JAKARTA, Checkbind.com – Sosok wanita bernama Sari mendadak viral di berbagai media sosial. Pasalnya, warganet melontarkan tuduhan pedas kepadanya. Banyak pihak menjulukinya sebagai sosok mahasiswa bayaran. Kejadian ini berlangsung sewaktu ia menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda. Acara besar tersebut mengambil lokasi di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta Pusat. Akhirnya, wanita ini memberanikan diri untuk buka suara. Ia ingin meluruskan kabar liar yang beredar.
Selanjutnya, ia menyampaikan permohonan maaf yang sangat mendalam. Ia merasa sangat bersalah atas kegaduhan publik. Pasalnya, wanita tersebut nekat mengenakan jas almamater Universitas Bina Sarana Informatika. Ia memakai jaket biru kampus UBSI sepanjang agenda deklarasi.
Padahal, kenyataan sebenarnya justru sangat mengejutkan publik. Ternyata, ia bukan mahasiswa aktif kampus tersebut. Bahkan, ia tidak pernah menempuh pendidikan di kampus UBSI.
Kemudian, ia menyampaikan klarifikasi terbuka melalui sebuah tayangan video. Akun Instagram Keluarga Besar Mahasiswa UBSI Dewi Sartika (@kbm_ubsi.dws) membagikan video itu. Pengelola akun mengunggah rekaman video tersebut pada Sabtu (31/10/2026).
“Oleh karena itu, saya Sari Putri memohon maaf setulusnya. Saya meminta maaf kepada seluruh mahasiswa UBSI. Saya sangat menyesali polemik penggunaan almamater logo lama BSI,” tutur Sari. Wanita tersebut membaca naskah penyesalan dalam video pada Sabtu.
Dalam video singkat itu, empat orang mahasiswa mendampingi Sari secara langsung. Sari menyampaikan setiap kata dengan nada penyesalan. Jemari tangannya menggenggam ponsel pintar di sebelah kanan. Ia membaca deretan kalimat klarifikasi dari layar ponselnya.
“Bahkan, saya mempertegas pernyataan ini secara sadar. Saya menyatakan bahwa saya bukan mahasiswa aktif UBSI,” imbuh Sari menambahi penjelasan sebelumnya.
Lebih lanjut, Sari mengungkapkan rahasia yang sangat mencengangkan. Ia mengaku menerima jas almamater dari seseorang yang asing. Sosok tidak dikenal memberikan atribut kampus itu secara cuma-cuma.
Akibatnya, ia menyadari penuh dampak dari perbuatan sembrono tersebut. Kecerobohannya memakai jas almamater memicu timbulnya salah paham. Tindakan tersebut sangat merugikan nama baik institusi UBSI.
“Maka dari itu, tindakan dan ucapan saya tidak mewakili UBSI. Pernyataan saya tidak membawa sikap resmi institusi,” kata Sari menutup rekaman video klarifikasinya.
Pernyataan Resmi Pihak Kampus UBSI
Sementara itu, jajaran pimpinan UBSI langsung memberikan tanggapan tegas. Pihak rektorat menegaskan tidak pernah mengutus delegasi mahasiswa. Kampus juga tidak menerima surat undangan acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada Kamis (29/10/2026).
Padahal, Polda Metro Jaya menggelar acara tersebut secara sangat megah. Pihak penyelenggara mengundang banyak figur publik kenamaan tanah air. Sosok Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad menghadiri agenda tersebut. Selain itu, influencer terkenal Willie Salim turut meramaikan panggung acara.
Oleh sebab itu, UBSI segera menerbitkan siaran pers resmi. Langkah ini berkaitan langsung dengan aksi wanita bernama Sari. Pemburu berita sempat mewawancarai wanita tersebut di tengah kerumunan acara.
Saat sesi wawancara, Sari mengenakan almamater biru berlogo BSI. Ia menjawab pertanyaan wartawan dengan percaya diri. Namun, wanita tersebut sengaja merahasiakan nama kampus asalnya.
Melihat kegaduhan ini, Wakil Rektor II UBSI Adi Supriyatna langsung bertindak. Pihaknya menegaskan rektorat tidak pernah menerima surat undangan resmi. Organisasi kemahasiswaan kampus juga tidak mendapat perintah menghadiri kegiatan tersebut.
“Oleh karena itu, kami menegaskan posisi institusi secara transparan. Pihak UBSI tidak pernah menerima undangan dari panitia. Kami juga tidak mengirimkan mahasiswa ke Bundaran HI pada Kamis (29/10),” ujar Adi melalui pengumuman di situs bsi.ac.id pada Sabtu.
Berdasarkan hasil penelusuran awal, pihak kampus memeriksa basis data internal. Pengelola data memastikan wanita dalam video tidak terdaftar sebagai mahasiswa aktif UBSI.
Selanjutnya, Adi memberikan penjelasan detail mengenai atribut tersebut. Ia menegaskan jas yang terpakai bukan atribut resmi UBSI saat ini.
Pasalnya, emblem logo pada jas tersebut merupakan identitas lama. Institusi memakai logo itu sewaktu masih berstatus akademi. Pihak UBSI telah mengganti logo tersebut sejak resmi menjadi universitas pada 2018.
Selain logo yang berbeda, warna jas tersebut juga tidak sesuai. Jas lama ini memiliki visual yang sangat berbeda dengan almamater resmi mahasiswa saat ini.
“Oleh sebab itu, kami menyayangkan penyalahgunaan atribut institusi. Pihak luar tidak boleh memakai jas kebanggaan kampus. Tim internal kami sedang menelusuri identitas pelaku. Kami meminta masyarakat tidak berspekulasi liar,” jelas Adi.
Maka dari itu, masyarakat tidak boleh memakai simbol kampus secara sembarangan. Pihak luar tidak berhak mewakili institusi dalam kegiatan apa pun. Terutama jika mereka bukan bagian dari civitas academica.
“Sebab, almamater merupakan simbol kehormatan dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, kami mengimbau semua pihak untuk menjaga nama baik kampus. Jangan pernah meminjamkan atribut ini di luar konteks semestinya,” tegas Adi menutup pernyataannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



