Bareskrim Tak Berhenti di ABK, Perburuan Otak Sindikat 1,3 Ton Ketamin Terus Digencarkan

Diposting pada 4 views

Jakarta, Checkbind.com – Tim Bareskrim Polri kini memacu langkah memburu otak intelektual di balik pengiriman 1,3 ton ketamin lewat kapal MV King Sun. Jaringan narkoba kelas kakap ini berhasil mereka gagalkan di perairan Bintan, Kepulauan Riau. Namun, sang aktor utama masih berkeliaran dan terus mereka incar.

Delapan anak buah kapal (ABK) MV King Sun sudah mereka amankan setelah kedapatan membawa barang haram seberat 1,3 ton di Bintan. Polisi menangkap mereka tanpa perlawanan berarti. Seluruh tersangka kini sudah mereka terbangkan dari Batam ke Jakarta. Di sana, para penyidik langsung menjadwalkan pemeriksaan mendalam di markas Bareskrim Polri.

Penyidik akan menggali keterangan kedelapan tersangka secara intensif. Mereka ingin menguak seluruh struktur jaringan di atas para ABK. “Kami akan mencari, mendalami, dan mengejar siapa saja yang bertanggung jawab sebagai otak pelaku,” ujar Kombes Zulkarnain. Ia menjabat sebagai Kasubdit III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Ia menyampaikan hal itu di kantornya pada Kamis (13/8/2026). Menurutnya, penyidikan tidak akan berhenti pada penangkapan awak kapal. Timnya akan terus merambat ke atas. Mereka ingin menemukan dalang yang menyiapkan, menyuruh, dan memiliki barang haram tersebut.

Kombes Zulkarnain merinci komposisi para tersangka. Tujuh di antaranya berwarga negara Myanmar. Satu orang lainnya berkewarganegaraan Taiwan. Kapten kapal berasal dari Myanmar. Manajer kapal berkewarganegaraan Taiwan. Satu teknisi mesin juga dari Myanmar. Lima ABK lainnya semuanya warga Myanmar. Hampir seluruh awak kapal dalam misi berbahaya ini merupakan warga asing. Mereka masuk ke perairan Indonesia dengan modus yang sangat terstruktur.

Pengakuan sementara menunjukkan para pelaku bukan pemula. Mereka sudah beberapa kali melancarkan aksi serupa ke berbagai negara. Aksi itu terjadi sebelum mereka tertangkap di Bintan. Modus mereka terbilang rapi dan terkoordinasi. Pengiriman pertama pada Februari lalu berhasil mengantar 60 hingga 65 karung ketamin ke Filipina. Pengiriman kedua menyasar Taiwan. Jumlahnya hampir sama banyak. “Sungguh memprihatinkan,” tambah Zulkarnain. “Ini aksi yang sistematis dan terencana.”

Setiap ABK menerima gaji bulanan dari jaringan. Mereka juga mendapat bonus khusus dari setiap pengiriman yang berhasil. Bonus itu terbilang menggiurkan. Namun, nasib mereka kini terancam jeratan hukum berat. Kapal mereka tertangkap di perairan Indonesia. Polisi terus mendalami pola pengiriman mereka. Mereka juga menelusuri negara-negara tujuan pasar gelap. Ketamin sebanyak itu diduga akan mereka edarkan luas di Indonesia. Dampaknya tentu sangat mengerikan bagi generasi bangsa jika tidak segera terungkap.

Pada Kamis malam, pukul 20.55 WIB, kedelapan tersangka tiba di Gedung Bareskrim Polri. Mereka datang dengan pengawalan ketat dari petugas. Semua tersangka mengenakan rompi tahanan oranye khas Bareskrim. Suasana penangkapan tampak mencekam. Mereka melangkahkan kaki memasuki area gedung. Beberapa membawa tas dan pakaian pribadi. Tangan mereka masih terborgol. Petugas polisi berjaket dan kaus mengawasi setiap gerak-gerik mereka.

Petugas langsung menggiring para tersangka ke ruang pemeriksaan utama. Mereka tidak banyak bicara. Penyidik sudah bersiap dengan segudang pertanyaan. Mereka juga sudah mengumpulkan alat bukti pendukung. Tim bertekad menguak seluruh rangkaian kejahatan. Mereka ingin tahu proses perekrutan awak kapal. Mereka juga menelusuri jalur pelayaran. Titik transaksi narkoba di darat pun masuk incaran mereka.

Meski delapan pelaku sudah berada di tangan polisi, mereka tetap memburu dalang besar. Mereka yakin ada oknum-oknum kuat di balik layar. Oknum itulah yang mengendalikan sindikat ini. Keberadaan mereka menjadi prioritas utama saat ini. “Barang bukti 1,3 ton ketamin bukan jumlah kecil,” tegas sumber internal kepolisian. “Keterlibatan pihak tingkat atas pasti sangat dominan.”

Pengungkapan kasus ini menjadi salah satu yang terbesar sepanjang tahun. Volume narkotika yang mereka sita mencapai lebih dari satu ton. Dalam operasi ini, Bareskrim bekerja sama dengan berbagai instansi. Bea cukai dan otoritas pelabuhan ikut terlibat. Mereka memastikan tidak ada celah bagi para pelaku. Pelaku tidak bisa melarikan diri atau menghilangkan jejak. Mereka juga mengoordinasikan penyelidikan dengan negara tetangga. Semua upaya itu mereka lakukan untuk menutup jalur penyelundupan di Asia Tenggara.

Hasil penyelidikan awal menunjukkan MV King Sun kerap berlayar dengan rute tak lazim. Kapal itu sering berganti-ganti dokumen. Hal itu menjadi sinyal bahaya. Sayangnya, sinyal itu baru terdeteksi pada pengiriman ketiga. Kini, polisi menelusuri asal muasal ketamin tersebut. Mereka ingin tahu apakah barang itu diproduksi di kawasan Asia. Atau justru berasal dari luar benua. Mereka melakukan pelacakan melalui sidik kimia. Kerja sama intelijen internasional juga mereka aktifkan.

Kombes Zulkarnain menyebutkan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua data komunikasi. Dokumen pelayaran yang ditemukan di atas kapal pun ikut mereka teliti. Setiap jejak digital maupun fisik menjadi pijakan. Mereka menggunakan semua itu untuk memburu bos besar. “Kami tidak akan berhenti hanya di level eksekutor,” tandasnya. “Target kami membongkar seluruh mata rantai.”

Pengungkapan ini memberi angin segar bagi masyarakat Indonesia. Wilayah Kepulauan Riau kerap menjadi pintu masuk jalur gelap narkotika. Kini, dengan tertangkapnya kapal berbendera asing ini, mereka berharap efek jera menyebar. Sindikat lain yang mencoba hal serupa pasti berpikir ulang. Bareskrim terus meningkatkan pengawasan di perairan strategis. Mereka juga memperkuat sistem deteksi dini berbasis teknologi.

Keluarga para tersangka di Myanmar dan Taiwan pasti terkejut. Sanak saudara mereka kini terjerat kasus besar di Indonesia. Namun, hukum tetap tegas bagi siapa pun yang melanggar. Mereka tidak pandang bulu. Dalam sidang nanti, jaksa menjerat mereka dengan pasal-pasal berat. Ancaman hukumannya mencapai puluhan tahun penjara. Bahkan, pengendali jaringan bisa menghadapi hukuman mati.

Bareskrim juga akan menggelar konferensi pers besar-besaran. Mereka akan memaparkan hasil pengembangan kasus ini secara utuh. Dalam paparan nanti, mereka mengajak publik melihat bukti-bukti fisik. Kronologi penangkapan dramatis di perairan Bintan pun mereka tampilkan. Semua itu mereka lakukan demi transparansi. Mereka juga ingin memberi edukasi tentang bahaya penyelundupan narkotika.

Kini, delapan tersangka menjalani pemeriksaan maraton di Bareskrim. Tim penyidik terus mengembangkan keterangan mereka. Mereka berusaha menemukan peta jaringan yang lebih luas. Upaya ini memang memakan waktu. Namun, semua pihak optimistis pelaku utama akan segera terungkap. Mereka yakin polisi bisa menangkap dalangnya. Publik berharap kasus ini tidak berhenti di tengah jalan. Mereka ingin ini menjadi momentum besar pemberantasan narkoba di Indonesia.

Penyidik juga melakukan pemeriksaan psikologis terhadap para ABK. Mereka menelusuri latar belakang kehidupan para pelaut itu. Mereka ingin tahu seberapa besar pengaruh sindikat terhadap kehidupan mereka. Banyak di antara mereka yang terjebak dalam perangkap ekonomi. Tawaran imbalan besar membuat mereka rela mempertaruhkan nyawa. Namun, satu hal pasti: tindakan mereka tetap melanggar hukum. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan di mata peradilan Indonesia.

Jaringan ini diperkirakan memiliki koneksi lintas negara yang kompleks. Pengembangan kasusnya tidak akan mudah. Meski demikian, Bareskrim berkomitmen penuh. Mereka tidak mau setengah-setengah menuntaskan perkara ini. Bukti-bukti kuat dan pengakuan para pelaku mendukung proses hukum. Mereka yakin kasus ini segera terang-benderang. Dalang utamanya pun bisa mereka bawa ke meja hijau.

Masyarakat pun mereka imbau untuk terus waspada. Warga harus melaporkan setiap aktivitas mencurigakan di sekitar pelabuhan atau perairan. Kolaborasi antara aparat dan warga sipil menjadi kunci efektif. Mereka bisa bersama-sama memutus rantai peredaran gelap narkoba. Pengungkapan 1,3 ton ketamin ini membuktikan pemberantasan narkoba terus bergerak maju. Tantangan di lapangan memang masih besar. Namun, mereka tidak akan menyerah.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *