Krisis Air Sungai Juwana, Nelayan Pati Stop Melaut dan Petani Was-was Gagal Panen

Diposting pada 5 views

PATI, Checkbind.com — Air Sungai Juwana atau masyarakat menyebutnya Sungai Silugonggo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini hampir habis. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi ini mengering total.

Kondisi ini langsung menghantam keras mata pencaharian ratusan nelayan dan membuat petani ketar-ketir membayangkan sawah mereka hangus tanpa hasil.

Sedikitnya ratusan nelayan di sepanjang Sungai Juwana memilih berhenti mencari ikan karena debit air yang terus menyusut.

Di sisi lain, ancaman gagal panen atau puso membayangi ribuan hektare lahan persawahan di sepanjang aliran sungai.

Suwarno (54), nelayan asal Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Pati, mengatakan kondisi Sungai Juwana yang mengering bukan kali pertama ia saksikan.

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir fenomena serupa sudah muncul dua kali dan setiap kejadian sangat memukul pendapatan nelayan.

“Dampaknya buat nelayan semenjak dua tahun ini sangat terasa, penghasilan kami turun drastis. Air surut begini, kami benar-benar enggak bisa bekerja,” kata Suwarno.

Ia menyebutkan, ada sekitar 300 nelayan yang biasa beraktivitas di sepanjang Sungai Juwana, mulai dari Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, hingga Desa Koseam, Kecamatan Gabus.

Para nelayan tersebut biasanya menangkap sejumlah jenis ikan air tawar, seperti ikan lundu, kutuk, dan jepet.

Dalam kondisi normal, mereka bisa memperoleh sekitar lima kilogram ikan dalam sehari.

“Pendapatan kami sekitar Rp50.000 sampai Rp100.000 dalam satu hari. Biasanya kami dapat ikan lundu, kutuk, jepet. Kurang lebih sehari bisa lima kilo,” ujarnya.

Dampak mengeringnya Sungai Juwana

Dampak kekeringan Sungai Juwana tidak hanya menimpa nelayan. Para petani yang mengandalkan air sungai untuk mengairi sawah juga mulai cemas.

Sugiyono (77), petani asal Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, mengatakan kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena sebagian besar petani baru memasuki masa tanam.

Ia mengatakan, tanaman padi yang baru berusia sekitar satu minggu hingga satu bulan sangat membutuhkan pasokan air. Jika tanaman tidak segera mendapat suplai, mereka berpotensi mengalami kekeringan dan gagal panen.

“Dampaknya, petani semuanya berpotensi gagal total. Padahal umur padi baru satu minggu sampai satu bulan,” kata Sugiyono.

Ia berharap pemerintah segera mengupayakan suplai air dari waduk untuk mengatasi kekeringan di Sungai Juwana. Salah satu sumber air yang menurutnya potensial adalah Waduk Kedung Ombo maupun Waduk Logung Kudus.

Sugiyono menambahkan, kebutuhan air semakin mendesak karena petani menggunakan ribuan pompa untuk mengairi sawah melalui sistem pompanisasi dari Sungai Juwana.

“Kalau bisa dari Kedung Ombo, supaya kami bisa menangkal kekeringan ini. Irigasi kami mengandalkan sungai ini. Air bendung karet mengalir sampai ke Juwana, tapi sekarang debitnya banyak berkurang,” jelasnya.

Ia juga meminta pemerintah menyesuaikan pengelolaan Bendung Karet di Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, dengan kondisi debit air agar tetap memenuhi kebutuhan pertanian.

Ancaman gagal panen juga berarti risiko kerugian besar bagi petani. Sugiyono memberikan gambaran, biaya produksi sawah seluas 0,88 hektare yang ia kelola mencapai sekitar Rp13 juta.

Jika ia menyewa lahan, biaya yang ia keluarkan bahkan bisa melonjak hingga lebih dari Rp20 juta per tahun.

“Kalau panen normal, hasilnya Rp35 juta sampai Rp40 juta. Setelah kami kurangi biaya produksi, sisanya sekitar Rp17 juta. Itu belum termasuk tenaga pribadi, kami tidak menghitungnya,” ungkapnya.

Penggelontoran air dari waduk ke Juwana

Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum kekeringan semakin meluas dan membuat ribuan hektare tanaman padi mengalami puso.

Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mengatakan kekeringan Sungai Juwana kali ini muncul setelah pemerintah membangun Bendung Karet di Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.

Ia menilai keberadaan bendung tersebut belum mampu mengatasi persoalan kekeringan. Bahkan, ia menilai kondisi saat ini justru menjadi ancaman baru bagi nelayan dan petani yang menggantungkan kehidupan pada Sungai Juwana.

“Proyek bendung karet ini lumpuh dan tidak berdaya menghadapi kekeringan. Ia tidak mampu menahan air, tetapi faktanya justru menjadi ancaman baru bagi nelayan dan petani yang berisiko kehilangan modal,” tegas dia.

Ari mendesak pemerintah segera melakukan langkah darurat untuk menyelamatkan sektor pertanian. Menurutnya, langkah paling mendesak adalah penggelontoran air dari waduk ke Sungai Juwana.

“Tuntutan kami jelas. Pertama, yang paling darurat, pemerintah harus menggelontorkan air dari Waduk Logung agar petani tidak berisiko gagal panen. Pasalnya, ribuan hektare lahan baru saja petani tanami dan sangat haus air,” pungkasnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *