Pontianak, Checkbind.com – Tim Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) berhasil menggagalkan aksi penyelundupan 5.400 butir telur penyu dari Kepulauan Riau menuju Kalimantan Barat (Kalbar). Yang mengejutkan, salah satu pelakunya merupakan anggota aktif TNI dari Kodam Tanjungpura!
Jaringan Lintas Negara Terbongkar
Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal PSDKP, menjelaskan bahwa para penyelundup membawa telur-telur langka itu menggunakan kapal penumpang. Petugas berhasil menyita barang bukti di Pelabuhan Sintete, Kabupaten Sambas, saat para pelaku berusaha mengirimkannya ke Malaysia melalui jalur ilegal.
“Ini jaringan terorganisir yang sudah beberapa kali beroperasi,” tegas Pung dalam konferensi pers Jumat (18/7/2025). “Mereka membeli telur dari Tambelan, mengangkutnya ke Sintete, lalu menyelundupkannya ke Malaysia. Modusnya rapi, tapi kami berhasil mengungkapnya!”
Modus Dagang Menggiurkan yang Merusak Lingkungan
Para pelaku ternyata sudah berulang kali menjalankan aksi serupa. Terakhir kali, mereka membeli telur penyu di daerah asal dengan harga murah, hanya Rp 1.700 per butir. Di Pemangkat, Kabupaten Sambas, mereka menjualnya dengan harga Rp 2.400–Rp 2.700. Begitu sampai di Malaysia, harganya melonjak drastis menjadi Rp 10.000–Rp 12.000 per butir!
“Secara ekonomi, nilai telur yang kami sita mencapai Rp 81 juta. Namun kerugian ekologisnya jauh lebih besar, sekitar Rp 1,1 miliar,” jelas Pung.
Ancaman Serius bagi Spesies Langka
Pung menekankan bahwa kasus ini bukan hanya pelanggaran hukum biasa. Aksi ini secara langsung mengancam kelestarian penyu yang statusnya sudah dilindungi baik secara nasional maupun internasional. Jika perburuan terus terjadi, populasi penyu bisa punah dalam waktu dekat!
Dua Tersangka Terjaring
Petugas menetapkan dua tersangka dalam kasus ini. Pertama, SD, seorang anggota TNI aktif, dan kedua, MU, warga sipil. Proses hukum terhadap SD akan berlangsung di lingkungan militer, sementara MU akan menghadapi proses hukum sipil.
“MU sudah sering mengirim telur penyu dari berbagai lokasi seperti Batam, Pulau Tiga, dan Sambas ke pembeli di Malaysia,” ungkap Pung. Bahkan, salah satu penerima barang di Sarawak sudah ditangkap pihak berwajib Malaysia awal Juli lalu.
Mitos Telur Penyu Penguat Vitalitas: Fakta atau Hoax?
Pung sekaligus meluruskan mitos yang beredar di masyarakat. “Anggapan bahwa telur penyu bisa meningkatkan stamina hanyalah mitos belaka. Faktanya, mengonsumsi telur penyu justru merusak ekosistem laut,” tegasnya.
Jika ingin menjaga kesehatan, banyak alternatif lain yang lebih aman dan tidak merusak alam. Jangan sampai keinginan sesaat justru mempercepat kepunahan satwa langka!
Penegakan Hukum Semakin Ketat
Kasus ini membuktikan komitmen pemerintah dalam menindak tegas kejahatan lingkungan. PSDKP bertekad terus memburu pelaku penyelundupan satwa langka, tanpa pandang bulu, termasuk oknum aparat yang terlibat.
“Kami tidak akan berkompromi dengan aksi-aksi merusak lingkungan seperti ini. Laut dan kekayaannya harus kita jaga untuk generasi mendatang,” tegas Pung.



