Sumenep Krisis Air! Warga Desa Prancak Terpaksa Beli Air dengan Harga Selangit

Diposting pada 3 views

SUMENEP, Checkbind.com – Kekeringan mulai menghantam Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sejak Kamis (14/8/2025). Jika kondisi tak kunjung membaik dalam seminggu, warga terancam harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih dari desa tetangga.

Sumur dan Sungai Kering, Warga Panik!
Naufil Hasbi, perwakilan Pemerintahan Desa Prancak, mengungkapkan bahwa seluruh sumur dan sungai resapan di desanya sudah mengering selama 15 hari terakhir. “Kami memang langganan kekeringan setiap tahun,” ujarnya dengan nada prihatin.

Tak hanya itu, sarana umum seperti mushala dan masjid juga mulai kelimpungan menyediakan air bersih untuk jemaah. “Air wudu semakin langka, bahkan di beberapa tempat sudah habis total,” tambah Naufil.

Ketergantungan pada Air Hujan Berujung Bencana
Selama ini, warga mengandalkan air hujan yang ditampung di kolam atau sumur. Namun, saat cadangan air itu lenyap, mereka pun tak punya pilihan lain. Warga Dusun Tegal Barat, Pandian Laok, Paojajar, Kembang Suka, Billa Mabuk, dan Dusun Prancak Merasakan Dampak Paling Parah Akibat Kekeringan!

Kondisi ini memaksa warga menghemat air secara ekstrem. Sebagian hanya mandi sekali sehari—bahkan ada yang tidak mandi sama sekali! Untuk mencuci baju, mereka terpaksa pergi ke desa sebelah.

Musim Kering Tahun Ini Lebih Menyiksa
Kekeringan di Desa Prancak biasanya terjadi setiap tahun antara Agustus hingga Oktober. Namun, tahun ini berbeda. Meski sempat diguyur hujan berkala, desa ini justru memasuki puncak kekeringan lebih awal.

Air Bersih Jadi Barang Mewah, Harganya Bikin Melongo!
Kini, warga bergantung pada pasokan air dari Desa Lebeng Barat. Bayangkan, harga air melambung tinggi:

  • Tangki 5.000 liter dijual Rp 250.000–Rp 300.000
  • Ukuran 150 liter bisa mencapai Rp 180.000–Rp 200.000

Air tersebut dipakai untuk segala kebutuhan, mulai dari minum, masak, mandi, hingga mencuci. Naufil memprediksi, pembelian air akan semakin massal jika kekeringan terus berlanjut.

Apa Solusi Pemerintah?
Sampai saat ini, belum ada bantuan konkret dari pemerintah setempat. Warga berharap ada tindakan cepat sebelum krisis air semakin parah. Jika tidak, kehidupan sehari-hari mereka bakal semakin sulit.

Krisis air di Sumenep ini menjadi peringatan bagi kita semua. Perubahan iklim dan kurangnya persiapan menghadapi musim kering bisa berujung pada bencana yang sama. Yuk, lebih peduli pada lingkungan dan hemat air sebelum terlambat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *