Retaknya Koalisi Arab Picu Ancaman Baru, Yaman Menuju Pembagian Dua Negara

Diposting pada 1 views

SANAA, Checkbind.com – Kelompok separatis Yaman, yang mendapat dukungan penuh dari Uni Emirat Arab (UEA), baru saja membuat pengumuman yang menggemparkan. Pada Jumat (3/1/2026), mereka secara resmi mengumumkan rencana transisi menuju kemerdekaan penuh hanya dalam waktu dua tahun! Mereka menyampaikan pengumuman bombastis ini justru di tengah situasi mencekam. Saat itu, serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi sedang menghujani wilayah selatan Yaman dan menewaskan sedikitnya 20 milisi separatis.

Lalu, apa yang membuat situasi ini semakin panas? Ternyata, Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC) menyampaikan ultimatum ini saat ketegangan dengan Arab Saudi memuncak. Kelompok separatis ini selama beberapa pekan berhasil merebut sejumlah wilayah strategis di selatan Yaman tanpa perlawanan berarti. Serangan udara balasan dari koalisi Saudi membuktikan betapa runcingnya situasi ini. Serangan itu menghantam dua pangkalan militer, bandara, dan sejumlah lokasi lain.

Nah, inilah poin kritis yang membuat semua pihak waspada: Yaman berpotensi besar kembali terbelah menjadi dua negara! Jika rencana kemerdekaan STC benar-benar terwujud, kita akan menyaksikan sejarah terulang. Ingat, Yaman pernah terbagi menjadi Yaman Utara dan Yaman Selatan dari tahun 1967 hingga 1990. Kini, STC sudah menyiapkan nama untuk negara baru mereka, yaitu “Arab Selatan”. Mereka menargetkan penyelesaian seluruh proses transisi pada 2 Januari 2028.

Presiden STC, Aidaros Alzubidi, menyampaikan peta jalan mereka dalam pidato televisi. Fase transisi ini akan mencakup dialog dengan wilayah Yaman utara yang kini dikuasai kelompok Houthi. Mereka juga akan mempersiapkan referendum kemerdekaan. “Dewan menyerukan dengan sangat kepada komunitas internasional untuk mensponsori dialog antara pihak-pihak terkait di wilayah selatan dan utara,” tegas Alzubidi. Namun, dia juga memberi ancaman serius. Kelompoknya akan langsung mendeklarasikan kemerdekaan jika dialog tidak terjadi. Mereka juga akan bertindak jika wilayah selatan kembali menjadi sasaran serangan militer.

Lalu, apa akar dari semua kekacauan ini? Jawabannya adalah konflik kepentingan antara dua raksasa Teluk: Arab Saudi dan UEA! Bulan lalu, pasukan STC dengan mudah menguasai sebagian besar wilayah Hadramaut. Wilayah ini kaya sumber daya dan berbatasan dengan Arab Saudi. Mereka juga merebut Provinsi Mahra di perbatasan Oman. Langkah agresif inilah yang memicu kemarahan hebat Riyadh. Tindakan ini juga memperjelas perbedaan tajam antara Saudi dan UEA. Kedua negara ini selama bertahun-tahun ternyata mendukung faksi berbeda di dalam pemerintahan Yaman sendiri.

Ketegangan memuncak pada Jumat (2/1/2026) kemarin. Koalisi pimpinan Arab Saudi tak main-main. Mereka melancarkan gelombang serangan udara setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan keras. Serangan ini juga menyasar pengiriman senjata yang diduga kuat berasal dari UEA. Mohammed Abdulmalik, pejabat STC di Wadi Hadramaut, melaporkan kejadian itu. Tujuh serangan udara menghantam kamp militer Al-Khasha. Kemudian, serangan lain menyasar bandara dan pangkalan militer di Seiyun. Serangan inilah yang menewaskan banyak anggota STC. Peristiwa ini menjadi korban pertama sejak mereka melancarkan kampanye perluasan wilayah.

Yang menarik, juru bicara militer STC menggambarkan konflik ini sebagai perang eksistensial—perang untuk mempertahankan eksistensi mereka. Pihak STC punya narasi sendiri. Mereka menyebut pertempuran ini sebagai upaya melawan radikalisme. Isu ini selalu menjadi perhatian utama UEA di kawasan. Serangan udara ini terjadi tepat setelah pasukan pro-Arab Saudi memulai operasi. Operasi bertahap ini bertujuan mengambil alih kendali lokasi-lokasi militer di Hadramaut.

Meski begitu, Gubernur Hadramaut, Salem Al-Khanbashi, berusaha meredam tensi. Dia memimpin pasukan pro-Saudi di wilayah tersebut. Al-Khanbashi menegaskan bahwa operasi ini bukan deklarasi perang. Menurutnya, operasi ini juga bukan dimaksudkan untuk memperbesar konflik. “Operasi ini bukan deklarasi perang dan bukan pula upaya untuk meningkatkan ketegangan,” kata Al-Khanbashi seperti dikutip kantor berita Saba Net. Namun, pernyataan ini kontras dengan tindakan nyata. Sumber militer Arab Saudi dengan tegas mengonfirmasi serangan. Mereka memperingatkan bahwa serangan tak akan berhenti sampai STC menarik semua pasukannya dari Hadramaut dan Mahra.

Di balik semua ini, ada satu fakta pahit yang terungkap: keretakan telak di antara negara-negara Teluk! Konflik Yaman telah membuka kedok retaknya persekutuan. Persekutuan ini sebelumnya menjadi tulang punggung koalisi melawan Houthi. Pemerintah Yaman yang berbasis di Aden saat ini hanyalah koalisi rapuh. Koalisi ini berisi berbagai kelompok, termasuk STC. Mereka hanya disatukan oleh kebencian terhadap Houthi. Sementara itu, UEA menarik sebagian besar pasukannya sejak 2019. Mereka dikabarkan telah menarik sisa pasukan terakhirnya setelah serangan di pelabuhan Mukalla. Seorang pejabat UEA pada Jumat lalu mengonfirmasi penarikan penuh ini. Namun, dia menegaskan komitmen Abu Dhabi pada dialog dan proses damai yang didukung internasional.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *