Konvoi Pesilat Hambat Ambulans, Pasien Meninggal, PSHT Karanganyar Meminta Maaf

Diposting pada 7 views

KARANGANYAR, Checkbind.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Hadi Sukat (60). Ambulans yang membawa sang ayah terjebak di tengah konvoi pesilat. Kini Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Karanganyar Pusat Madiun, Sutarmo, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas insiden tragis tersebut.

Peristiwa nahas ini terjadi pada Sabtu (20/6/2026) pagi. Hadi Sukat tiba-tiba jatuh sakit. Keluarga pun segera memanggil ambulans. Mereka ingin melarikan pria berusia 60 tahun itu ke Puskesmas Karangpandan. Namun nasib berkata lain. Konvoi pesilat memadati jalan raya. Ambulans terhambat dua kali. Pertama saat menuju rumah pasien. Kedua ketika membawa pasien ke puskesmas.

Bayangkan betapa frustrasinya keluarga. Detik-detik kritis sang ayah terus berlalu. Ambulans terjebak di tengah lautan kendaraan. Akhirnya ambulans tiba di Puskesmas Karangpandan. Namun nyawa Hadi Sukat telah melayang. Tenaga medis mendapati pasien sudah tidak memiliki denyut nadi. Mereka langsung menyatakan pasien meninggal dunia. Sungguh pilu. Sebuah nyawa melayang hanya karena konvoi yang tidak perlu terjadi.

PSHT AKHIRNYA MEMINTA MAAF

Sutarmo selaku ketua cabang kemudian memberikan penjelasan. Pihaknya sebenarnya sudah berusaha mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum pelaksanaan pengesahan anggota baru, pengurus cabang mengeluarkan imbauan tegas. Mereka meminta seluruh anggota yang tidak berkepentingan langsung agar tetap di rumah. Bahkan mereka meminta anggota yang tidak bertugas untuk mendoakan kelancaran acara dari kediaman. Anggota tidak boleh ikut-ikutan konvoi di jalan.

Lebih lanjut Sutarmo menegaskan hal penting. Sejak awal pengurus berulang kali mengingatkan anggota. Mereka melarang konvoi kendaraan di jalan raya. Namun tampaknya imbauan tersebut tidak diindahkan. Beberapa oknum justru nekat menggeruduk jalanan.

Dengan nada penuh penyesalan, Sutarmo menyampaikan permohonan maaf. “Kami dari Pengurus Cabang PSHT Karanganyar turut berdukacita. Kami memohon maaf jika konvoi adik-adik kami menyebabkan kejadian ini,” ujarnya pada Senin (22/6/2026).

Meski demikian Sutarmo mengaku tidak tahu banyak. Ketika ditanya soal kabar “massa penggembira”, ia mengaku tidak mengetahui kronologinya secara rinci. Ia hanya bisa pasrah. Ia berharap pihak berwenang mengusut tuntas peristiwa ini.

KELUARGA KORBAN PILIH BUNGKAM

Dwi Purnamasari (36) adalah putri kedua almarhum Hadi Sukat. Ia memilih bungkam. Keluarga tidak memberikan tanggapan atas pernyataan PSHT Karanganyar. “Terkait pernyataan dari PSHT Karanganyar, kami tidak berkomentar,” ujar Dwi dengan nada datar pada Selasa (23/6/2026).

Menariknya Dwi mengungkapkan hal lain. Meski memilih bungkam terhadap permintaan maaf PSHT, keluarganya telah menerima kepergian sang ayah. Mereka mengikhlaskannya dengan lapang dada. “Kami sudah mengikhlaskan. Kami anggap kepergian ayah sebagai takdir,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dwi juga membongkar fakta menarik. Setelah pemakaman ayahnya, jajaran Polres Karanganyar datang. Mereka menyampaikan belasungkawa secara langsung. Dwi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menyampaikan uneg-unegnya kepada aparat.

“Kemarin polisi datang ke sini mengucapkan rasa duka. Saya memberikan uneg-uneg saya kepada mereka. Perlu ada evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” jelas Dwi dengan tegas.

POLISI SIAPKAN EVALUASI BESAR-BESARAN

Kapolres Karanganyar, AKBP Arman Sahti, juga angkat bicara. Ia berbicara dengan nada serius. Kepolisian akan melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka akan berkoordinasi dengan pengurus perguruan silat. Evaluasi ini penting pasca-kejadian nahas yang menimpa Hadi Sukat.

“Kami mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Hadi Sukat. Kami akan melaksanakan beberapa evaluasi,” kata Arman dengan nada penuh empati.

Arman mengungkapkan fakta mengejutkan. Sebelum kegiatan pengesahan anggota baru, kepolisian sudah melakukan rapat koordinasi. Mereka berkoordinasi dengan tim pengamanan internal perguruan silat. Mereka membahas pola pengamanan kegiatan secara matang. Kepolisian menerjunkan 750 personel gabungan. Sementara peserta pengesahan anggota baru berjumlah sekitar 730 orang.

Arman mengakui peserta kegiatan relatif tertib. Namun masalah muncul dari sisi lain. Perhatian petugas di lapangan lebih terfokus pada jalannya acara. Akibatnya pergerakan massa penggembira atau pengombyong kurang terpantau. Massa ini berasal dari dalam maupun luar daerah.

Petugas sebenarnya sudah memasang barikade di sejumlah ruas jalan. Mereka juga meminta peserta segera pulang setelah kegiatan berakhir. Namun massa pengombyong tetap nekat. Mereka melakukan konvoi kendaraan dalam jumlah besar. Mereka melintas di kawasan Jalan Solo-Tawangmangu yang menjadi jalur utama ambulans.

Kondisi memprihatinkan ini menyebabkan kemacetan parah. Akibatnya ambulans yang membawa pasien darurat menjadi terhambat. Nyawa melayang. Keluarga kehilangan orang tercinta. Semua karena oknum yang tidak bertanggung jawab.

Setelah kejadian tersebut, polisi bergerak cepat. Mereka mendatangi rumah duka. Mereka menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Langkah ini patut diapresiasi. Ini menunjukkan kepedulian aparat terhadap warga yang menjadi korban.

Arman juga mengingatkan seluruh pengguna jalan. Semua harus memberikan prioritas kepada ambulans. Ambulans sedang menjalankan tugas kemanusiaan. “Setiap pengguna jalan harus memberikan prioritas kepada ambulans. Itu karena keadaan darurat,” tegas Arman dengan nada mengingatkan.

Selain itu ia meminta seluruh elemen perguruan silat ikut menjaga keamanan. “Seluruh elemen perguruan silat di Karanganyar harus menjaga kondusivitas keamanan wilayah,” ungkapnya.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Konvoi yang tidak terkendali dapat berakibat fatal. Satu nyawa melayang. Keluarga kehilangan orang tercinta. Semua karena kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah. Semoga kejadian serupa tidak terulang. Semua elemen masyarakat harus lebih bijak di jalan raya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *