BANGKALAN, Checkbind.com – Saat itu, gempa berkekuatan besar mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Bencana itu merobohkan banyak rumah warga. Bahkan, ratusan keluarga pun kehilangan tempat tinggal. Namun, di tengah kabar buruk itu, muncul kabar gembira dari Madura. Ternyata, empat mahasiswa UTM mendapat kejutan istimewa. Kampus mereka menggratiskan UKT selama satu semester penuh! Sungguh sebuah kejutan manis di saat sulit.
Lalu, siapa saja mahasiswa beruntung itu? Pertama, ada Elisabeth Gersela Mbu. Ia sendiri adalah mahasiswi semester I dari FKIP. Kedua, ada Arnina Saputri. Ia juga semester I, tetapi di Fakultas Hukum. Ketiga, ada Dian Munawarah. Ia sudah semester V di FISIB. Keempat, ada Yaheskiel Flemon Apiseto. Ia duduk di semester III, juga dari FISIB. Semuanya berasal dari NTT. Keluarga mereka terdampak langsung oleh gempa dahsyat tersebut. Mereka sangat khawatir dengan keadaan orang tua dan saudara di kampung halaman.
Setelah itu, Rektor UTM, Prof Dr Safi’, bergerak cepat. Pihak kampus segera melakukan pendataan menyeluruh. Tim akademik pun bekerja keras. Hasilnya, mereka menemukan 37 mahasiswa asal NTT. Dari jumlah itu, hanya empat orang yang masuk kategori terdampak langsung. Kebijakan ini diambil oleh Rektor Safi’ sebagai langkah antisipasi. Ia tidak ingin mahasiswanya terbebani urusan biaya di tengah musibah besar.
Kemudian, Safi’ mengungkapkan hal ini pada Sabtu (29/8/2026). “Kami sudah mendata semuanya,” tegasnya. “Empat mahasiswa betul-betul terdampak.” Ia juga membuka pintu bagi mahasiswa lain. “Jika masih ada yang belum terdata, segera hubungi bagian akademik,” tambahnya. Karena itu, kampus siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Proses verifikasi pun berlangsung cepat dan transparan.
Selain membebaskan UKT, UTM juga memberi uang tunai. Setiap mahasiswa menerima Rp 2 juta. Uang itu untuk memenuhi biaya hidup selama di Bangkalan. “Kami bebaskan UKT semester ini,” jelas Safi’. “Kami juga memberi bantuan biaya hidup,” tambahnya. Bantuan ini sangat meringankan beban mereka. Bantuan tersebut disalurkan langsung kepada keempat mahasiswa. Mereka pun sangat bersyukur atas perhatian besar ini.
Di sisi lain, UTM tidak berhenti di situ. Gerakan donasi ini digagas oleh pihak kampus untuk korban gempa NTT. Pihak kampus menamai gerakan itu “UTM Peduli NTT”. Civitas akademika pun antusias menyumbang. Dana tersebut dikumpulkan dari dosen dan mahasiswa. Hingga Sabtu (29/8), dana terkumpul mencapai Rp 43 juta. Penggalangan dana ini masih terus berlanjut. Batas akhirnya adalah akhir Agustus 2026. Jumlah ini terus bertambah setiap harinya.
Selanjutnya, Safi’ berharap banyak dari bantuan ini. “Semoga bantuan ini meringankan beban saudara-saudara kita di NTT,” ucapnya. Ia menegaskan komitmen kampus untuk terus peduli. Bantuan ini adalah wujud solidaritas nyata. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi.
Sementara itu, Elisabeth Gersela Mbu tak kuasa menahan haru. Ia langsung menekan nomor telepon ibunya. Ibunya berada di Desa Mbengu, Sikka, NTT. Perhatian ini diterima dengan haru oleh Elisabeth dan keluarganya. Sang ibu pun terkejut mendengar kabar itu. Ternyata kampus di Madura itu sangat perhatian. Perhatian itu datang di saat keluarga mereka sedang berduka. Ia pun menangis bahagia di sela-sela percakapan.
“Saya langsung telepon ibu di rumah,” cerita Elisabeth. “Ibu tidak menyangka kampus memperhatikan kami.” Ia mengucapkan rasa syukur yang mendalam. “Kami sangat berterima kasih pada UTM,” imbuhnya. Kata-kata itu keluar dari hatinya yang tulus. Ia merasa tidak sendiri menjalani masa sulit ini.
Yang menarik, Elisabeth belum memakai uang bantuan itu. Ia memilih menyimpannya dengan aman. Ia pun bertekad untuk berhemat setiap hari. Tujuannya jelas, agar uang itu bertahan lama. Dengan begitu, orangtuanya tidak perlu kirim uang dulu. Mereka bisa fokus memulihkan rumah di kampung. Ia ingin meringankan beban orang tua dengan caranya sendiri.
Akhirnya, penyaluran bantuan ini berlangsung meriah. Acaranya adalah Wisuda ke-42 Gelombang II Tahun 2026. Tema yang diusung adalah “UTM Peduli NTT”. Acara wisuda itu dimeriahkan dengan penyerahan bantuan tersebut. Momen wisuda itu pun terasa lebih istimewa. Semangat kebersamaan sangat terasa di sana. Keempat mahasiswa pun pulang dengan hati lega. Mereka kini bisa fokus kuliah tanpa dibayangi kekhawatiran biaya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



