JAMBI, Checkbind.com – Satresnarkoba Polres Kerinci berhasil menggagalkan aksi pengedaran sabu-sabu setelah meringkus DR alias Breng (33) di Desa Koto Tinggi, Sungai Penuh. Yang bikin heboh, pelaku mengaku mendapatkan barang haram itu dari seorang narapidana di Lapas Muara Sabak bernama Endang!
“Dia baru empat bulan beroperasi, tapi sudah punya jaringan cukup rapi,” tegas Kasat Narkoba Polres Kerinci, Iptu Yandra Kusuma, saat dikonfirmasi Senin (21/7/2025). Yang lebih mengejutkan, DR memakai sistem COD (Cash on Delivery) dan pembayaran digital untuk mengelabui petugas.
Polisi Sita 17 Paket Sabu & Peralatan Lengkap
Dalam penggerebekan Rabu (16/7/2025), petugas menemukan 17 paket sabu dengan berat total 17,53 gram—mulai dari ukuran kecil hingga besar. Tak hanya itu, mereka juga menyita sejumlah barang bukti lain yang bikin mata melotot:
- Timbangan digital untuk menakar jualan
- Klip plastik & lakban sebagai pembungkus
- Pipet, kaca pirek, dot karet untuk konsumsi
- Bong, korek api, gunting, cutter sebagai alat pendukung
- HP Vivo Y16 untuk transaksi
- Tas selempang & jinjing untuk mengangkut barang
“Ini bukti pelaku sangat terorganisir,” tegas Yandra.
Lapas Muara Sabak Beri Pernyataan Tegas
Merespons kasus ini, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, Muda Husni, langsung buka suara. “Kami sangat menyesalkan keterlibatan WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) dalam kasus ini,” tegasnya.
Meski rutin menggelar razia dan sidak, Muda mengakui bahwa peredaran narkoba dari dalam penjara semakin sulit dibendung. “Kami sering menemukan HP ilegal, tapi modus mereka makin canggih,” ujarnya.
Namun, dia menegaskan komitmen untuk memperketat pengawasan. “Jika ada petugas yang terlibat, kami tidak akan diam! Sanksi tegas sudah menanti,” tegas Muda.
Pelaku Pakai Sistem Digital untuk Hindari Deteksi
DR ternyata tidak pakai cara lama. Dia memilih sistem tempel (penitipan barang) dan transfer via dompet digital supaya sulit dilacak. “Ini tantangan baru bagi kami,” aku Yandra.
Fakta lain yang bikin kaget: DR ternyata baru empat bulan jadi pengedar, tapi sudah punya banyak pelanggan. “Dia cepat berkembang karena sistemnya rapi,” imbuh Yandra.
Lapas Bantah Jadi Sarang Narkoba
Muda Husni menegaskan bahwa Lapas Muara Sabak bukan markas narkoba. “Kami terus bekerja sama dengan polisi. Jika ada info baru, kami siap membantu,” tegasnya.
Tapi, dia mengakui bahwa beberapa narapidana masih nekat cari celah. “Kami butuh dukungan semua pihak untuk memutus rantai ini,” ucap Muda.
Narkoba Masih Bisa Keluar-Masuk Penjara?
Kasus ini memperlihatkan betapa narkoba masih bisa beredar di balik jeruji. Meski pengawasan diperketat, jaringan gelap ternyata punya banyak akal.
“Kami tidak akan berhenti melakukan razia,” janji Muda.
Dari kasus ini, jelas bahwa perang melawan narkoba harus melibatkan semua pihak. Polisi, lapas, dan masyarakat wajib bersatu untuk memutus peredaran sabu.
Nah, gimana menurutmu? Perlu teknologi canggih untuk pantau narapidana? Atau hukuman lebih berat yang dibutuhkan?
Dapatkan Berita Terupdate Lainnya di Exposenews.id



