SEMARANG, Checkbind.com – Heboh! Masyarakat menggulirkan petisi penolakan proyek pemanfaatan panas bumi atau geotermal di Gunung Ungaran. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, merespons tegas gelombang penolakan ini. Alih-alih diam, ia justru angkat bicara dan memberikan klarifikasi menohok bagi para penolak.
Agus meminta warga tidak terburu-buru menuduh proyek ini merusak lingkungan. Ia menegaskan bahwa proyek ini belum menyentuh tahap eksplorasi sama sekali. Jadi, menurutnya, semua tuduhan kerusakan saat ini tidak memiliki dasar dan terkesan mengada-ada.
“Warga sah-sah saja berpendapat,” ujar Agus dengan tegas saat dikonfirmasi awak media pada Selasa (1/9/2026). Ia menambahkan bahwa perbedaan pendapat justru mencerminkan demokrasi yang sehat. Namun, Agus mengingatkan agar masyarakat tidak menyertai penolakan dengan tuduhan tanpa bukti nyata. “Jangan menuduh atau memfitnah hal-hal yang belum mereka lakukan. Lah ini belum apa-apa, kok orang sudah memfitnah nanti merusak ini, merusak itu? Mana buktinya?” tegasnya dengan nada lugas.
Punya Dasar Hukum dan Perlu Kajian, Ini Buktinya!
Selanjutnya, Agus menjelaskan bahwa undang-undang secara jelas mengatur pengembangan energi panas bumi. Ia menyontohkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng di Jawa Tengah dan PLTP Kamojang di Jawa Barat. Kedua proyek ini sudah beroperasi bertahun-tahun dan terus menghasilkan energi bersih tanpa menimbulkan masalah berarti.
Menariknya, Agus menantang para penolak untuk menunjukkan bukti kerusakan dari kedua PLTP tersebut. Ia meminta publik melihat fakta di lapangan. “Sekarang coba tunjukkan di mana kegiatan panas bumi yang sudah berjalan ini merusak lingkungan? Seluruh dunia mengembangkan panas bumi tanpa masalah besar. Bukan hanya Indonesia, banyak negara maju pun memanfaatkan energi ini,” paparnya dengan percaya diri.
Ia menekankan bahwa geotermal termasuk green energy atau energi hijau yang ramah lingkungan. Agus mengajak masyarakat lebih terbuka melihat fakta-fakta di lapangan. Jangan sampai warga terjebak dalam isu-isu miring yang belum tentu kebenarannya. Justru, berbagai negara di dunia terus melirik panas bumi sebagai solusi energi masa depan karena jejak karbonnya yang minim.
Sosialisasi dan Studi Sosial Mulai Bergulir Semester II 2026
Meski demikian, Agus mengakui bahwa pemerintah pusat memegang kewenangan penuh menerbitkan izin pemanfaatan panas bumi di Gunung Ungaran. Namun demikian, Dinas ESDM Jateng tetap menerima informasi resmi tentang rencana pengembangan proyek strategis ini. Pihaknya pun terus memantau perkembangan dari pusat agar tidak terjadi miskomunikasi dengan warga.
Yang menarik, Agus mengungkapkan bahwa masih banyak tahapan yang harus mereka jalani sebelum proyek benar-benar terealisasi. Pada semester II tahun 2026 ini, pemerintah bersama pihak terkait akan memulai studi sosial secara intensif. Mereka juga akan menggelar sosialisasi masif hingga ke tingkat desa-desa di sekitar lereng Gunung Ungaran.
“Di tahun 2026, semester II ini, kami akan melakukan berbagai studi, termasuk studi sosial. Kemudian kami melaksanakan sosialisasi sampai ke tingkat desa. Setelah itu, kami mengurus semua perizinan dan membuat desain engineering detail untuk akses-akses jalan yang akan kami pakai,” jelas Agus secara rinci dan terstruktur.
Ia memastikan semua tahapan ini bergantung sepenuhnya pada detail rencana eksplorasi yang sedang mereka susun. Dengan demikian, Agus meminta warga tidak panik dan tidak terprovokasi oleh isu-isu negatif. Semua proses berjalan terbuka dan melibatkan partisipasi publik.
Tenang! Geotermal Justru Melestarikan Lingkungan
Agus berharap masyarakat dapat berpikir jernih dan menahan diri dari reaksi berlebihan. Ia memandang pengembangan geotermal di berbagai belahan dunia justru menjadi solusi energi bersih yang semakin digandrungi banyak negara. “Saya kira masyarakat tidak perlu panik. Kita bisa melihat sendiri perkembangan panas bumi di dunia. Energi panas bumi atau geotermal merupakan salah satu green energy yang ramah lingkungan,” tuturnya meyakinkan.
Lebih dalam lagi, Agus memberikan perspektif menarik yang jarang diketahui publik. Prinsip pemanfaatan panas bumi justru membutuhkan kelestarian lingkungan di sekitar reservoir. Reservoir sendiri berperan sebagai sumber panas bumi tempat uap panas muncul. Jika lingkungan di sekitarnya rusak, maka reservoir otomatis ikut terganggu dan produksi energi pun terhambat.
“Mustahil pemanfaatan energi panas bumi merusak lingkungan. Karena reservoir atau uap air itu membutuhkan kelestarian lingkungan sekitarnya untuk terus berproduksi. Kami menjaga lingkungan agar reservoir tetap sehat,” pungkas Agus dengan logika yang sulit dibantah.
Sementara itu, warga di sekitar Gunung Ungaran masih terbagi dalam dua kubu. Sebagian tetap bersikukuh menolak dengan alasan kekhawatiran akan dampak visual dan sosial. Sebagian lain mulai membuka pikiran dan memilih menunggu hasil sosialisasi yang akan segera dilakukan pemerintah.
Yang jelas, polemik ini masih akan terus bergulir seiring dengan tahapan demi tahapan yang akan dilalui pemerintah. Namun Agus berharap masyarakat dapat bersikap bijak. Jangan sampai warga mengambil kesimpulan tanpa data dan fakta yang akurat. Lebih baik, masyarakat aktif bertanya dalam forum sosialisasi nanti daripada hanya menyebarkan ketakutan di media sosial.
Intinya, proyek geotermal Gunung Ungaran masih panjang perjalanannya. Masih banyak studi, sosialisasi, dan perizinan yang harus mereka kerjakan. Daripada sibuk berdebat tanpa dasar, lebih baik kita tunggu hasil kajian dan sosialisasi yang akan segera mereka laksanakan. Karena pada akhirnya, keputusan terbaik lahir dari informasi lengkap dan diskusi sehat, bukan dari tuduhan dan fitnah yang tak berdasar. Mari kita jernih dan berpikir rasional!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



