JAKARTA, Checkbind.com – Denting langkah sepatu menapaki aspal ibu kota, Jumat (21/8/2026) pagi, mengiringi kedatangan sebelas putra terbaik Pati, Jawa Tengah. Mereka bukan sekadar pelancong, melainkan utusan rakyat yang membawa misi suci: mengguncang kursi-kursi empuk para wakil rakyat di Gedung DPR/MPR RI. Perjalanan panjang sejak Kamis siang mereka tempuh dengan penuh semangat, membakar mesin dua mobil yang mengangkut harapan jutaan masyarakat di kampung halaman.
Di bawah terik matahari Jakarta, rombongan ini langsung memasang spanduk putih raksasa di pagar depan gedung parlemen. Dua tuntutan keras mengalir deras dari bibir mereka, persis seperti yang sudah direncanakan matang-matang. “Rampas semua aset koruptor, dan jatuhkan hukuman mati! Hanya itu yang kami minta!” seru Teguh (48), salah satu peserta aksi yang matanya berkobar semangat, saat ditemui awak media di lokasi aksi pada Jumat siang.
Dua Tuntutan Bak Petir di Siang Bolong
Teguh menjelaskan dengan lantang bahwa rombongannya hanya membawa dua tuntutan utama. Pertama, mereka mendesak pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset. Kedua, mereka menuntut hukuman mati bagi para koruptor yang sudah terbukti bersalah. “Ini yang paling mendesak, Pak! Dua tuntutan ini sudah cukup mewakili kemarahan rakyat,” tegas Teguh sambil mengibaskan tangan.
Uniknya, Teguh menambahkan bahwa tuntutan lainnya akan mereka sampaikan pada kesempatan berbeda. “Nanti giliran berikutnya, masih banyak yang mau kami suarakan. Tapi hari ini fokus dulu ke dua hal ini,” tuturnya dengan nada penuh perhitungan.
Perjalanan Panjang Penuh Dukungan
Perjalanan heroik mereka dimulai dari Pati pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Sepanjang perjalanan, rombongan mengaku mendapatkan dukungan moril yang luar biasa dari masyarakat di jalan. “Alhamdulillah perjalanan lancar, bahkan masyarakat di pinggir jalan berteriak antusias melihat mobil kami. Mereka teriak ‘wah!’ sambil melambaikan tangan. Ini tanda rakyat mendukung perjuangan kami!” cerita Teguh dengan penuh kebanggaan.
Sesampainya di Jakarta, mereka langsung mendirikan posko kecil di taman depan Gedung DPR/MPR RI. Tikar-tikar mereka gelar di bawah rindangnya pepohonan, menunggu waktu pelaksanaan aksi yang telah dijadwalkan. Di samping mereka, tumpukan kardus berisi air mineral tampak menggunung—kiriman dari warga Pati lainnya yang tidak bisa hadir tetapi tetap memberikan dukungan penuh.
Polisi Siap Kawal Ketat
AKBP Prasetyo Prubo Nurcahyo, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, telah menerima pemberitahuan resmi tentang aksi ini. “Sudah kami terima laporannya,” ujar Prasetyo singkat saat menyambangi lokasi aksi. AKBP Roby Heri Saputra berdiri di sampingnya dan dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengamankan jalannya aksi.
“Kami akan mengawal penuh aksi ini, karena diperkirakan akan dihadiri ribuan massa dari berbagai daerah,” jelas Roby. Pihak kepolisian telah menyiapkan strategi pengamanan ketat, termasuk patroli rutin dan kegiatan intelijen intensif untuk memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan momen ini untuk membuat kericuhan. “Kami mengupayakan mengisolir dan mencegah agar tidak ada orang yang menyusup dan berbuat anarkis di Jakarta,” tandasnya.
Gelombang Dukungan Mengalir Deras
Aksi kecil dari 11 orang ini rupanya memicu gelombang solidaritas yang luas. Banyak warga Pati dan sekitarnya mengirimkan bantuan logistik berupa makanan dan minuman. Beberapa bahkan menyusul datang untuk bergabung secara sukarela. Kondisi ini menunjukkan bahwa tuntutan perampasan aset dan hukuman mati bagi koruptor bukan sekadar isapan jempol, melainkan aspirasi yang mengakar kuat di hati masyarakat.
Para pengunjuk rasa memilih lokasi strategis di depan gedung DPR/MPR RI dengan pertimbangan matang. Mereka menginginkan suara rakyat Pati didengar langsung oleh para pengambil kebijakan. “Kami ingin para wakil rakyat melihat sendiri betapa seriusnya tuntutan ini,” ujar seorang peserta yang enggan disebutkan namanya.
Keseriusan yang Membuat Gerah Koruptor
Sikap tegas warga Pati ini patut diapresiasi. Mereka tidak hanya datang dengan isapan jempol, tetapi dengan persiapan yang matang dan tuntutan yang jelas. Spanduk bertuliskan “Jakarta (love) Pati Bersatu” dan “Sahkan UU Perampasan Aset” berkibar gagah di depan gedung parlemen, menjadi saksi bisu perjuangan rakyat kecil melawan kejahatan korupsi yang sudah merajalela.
Teguh dan kawan-kawan tampak santai namun bersemangat, duduk di atas tikar sembari menikmati segarnya air mineral yang dikirimkan oleh pendukung mereka. Meskipun jumlah mereka hanya sebelas orang, semangat dan tekad mereka mampu mengguncang Jakarta. Buktinya, polisi pun harus turun tangan melakukan pengamanan ekstra.
DPR dan KPK dalam Sorotan
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bagi DPR dan KPK bahwa rakyat sudah tidak sabar lagi menanti keadilan. RUU Perampasan Aset yang sudah lama tertahan di meja persidangan diharapkan segera disahkan. Demikian pula dengan tuntutan hukuman mati bagi koruptor, yang menurut para aktivis menjadi satu-satunya cara untuk memberikan efek jera yang maksimal.
Sebelumnya, kelompok yang sama juga pernah melakukan aksi serupa di depan Gedung Merah Putih KPK. Kali ini mereka memilih Gedung DPR/MPR RI sebagai sasaran, karena proses legislasi ada di tangan para wakil rakyat. “Kami tidak pernah lelah menyuarakan kebenaran,” kata Teguh dengan nada mengharukan.
Pengamanan Ketat dan Harapan Baru
Kepolisian mengerahkan pengamanan superketat, sehingga mereka optimis aksi ini bakal berlangsung tertib dan damai tanpa gejolak berarti! Roby Heri Saputra menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan melalui patroli rutin dan pemeriksaan di lapangan. “Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama aksi berlangsung,” pungkasnya.
Sementara itu, teguran dan harapan terus mengalir dari berbagai kalangan. Banyak pihak berharap agar pemerintah dan DPR segera merespons positif tuntutan rakyat Pati ini. Karena bagaimanapun, perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan semua elemen bangsa, yang membutuhkan sinergi dan keberanian dari semua pihak.
Akhir kata, aksi heroik sebelas warga Pati ini menjadi bukti nyata bahwa suara rakyat tetap bergema di tengah hiruk-pikuk politik Jakarta. Mereka datang bukan untuk merusak, melainkan untuk menanamkan kesadaran kolektif bahwa kita semua wajib menegakkan keadilan dan memberikan hukuman seberat-beratnya bagi para koruptor!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



