air alias water bombing ke Provinsi Sumatera Selatan. Mengapa langkah secepat ini diambil? Tujuannya jelas: untuk memitigasi sekaligus menghentikan penyebaran 24 titik api yang tiba-tiba muncul dan terdeteksi di berbagai wilayah Sumsel.
Langkah berani ini bukan tanpa alasan. Sebagian besar titik api berada di lokasi terpencil yang sulit dijangkau tim darat, karena itu BNPB ingin mempercepat penanganan karhutla. Dengan kata lain, tanpa bantuan udara, api akan semakin sulit dikendalikan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa operasi udara kini menjadi senjata utama dalam merespons situasi kebakaran yang terus berkembang secara dinamis. “Berdasarkan data terkini per Selasa (9/6/2026), tim kami mencatat akumulasi 24 titik api di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Karena itu, BNPB terus mengucurkan dukungan operasi udara berupa helikopter patroli dan helikopter water bombing guna mempercepat upaya pengendalian kebakaran,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).
Mengapa Operasi Udara Jadi Andalan BNPB?
Lalu, mengapa operasi udara menjadi sangat penting dalam penanganan karhutla kali ini? Abdul membeberkan alasannya. Penyiraman air dari udara memainkan peran yang sangat krusial, terutama ketika kobaran api melahap hutan di lokasi yang sulit diakses petugas darat. Selain faktor geografis yang ekstrem, luasnya area terdampak juga turut mempengaruhi pertimbangan utama yang tidak bisa diabaikan tim di lapangan.
Catatan mengejutkan datang dari data akumulasi sejak awal tahun hingga 8 Juni 2026. Kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 182,54 hektare di Sumatera Selatan. Angka ini langsung membunyikan alarm bahwa eskalasi kebakaran sudah memasuki tahap yang membutuhkan penanganan super cepat dan terkoordinasi. Dengan mengerahkan helikopter water bombing, proses pemadaman bisa langsung menyasar titik api tanpa harus menunggu akses darat terbuka. Hasilnya? Api bisa dipadamkan lebih cepat sebelum menjalar ke area yang lebih luas.
Bagaimana Kondisi Karhutla di Wilayah Lain di Sumatera? Jangan Tidur!
Jangan senang dulu, karena Sumatera Selatan bukan satu-satunya daerah yang panas. Kebakaran hutan dan lahan juga melaporkan kobaran api di beberapa wilayah lain di Pulau Sumatera, seperti Riau dan Aceh. Kondisinya beragam, ada yang sudah mulai reda, tapi ada juga yang masih cukup mengkhawatirkan.
Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, kebakaran hebat sebelumnya menghanguskan sedikitnya 98 hektare lahan yang tersebar di dua kecamatan. Namun, berbeda dengan Sumsel, penanganan di wilayah ini lebih difokuskan pada operasi darat. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berkolaborasi dengan TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan untuk mengoptimalkan penggunaan dua unit mesin pompa air. Hasilnya? Sekitar separuh dari total area yang terbakar di Nagan Raya, tim gabungan berhasil mengendalikan apinya. Lumayan, tapi masih ada pekerjaan rumah besar.
Lalu bagaimana dengan Riau? Kabar baik datang dari Provinsi Riau yang relatif lebih terkendali. Di sana, tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran lahan seluas dua hektare sepenuhnya. Abdul Muhari menambahkan bahwa kesiapan mesin pompa darat dan patroli udara harus berjalan secara simultan. Tanpa sinkronisasi, tim tidak akan merespons kebakaran secara efektif. Jadi, kunci utamanya adalah kerja sama antara langit dan bumi.
Peringatan BMKG: Musim Kemarau Makin Menyengat, Siap-siap!
Yang tidak kalah penting, kita perlu menyimak prediksi BMKG terkait musim kemarau tahun ini. Jangan sampai panik, tapi tetap waspada! Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Indonesia saat ini mulai memasuki periode kekeringan yang semakin meluas. Hingga akhir Mei 2026, tim BMKG mencatat sekitar 200 zona musim atau 11,83 persen wilayah daratan sudah mengalami kondisi kering. Apa tandanya? Perubahan warna kecokelatan pada peta iklim nasional—pemandangan yang tidak ingin kita lihat lebih lama.
Pada bulan Juni ini, BMKG memproyeksikan jumlah zona kering akan meningkat signifikan dengan tambahan 198 zona musim baru. Artinya, sekitar 31,6 persen luas daratan akan ikut mengering. Wilayah yang terdampak mencakup DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Pulau Kalimantan. Bayangkan, ibu kota pun ikut terdampak!
Memasuki Juli, perluasan musim kemarau diprediksi akan kembali melanda 66 zona musim lainnya. Daerah-daerah seperti Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara juga akan merasakan hawa panas yang lebih ekstrem.
Tapi tunggu dulu, ada kejutan! BMKG juga mendeteksi adanya anomali lokal di beberapa wilayah yang justru mengalami kondisi lebih basah dari biasanya. Di tengah musim kemarau, sekitar tujuh zona musim atau 0,68 persen wilayah daratan memiliki curah hujan di atas normal. Daerah mana saja itu? Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur justru mendapat jatah hujan ekstra. Fenomena alam memang penuh kejutan!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



