Kronologi Juru Parkir di Palu Tewas Ditembak Polisi Setelah Cekcok dan Serangan Parang

Diposting pada 5 views

PALU, Checkbind.com – Malam Kota Palu berubah menjadi arena maut yang mencekam. Seorang juru parkir (jukir) berinisial D kehilangan nyawa setelah anggota Bidpropam Polda Sulawesi Tengah, Aipda AA, melepaskan tembakan ke arahnya. Peristiwa berdarah ini menyulut pertanyaan besar di tengah masyarakat. Bagaimana bisa sengketa sepele soal parkir berakhir dengan timbunan peluru dan satu nyawa melayang?

Pertikaian yang memicu darah ini sebenarnya berawal dari hal yang sangat remeh, yakni tempat parkir di depan minimarket. Namun, emosi keduanya memuncak tak terkendali seiring berjalannya waktu. Pertengkaran mulut berubah menjadi adu fisik, bahkan nyaris menghilangkan nyawa salah satu dari mereka. Lantas, apa sebenarnya yang membuat suasana di Jalan Tombolututu Atas, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, pada Kamis (27/8/2026) malam itu menjadi begitu mencekam?

Mari kita bedah satu per satu kronologi mengerikan yang mengubah aktivitas belanja malam menjadi adegan laga hidup dan mati.

Semuanya bergulir saat Aipda AA datang mengendarai mobil Toyota Avanza putih. Ia menyempatkan diri berhenti di warung makan Gorontalo yang tak jauh dari lokasi, sebelum akhirnya melangkah masuk ke Alfamidi untuk berbelanja. Suasana masih terlihat normal, warga lalu-lalang, dan rintik hujan gerimis mulai membasahi jalanan. Namun, siapa sangka ketenangan itu akan pecah seketika hanya dalam hitungan menit.

Saat langkah Aipda AA keluar dari pintu minimarket, D, sang juru parkir yang sehari-hari mengatur lalu lintas kendaraan di kawasan itu, langsung menyambutnya. Entah apa yang memicu percikan api, namun keduanya langsung terlibat cakap-cakap yang tak lama berubah panas. Debat soal lahan dan hak mengatur parkir menjadi pemicu utama, dan dalam sekejap, mulut-mulut yang saling beradu itu berubah menjadi aksi dorong-mendorong yang mengagetkan para pengunjung minimarket.

Situasi makin menjadi-jadi saat D tiba-tiba mengayunkan sebilah parang ke arah kepala Aipda AA. Ayunan itu melesat cepat dan mematikan, membuat petugas kepolisian itu nyaris tak sempat bereaksi. Hanya naluri bertahan hidup yang bekerja, sehingga Aipda AA langsung mengangkat tangannya untuk menahan sabetan parang. Akibatnya, tangan kanan polisi itu mengalami luka robek yang menganga, sementara jari manis di tangan kirinya putus terpotong. Darah segar pun membasahi seragamnya, dan malam itu bukan lagi soal parkir, tapi soal selamat atau tidak.

Dalam tekanan serangan yang terus berlanjut, Aipda AA pun tak punya banyak pilihan. Dengan luka menganga dan nyawa terancam, ia lantas mengeluarkan pistol jenis HS dari holsternya. Sebagai bentuk peringatan, ia menembakkan satu peluru ke udara. Namun, tembakan peringatan itu rupanya tak membuat D mundur. Sebaliknya, ia malah terus mengejar Aipda AA sambil mengacungkan parang. Detik-detik inilah yang menjadi titik kritis tragedi berdarah tersebut.

Melihat serangan tak kunjung berhenti, Aipda AA lantas mengambil keputusan ekstrem. Ia mengarahkan pistolnya dan kembali melepas tembakan. Letusan senjata api itu memekakkan telinga dan membuat warga sekitar berhamburan menyelamatkan diri. Namun, satu peluru nyasar justru menghantam warga lain yang tak bersalah, seorang pria berinisial MA. Peluru menembus leher kanannya, dan ia pun roboh dalam genangan darah, sementara D yang terkena tembakan langsung ambruk tak berdaya di aspal jalan.

Seketika itu juga, jalanan yang tadinya lengang berubah menjadi hiruk-pikuk luar biasa. Warga berteriak meminta tolong, sebagian mencoba menolong korban, sementara yang lain langsung menghubungi pihak berwajib. Darah tampak mengalir di badan jalan, bercampur derasnya air hujan yang mulai turun. Aipda AA sendiri tampak syok dengan kejadian yang baru saja ia alami, sementara tim medis dari puskesmas terdekat langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama di lokasi.

Tim medis segera merujuk D ke RSUD Anutapura Palu untuk mendapatkan perawatan intensif. Dokter dan staf medis berjibaku menyelamatkan nyawanya di ruang operasi, namun luka tembaknya ternyata terlalu parah. Setelah berjam-jam berjuang, nyawa D akhirnya tak tertolong. Rumah sakit menyatakan D meninggal dunia pada Jumat (28/8/2026) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita. Kabar itu menyebar seperti api di tengah jerami, memicu duka mendalam dan kemarahan di kalangan keluarga serta rekan-rekan D yang enggan percaya bahwa pertengkaran sepele bisa merenggut nyawa seseorang.

Sementara itu, MA, warga yang terkena peluru nyasar, masih berjuang keras di meja operasi. Tim medis terus berusaha maksimal menangani luka tembak di leher kanannya. Keluarga MA yang datang ke rumah sakit tak kuasa menahan haru dan terus berdoa agar nyawanya bisa selamat. Namun, mereka juga menuntut kejelasan tegas dari aparat, mengapa seorang warga sipil yang tak terlibat cekcok justru menjadi korban peluru dari aparat kepolisian.

Buntut dari peristiwa ini, tim Satreskrim Polresta Palu yang dipimpin AKP Ismail langsung bergerak cepat menuju lokasi. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara detail dan mendalam. Hasilnya, tim kepolisian berhasil menemukan beberapa selongsong peluru berserakan di sekitar lokasi. Tak hanya itu, mereka juga mendapati bekas lubang di dinding dan aspal jalan yang mengindikasikan bekas tembakan. Bukti-bukti ini langsung mereka amankan untuk kebutuhan penyelidikan lebih lanjut.

Menurut AKP Ismail, pihaknya masih terus mendalami rangkaian kejadian secara menyeluruh, termasuk siapa yang memulai perkelahian dan apakah penggunaan senjata api dalam situasi tersebut sudah sesuai prosedur yang berlaku. “Tim kami dan Kapolsek Mantikulore masih melakukan penyelidikan intensif. Kami akan mengumpulkan keterangan saksi-saksi di lokasi serta memeriksa rekaman CCTV yang ada di sekitar Alfamidi,” ujarnya dengan nada serius dan penuh komitmen.

Kasus ini sontak menarik perhatian publik secara luas, terutama di kalangan juru parkir dan petugas kepolisian. Berbagai kalangan mendesak agar aparat bersikap transparan dan mengusut tuntas kasus tersebut. Pertanyaan besar pun bergulir di masyarakat: apakah tembakan yang dilepaskan Aipda AA merupakan tindakan pembelaan diri yang sah, atau justru aksi berlebihan yang merenggut nyawa tak berdosa? Masyarakat juga mengkhawatirkan nasib MA yang masih kritis, apakah ia akan mendapat kompensasi atas luka yang dialaminya.

Sementara itu, keluarga D menuntut keadilan setinggi-tingginya. Mereka berharap kasus ini tak berhenti di meja penyelidikan. Mereka ingin agar seluruh proses hukum berjalan terbuka dan semua pihak yang bertanggung jawab dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Kami kehilangan anggota keluarga hanya karena masalah parkir. Ini terlalu kejam,” ujar salah satu kerabat D yang menahan isak tangis di depan ruang jenazah.

Di sisi lain, Polda Sulawesi Tengah berkomitmen untuk tidak menutup-nutupi kasus ini. Mereka akan membentuk tim khusus untuk menginvestigasi apakah prosedur standar operasional dalam menggunakan senjata api telah dilanggar. Jika terbukti Aipda AA melanggar aturan, maka sanksi tegas tak akan mereka hindarkan. Namun, jika itu murni tindakan pembelaan diri, publik berhak mengetahui fakta sebenarnya secara terang benderang.

Kronologi mencekam ini kembali mengingatkan kita semua bahwa konflik kecil jika tak dikelola dengan baik bisa berakhir dengan tragedi besar. Satu nyawa melayang, satu lagi terbaring kritis, dan seorang polisi kini terancam masa depannya. Siapa pun yang bersalah, keadilan tetap harus ditegakkan di negeri ini. Masyarakat menunggu hasil penyelidikan dengan napas tertahan, berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua agar tidak ada lagi korban berjatuhan akibat amarah sesaat.

Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan isu-isu liar. Mereka berjanji akan mengungkap kasus ini secara transparan dan profesional. Sebab, di tengah duka dan kemarahan yang membara, satu hal yang pasti: keadilan adalah obat yang paling dinantikan oleh keluarga korban dan seluruh warga Palu yang merindukan ketenangan.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *