Checkbind.com – Pemerintah Kabupaten Sleman, DIY, kini semakin intensif memperkuat langkah mitigasi bencana. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih bertahan di Level III (Siaga) memicu langkah cepat ini. Tim pemerintah pun terus menggenjot berbagai persiapan matang. Mereka ingin mengantisipasi potensi peningkatan risiko erupsi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman langsung mengoptimalkan mitigasi secara struktural dan nonstruktural pada Selasa (8/9/2026). Kedua pendekatan ini mereka jalankan secara paralel untuk memaksimalkan perlindungan masyarakat. Berbagai persiapan ini dirancang berdasarkan data terkini dari pusat vulkanologi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, menyampaikan kondisi terkini dengan gamblang. Menurutnya, aktivitas Merapi masih sangat dinamis dan sulit ditebak. Fakta di lapangan membuktikan hal ini. Kita masih sering menyaksikan guguran material vulkanik dan luncuran awan panas yang terjadi secara berkala. Tingginya aktivitas vulkanik ini menandai situasi genting. Kami mencatat guguran material mencapai 120 kali per hari. Belum lagi awan panas yang meluncur periodik. Angka ini menuntut kesiapsiagaan maksimal dari seluruh pemangku kepentingan. “Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat,” tegas Bambang. “Aktivitasnya masih fluktuatif. Setiap hari kami mencatat puluhan hingga ratusan guguran. Oleh karena itu, kami terus mengoptimalkan langkah mitigasi. Kami tidak mau menunggu sampai potensi risiko ini melonjak ke status Tanggap Darurat,” tambahnya penuh penekanan.
Sementara itu, dalam mitigasi struktural, BPBD Sleman memprioritaskan pembenahan total berbagai fasilitas evakuasi dan sistem peringatan dini. Tim langsung terjun ke lapangan. Mereka melebarkan sejumlah jalur evakuasi yang sempit. Mereka juga membenahi ruas jalan yang rusak. Selain itu, petugas menangani tebing-tebing rawan longsor di sepanjang jalur pengungsian. Tak hanya infrastruktur fisik, BPBD Sleman juga memastikan seluruh Early Warning System (EWS) berfungsi optimal. Saat ini, wilayah Sleman memiliki 37 unit EWS. Sebanyak 34 unit tersebar di kawasan lereng Merapi. Tiga unit lainnya berada di Prambanan untuk memantau potensi luapan air atau overflow. “Kami secara rutin mengecek, memperbaiki, dan merawat semua EWS digital. Mulai dari sirene suara hingga kamera CCTV di lereng dan barak pengungsian,” jelas Bambang. Setiap unit EWS diuji coba secara berkala oleh petugas untuk memastikan keandalannya.
Di sisi lain, BPBD Sleman juga serius mempersiapkan kemungkinan evakuasi massal. Mereka memastikan kondisi barak pengungsian layak huni. Petugas menyiapkan berbagai kebutuhan dasar masyarakat. Mereka mengumpulkan logistik pangan, seperti beras dan air minum. Mereka juga menyediakan logistik nonpangan, seperti selimut dan tenda. Selain itu, mereka menimbun stok masker dalam jumlah besar. Masker ini penting untuk melindungi warga dari paparan abu vulkanik berbahaya. Seluruh jalur evakuasi telah dipetakan ulang oleh tim teknis guna menghindari kepadatan saat darurat.
Lebih lanjut, BPBD Sleman juga memperkuat mitigasi nonstruktural melalui pendekatan edukasi. Mereka menggencarkan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara intensif. Sasaran utamanya adalah warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi. Tiga kecamatan utama menjadi fokus, yaitu Turi, Cangkringan, dan Pakem. BPBD juga menjalankan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah lereng Merapi. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapan warga sekolah. Mereka menggelar simulasi evakuasi secara rutin. Selain itu, petugas membagikan tas siaga bencana kepada warga secara bertahap. Tas ini berguna untuk menyimpan dokumen penting dan kebutuhan darurat saat evakuasi.
Sebagai langkah lanjutan, menghadapi aktivitas Merapi yang masih tinggi, BPBD Sleman memperkuat koordinasi lintas wilayah. Mereka rutin berkomunikasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Mereka juga berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Koordinasi ini sangat penting untuk mendapatkan data terkini. Selain itu, mereka mengaktifkan forum lingkar Merapi. Forum ini melibatkan empat kabupaten, yaitu Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten. Melalui forum ini, mereka saling berbagi informasi dan menyusun strategi bersama. Dengan kesiapan ini, diharapkan masyarakat tetap tenang namun waspada menghadapi ancaman.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



