BANDA ACEH, Checkbind.com – Suasana belajar di pelabuhan berubah menjadi mimpi buruk! Sebuah ledakan keras mengguncang kamar mesin Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 2 yang sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Musibah ini melukai 14 taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati. Setelah ditelusuri, petugas menduga kuat tabung hidrolik menjadi biang kerok utama kejadian mengerikan ini.
Pada saat insiden terjadi, kepala kamar mesin (KKM) tengah memandu belasan taruna dalam praktik lapangan. Mereka asyik mengenal komponen kapal. Namun, tiba-tiba satu unit pompa hidrolik meledak di depan mata mereka. Api pun tidak muncul, tetapi tekanan ledakan serta serpihan kecil menyebabkan luka-luka pada 14 orang yang berdiri di sekitar lokasi.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati, Amfami, langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian. Ia menjelaskan kronologi lengkap peristiwa itu kepada awak media di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh. “Kapal itu baru datang dari Sabang pukul 09.40 WIB. Kemudian, tepat pukul 11.13 WIB, ledakan terjadi. Alhamdulillah, seluruh penumpang sudah turun semua. Jadi tidak ada korban sipil dalam insiden ini,” ujarnya dengan nada lega meski masih syok.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang mesin usai kapal berlabuh? Amfami melanjutkan ceritanya. Setelah kapal merapat, kepala kamar mesin yang juga berperan sebagai instruktur mengajak para taruna untuk turun ke bawah. Tujuannya sangat positif: mereka ingin mempraktikkan ilmu secara langsung, bukan hanya menghafal teori di kelas. “Sayangnya, di tengah sesi pengenalan itulah, satu unit tabung hidrolik tiba-tiba meledak. Kami belum tahu penyebab pastinya. Kami serahkan investigasi lebih mendalam kepada pihak kepolisian,” tambah Amfami.
Dari total 16 taruna yang berada di atas kapal, 14 orang memilih berada di kamar mesin. Dua lainnya selamat karena bertugas di bagian atas kapal. “Para taruna tidak asal diajak turun. Mereka mematuhi jadwal belajar yang sudah disusun rapi. Proses pelatihan pun berjalan sesuai SOP. Instruktur dan awak kapal mengawasi mereka secara ketat,” tegas Amfami. Ia ingin meluruskan anggapan bahwa pengawasan berjalan longgar.
Kondisi KMP Aceh Hebat 2 ternyata masih tergolong baik. Masyarakat mungkin membayangkan kerusakan parah, tapi kenyataannya tidak demikian. “Kondisi kapal baik-baik saja. Hanya satu unit pompa hidrolik itu yang bermasalah. Kapal sebenarnya masih bisa berlayar kapan saja. Namun, kami menghentikan operasional sementara. Kami menunggu proses investigasi dari kepolisian hingga tuntas,” pungkas Amfami. Dengan kata lain, mesin utama kapal sama sekali tidak mengalami gangguan.
Insiden ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan pelayaran di Indonesia. Para taruna memang perlu praktik lapangan, tapi keselamatan kerja harus tetap menjadi prioritas utama. Keluarga para korban kini terus mendampingi mereka di rumah sakit. Doa dan dukungan mengalir deras dari berbagai pihak. Publik pun berharap agar insiden serupa tidak terulang lagi di masa depan. Investigasi yang transparan dan tindakan pencegahan yang ketat menjadi tuntutan bersama setelah musibah ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



