JAKARTA, checkbind.com – Gaji Rp17 Juta Basmi Judi Online, Eh Malah Jadi Bodyguard Situs Judi!. Adhi Kismanto justru jadi tersangka dalam kasus perlindungan situs judi online (judol) yang melibatkan pegawai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), kini berganti nama menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Padahal, awalnya dia tergabung dalam tim teknis penanganan judol Kominfo. Lucunya, Adhi sempat meminta gaji besar Rp 17 juta per bulan. Dia malah sengaja meloloskan ribuan situs judi agar terus berjalan.
Nama Adhi Kismanto muncul setelah Budi Arie Setiadi, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kominfo, merekomendasikannya. Fakta ini terungkap dari kesaksian Teguh Arifiyadi, mantan Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo, yang hadir sebagai saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kasus Adhi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (28/5/2025).
Teguh bercerita, “Saya dikenalkan dengan Pak Adhi Kismanto di ruangan Pak Menteri. Lalu, Pak Menteri memintanya membantu aspek teknis pemblokiran judi online.” Meski begitu, Teguh menegaskan bahwa proses rekrutmen tetap harus melalui seleksi.
Saat tim seleksi memeriksa berkas, mereka menemukan Adhi tidak memenuhi syarat karena hanya lulusan SMK, padahal kriteria lowongan mensyaratkan minimal lulusan S1. Teguh pun melaporkan hal ini ke atasan. “Saya sampaikan bahwa dia tidak memenuhi kriteria. Dirjen lalu meminta saya menyampaikan ini ke Pak Menteri karena Adhi adalah rekomendasi beliau,” jelas Teguh.
Tak lama setelah itu, staf khusus menteri menghubungi Teguh dan memintanya menerima dua peserta berlatarbelakang SMK, termasuk Adhi. Teguh sempat memastikan, “Saya tanya lewat WA, apakah ini benar permintaan Pak Menteri? Mereka jawab, ‘Ini sudah dari Pak Menteri’.”
Untuk mengamankan diri, Teguh langsung menyimpan screenshot percakapan itu dan mengirimkannya ke tim SDM Kominfo sebagai bukti. Namun, tim keuangan dan rekrutmen akhirnya menyimpulkan bahwa Adhi tetap tidak memenuhi syarat.
Ironisnya, meski tidak lolos seleksi formal, Adhi akhirnya tetap bergabung. Bukannya memberantas judol, dia malah terlibat dalam skema perlindungan situs-situs tersebut. Padahal, sebelumnya dia meminta gaji Rp 17 juta per bulan dengan dalih membantu tim basmi judol.
Kasus ini semakin mencoreng wajah Kominfo, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memerangi judi online. Kini, Adhi harus berhadapan dengan hukum, sementara publik menunggu apakah ada pihak lain yang terlibat dalam skandal ini.
Baca Juga: Polri Tampilkan Foto Ijazah Jokowi Saat Konpers
Dugaan intervensi dari pejabat tinggi semakin menguat setelah rekomendasi langsung dari Budi Arie. Apakah ini sekadar kasus oknum, atau ada sistem yang bermasalah di Kominfo? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam persidangan selanjutnya.
Yang jelas, kasus ini jadi pelajaran penting: jangan sampai niat memberantas judi online justru dikhianati oleh orang dalam sendiri. Publik pun berharap agar proses hukum berjalan transparan, tanpa ada intervensi dari pihak manapun.



