BLITAR, Checkbind.com – Pekan ini menjadi momen tak terduga bagi para pemburu kebutuhan pokok di Kota Blitar, Jawa Timur. Pasar tradisional mendadak berubah panggung, di mana harga telur dan daging ayam justru tampil sebagai bintang dengan atraksi penurunan harga yang bikin kantong lega. Dalam hitungan hari, kedua komoditas protein hewani ini merosot drastis, menyisakan pertanyaan besar di benak para pedagang dan pembeli.
Telur ayam memimpin penurunan dengan terjun bebas sekitar 23 persen lebih. Jika sebelumnya warga harus merogoh kocek Rp 26.000 per kilogram, kini angka itu meluncur ke kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram. Bayangkan, dalam seminggu, selisihnya cukup untuk nambah jajanan anak sekolah! Namun, daging ayam melakukannya dengan lebih ekstrem lagi. Komoditas ini turun hampir 29 persen dari harga puncak Rp 33.000 hingga Rp 35.000 per kilogram, kini hanya tersisa Rp 26.000 per kilogram. Sungguh kabar gembira yang jarang terjadi!
Agus, pedagang sayur dan bumbu dapur yang setiap hari beraktivitas di Pasar Templek, Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengaku takjub dengan fenomena ini. “Harga telur terus merosot sudah sekitar semingguan. Tapi, puncaknya tiga hari lalu sampai sekarang, penurunannya terasa sangat signifikan,” ungkapnya dengan nada heran saat ditemui pada Selasa (30/6/2026). Ia menambahkan, di tingkat peternak pun, situasi tak jauh berbeda. Harga telur kini hanya di angka Rp 17.000 per kilogram, jauh dari sebelumnya yang tembus Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram. Karena itu, Agus pun hanya bisa menjual telur ke konsumen dengan banderol Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kilogram. Ia tak menyangka, tren ini berlangsung begitu cepat tanpa peringatan.
Cerita serupa juga datang dari Rina, pedagang daging ayam di Pasar Legi, Kelurahan Sukorejo, yang merasakan getaran penurunan lebih dari sepekan lalu. “Sudah lama daging ayam itu harganya di atas Rp 30.000 per kilogram. Bahkan, bisa mencapai Rp 35.000 atau bahkan lebih. Tapi sekarang turun drastis,” jelasnya sambil terus melayani pembeli. Saat ini, Rina menjual daging ayam seharga Rp 26.000 per kilogram, turun signifikan dari pekan sebelumnya yang masih di angka Rp 32.000 hingga Rp 33.000 per kilogram. Pembeli pun tampak lebih antusias, karena mereka bisa mendapatkan protein berkualitas dengan harga yang jauh lebih bersahabat.
Meski penurunan ini dirasakan langsung, baik Agus maupun Rina sama-sama mengaku bingung dengan penyebab pastinya. Mereka tak bisa memastikan apakah momen ini terkait dengan liburnya operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam penyediaan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, atau ada faktor lain yang lebih kompleks. “Yang jelas, stok melimpah dan harga turun. Kami hanya bisa mengikuti arus,” ujar Agus sembari mengangkat bahu. Ketidakpastian ini justru menjadi perbincangan hangat di antara para pedagang.
Yang menarik, efek penurunan ini tak hanya berhenti di telur dan daging ayam. Hampir semua komoditas bumbu dapur di Blitar juga ikut melorot! Sutinah, pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Legi, mengamati perubahan ini dengan saksama. Cabe rawit kualitas terbaik, misalnya, kini dijual hanya Rp 35.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya harga cabe rawit ini stabil di kisaran Rp 40.000 hingga Rp 45.000 per kilogram. “Ini sudah lebih dari tiga hari harganya turun. Wah, pembeli pasti senang!” seru Sutinah.
Tidak hanya cabe rawit, cabe merah besar di lapaknya juga ikut merosot menjadi Rp 25.000 per kilogram, setelah sebelumnya bertengger di Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Bawang merah juga tak luput dari penurunan, sekitar Rp 5.000 per kilogram. Harga bawang merah yang biasa Rp 45.000 hingga Rp 50.000, sekarang turun menjadi Rp 40.000 per kilogram. “Semua bumbu dapur turun, kecuali bawang putih yang malah naik,” keluhnya.
Memang, di tengah euforia penurunan harga, bawang putih justru menjadi pengecualian. Komoditas ini mengalami kenaikan dari Rp 33.000 hingga Rp 35.000 per kilogram menjadi Rp 40.000 per kilogram. Sutinah menduga, lonjakan ini terjadi karena nilai tukar rupiah yang melemah, mengingat bawang putih sebagian besar masih merupakan produk impor. “Biasanya kalau rupiah melemah, harga barang impor seperti bawang putih langsung terpengaruh,” ujarnya dengan analisis sederhana.
Di sisi lain, Agus mencoba meramu penjelasan atas penurunan harga bumbu dapur. Ia menduga, fenomena ini terjadi karena peningkatan produksi petani di awal musim kemarau. “Biasanya kalau awal musim kemarau hasil panennya bagus. Tanaman tidak terganggu oleh air hujan yang berlebihan, sementara pasokan air irigasi masih cukup,” pungkas Agus. Cuaca yang mendukung membuat hasil panen melimpah, sehingga pasokan di pasar melonjak dan harga pun otomatis turun.
Dengan situasi seperti ini, masyarakat Blitar tentu bisa bernapas lega. Namun, tetap perlu bijak dalam berbelanja, karena dinamika pasar bisa berubah kapan saja. Pantau terus perkembangan harga agar tidak ketinggalan momen, dan nikmati kejutan manis dari pasar tradisional!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



