MINAHASA, Checkbind.com – Sore itu sebenarnya tampak indah. Matahari mulai meredup. Empat remaja asal Tomohon pun memilih mandi di Pantai Tuturuga. Namun, siapa sangka? Arus laut tiba-tiba menyergap mereka. Peristiwa itu terjadi Sabtu (22/8/2026), sekitar pukul 17.30 Wita. Suasana santai berubah jadi mencekam dalam sekejap.
Keempat korban awalnya asyik bermain air. Mereka tertawa dan bercanda di tepian pantai. Tiba-tiba, arus deras menyeret kaki mereka. Mereka pun kehilangan keseimbangan. Ombak langsung menenggelamkan mereka. Warga sekitar hanya bisa berteriak histeris. Pertolongan pertama pun sulit dilakukan. Gelombang terus menghantam tanpa ampun.
Dari empat orang itu, tim penyelamat baru menemukan tiga remaja. Satu korban lain masih hilang hingga kini. Dua dari tiga remaja yang ditemukan ternyata meninggal. Mereka menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Satu korban lagi kini dirawat intensif. Keluarga ketiga korban itu pun duduk lesu. Harapan mereka kini hanya tersisa pada satu nama.
Korban pertama yang meninggal adalah Candra Pitoy. Pemuda 17 tahun itu berasal dari Kelurahan Walian. Teman-temannya sangat kehilangan sosoknya. Korban kedua adalah Grazelli Kindangen. Gadis 18 tahun asal Pinaras itu juga tak tertolong. Dokter sudah berupaya maksimal. Namun, kondisinya terlalu kritis. Kedua keluarga kini hanya bisa pasrah.
Sementara itu, Miki Somba masih berjuang di rumah sakit. Gadis 16 tahun itu juga warga Pinaras. Para dokter terus memantau kondisinya. Mereka memberikan perawatan ekstra. Keluarga Miki pun tak henti berdoa. Mereka berharap Miki bisa bangkit. Namun, kondisinya masih naik-turun. Semua hanya bisa menunggu dan berharap.
Satu nama lain masih menyisakan tanda tanya besar. Kenzy Lengkong, remaja 17 tahun asal Pinaras, belum ditemukan. Keluarganya kini dilanda cemas luar biasa. Waktu terasa sangat lambat bagi mereka. Setiap detik terasa seperti mimpi buruk. Mereka terus menatap laut dengan hati berdebar. Harapan dan ketakutan bercampur jadi satu.
Humas Basarnas Manado, Nuriadin Gumeleng, langsung bergerak cepat. Timnya tiba di lokasi tak lama setelah laporan masuk. “Kami langsung turun ke lapangan,” ujarnya tegas. Pencarian bahkan mereka lakukan hingga malam hari. Tim tak mau menyia-nyiakan waktu. Mereka menyisir pantai dengan penuh semangat. Semua ingin segera menemukan Kenzy.
Tim penyelamat pun mengerahkan teknologi canggih. Mereka menurunkan drone thermal ke udara. Drone itu menyusuri area laut dan daratan. Alat ini mampu mendeteksi panas tubuh manusia. Namun, malam menghalangi pandangan mereka. Kabut tipis mulai turun di sekitar pantai. Jarak pandang pun sangat terbatas. Drone hanya memantau area yang terang.
Nuriadin selaku komandan tim pun angkat bicara. “Kami hanya bisa melakukan observasi malam ini,” jelasnya. “Drone thermal kami gunakan untuk pengecekan.” Namun, visibility di lokasi sangat kurang mendukung. Mereka sulit mendeteksi objek di tengah gelap. Medan berbatu juga menyulitkan tim. Ombak masih menggulung dengan ganas. Pencarian maksimal pun terhambat total.
Kondisi medan dan jarak pandang memang jadi kendala besar. Tim SAR gabungan akhirnya mengambil keputusan berat. Mereka menghentikan sementara pencarian pada malam itu. Keputusan ini demi keselamatan para petugas. Mereka tak mau mengambil risiko tambahan. Tim memilih beristirahat dan menyusun ulang strategi. Pencarian akan mereka lanjutkan esok pagi. Semoga hasilnya lebih maksimal.
Pencarian pun dijadwalkan ulang pada Minggu pagi. Mereka akan mulai sekitar pukul 06.00 Wita. Tim gabungan dari Basarnas, Polisi Air, dan TNI siap bergerak. Nelayan dan warga setempat juga ikut serta. Mereka akan menyisir perairan dan garis pantai. Area pencarian juga mereka perluas. Harapan tetap menyala di dada setiap relawan. Mereka tak mau menyerah sebelum Kenzy ditemukan.
Warga desa pun menunjukkan solidaritas luar biasa. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga. Perahu-perahu kecil mereka siap dikayuh. Perlengkapan seadanya pun mereka bawa. Semangat gotong royong terasa begitu kuat. Rasa takut tak menyurutkan langkah mereka. Tekad untuk menemukan Kenzy tetap membara. Mereka percaya, masih ada secercah harapan.
Semoga tragedi ini segera usai dengan kabar baik. Namun, dua nyawa telah melayang sia-sia. Keluarga korban kini harus menerima kenyataan pahit. Duka menyelimuti dua rumah tangga. Satu keluarga masih berjuang untuk Miki. Satu keluarga lain masih menunggu Kenzy. Laut memang indah, tapi juga bisa mematikan. Kita semua berharap yang terbaik untuk mereka.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



