SURABAYA, Checkbind.com — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendadak membunyikan alarm bahaya paling serius buat seluruh orang tua. Lembaga medis ini memperingatkan bahaya fatal konsumsi telur mentah bagi anak kecil. Bahkan, para dokter spesialis membongkar ancaman kuman Salmonella yang siap mengintai. Bakteri ini bisa menyerang dan merusak saluran pencernaan mungil si kecil tanpa ampun.
Belakangan ini, publik mendadak geger karena kabar yang sangat memilukan hati. Seorang bayi mungil yang baru berusia 24 hari meninggal dunia secara tragis. Neneknya nekat mencekoki bayi berinisial A itu dengan cairan telur mentah. Kemudian, korban sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Namun, nyawa bayi malang itu tidak tertolong pada Minggu (11/10/2026).
Tragedi kelam ini langsung memancing perhatian luar biasa dari para dokter anak. Kasus memilukan tersebut mendadak menjadi sorotan utama di seluruh dunia medis. Oleh sebab itu, IDAI kembali menyuarakan peringatan keras yang sangat tegas. Pihaknya melarang keras pemberian telur mentah atau setengah matang kepada anak. Sebab, tindakan ceroboh ini membawa risiko kesehatan yang sangat mematikan.
Ketua Pengurus IDAI Pusat, dr. Piprim Basarah Yanuarso, membeberkan fakta medis ini pada Senin (12/10/2026). Beliau menegaskan bahwa hidangan telur mentah menyimpan bahaya yang sangat besar. Olahan mentah ataupun setengah matang sering kali mengandung kuman Salmonella jahat. Selanjutnya, bakteri mematikan ini sanggup memicu infeksi pencernaan parah atau salmonelosis pada tubuh si kecil.
Jika bayi sampai mengonsumsi telur mentah, kuman jahat akan langsung mengamuk dalam usus. Akibatnya, si kecil bakal menderita diare parah dan demam tinggi. Selain itu, korban juga mengalami nyeri perut menyiksa, muntah, serta dehidrasi hebat. Malah, serangan infeksi pada bayi kecil bisa memicu komplikasi organ yang sangat mematikan.
Sebenarnya, olahan telur mentah atau setengah matang sama sekali tidak memberikan keuntungan gizi. Makanan ekstrem ini justru sangat berbahaya buat organ cerna bayi yang masih rapuh. Maka dari itu, para orang tua wajib menyajikan makanan sesuai usia anak. Anda harus selalu menyesuaikan jenis kuliner dengan kemampuan cerna fisik si kecil.
Padahal, dr. Piprim menjelaskan bahwa telur yang masak sempurna justru sangat menyehatkan. Sajian matang ini menjadi sumber protein berkualitas paling tinggi buat anak. Selain itu, telur matang kaya akan racikan nutrisi penting lainnya. Berbagai zat gizi tersebut sanggup mendukung proses tumbuh kembang si kecil secara maksimal.
Selanjutnya, orang tua boleh mengenalkan telur matang sebagai Makanan Pendamping ASI (MPASI). Ibu bisa menyajikan menu ini saat anak sudah siap menyantap makanan padat. Namun, Anda tetap harus mengatur tekstur sajian telur tersebut dengan cermat. Pengolahan tekstur yang tepat akan memudahkan kerongkongan bayi saat menelan makanan.
Secara umum, Bunda bisa memulai program MPASI saat bayi memasuki usia 6 bulan. Pasalnya, pada fase usia ini kebutuhan energi anak sudah melonjak tinggi. Pasokan gizi dari ASI saja sudah tidak sanggup memenuhi kebutuhan tubuhnya. Meskipun demikian, Bunda tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan serta kemampuan makan si kecil.
Bahkan, dr. Piprim menegaskan bahwa orang tua tidak perlu menunda pemberian telur. Anda tidak usah menunggu sampai anak berusia satu tahun hanya karena takut alergi. Sebaliknya, ibu bisa langsung memberikan telur matang sejak dini tanpa ragu. Tentu saja, hal ini berlaku kecuali ada pertimbangan medis khusus dari dokter spesialis.
Oleh karena itu, IDAI tetap merekomendasikan kucuran ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Bayi yang baru lahir wajib mendapatkan nutrisi murni dari ASI saja. Namun, Bunda juga bisa menggunakan racikan susu formula khusus bila ada indikasi medis. Tentunya, pemberian susu formula tersebut harus mengikuti instruksi langsung dari dokter spesialis.
Bukan cuma itu, dr. Piprim melarang keras pemberian MPASI sebelum anak berusia 4 bulan. Beliau mengimbau agar orang tua tidak nekat menyuapkan makanan apa pun. Jangan pernah memberikan telur mentah, telur setengah matang, ataupun bubur halus. Makanan padat semacam itu sama sekali tidak sesuai dengan usia dan organ cerna bayi.
Lalu, jika Bunda hendak menyajikan olahan telur untuk MPASI, olahlah secara benar. Pastikan bagian putih dan kuning telur sudah benar-benar matang keras. Selain itu, jika Anda ingin menyajikan hidangan yang tidak masak sempurna, pakailah telur khusus. Anda wajib memilih produk yang sudah melewati proses pasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.
Akhirnya, IDAI memungkas pesannya dengan menekankan pentingnya kebersihan pengolahan makanan. Bunda harus selalu mencuci tangan dan membersihkan peralatan dapur sebelum memasak. Di samping itu, cegah kontaminasi silang dan simpanlah telur di tempat sejuk. Terakhir, jauhi penggunaan telur retak demi menjaga keselamatan nyawa buah hati Anda.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



