Duel Maut 2 Perguruan Silat di NTT! Pemuda Tewas Ditikam, Polisi Buru Pelaku

Diposting pada 3 views

KUPANG, Checkbind.com – Dua kelompok perguruan silat bentrok dengan dahsyat di Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Aksi brutal ini merenggut nyawa Marten Tino Falo Taemnanu (22), seorang pemuda yang menjadi korban keganasan konflik antar perguruan bela diri. Insiden mengerikan ini terjadi Minggu malam (3/8/2025), membuat warga panik dan memaksa aparat keamanan turun tangan!

Kombes Hendry Novika Chandra, Kabid Humas Polda NTT, menjelaskan kronologi kejadian pada Selasa (5/8/2025). “Awalnya hanya saling lempar batu, tapi situasi cepat memanas menjadi pertumpahan darah!” ujarnya. Kelompok pemuda dari Dusun Morukren, Desa Litamali bentrok dengan warga Desa Alas Selatan. Dalam keributan itu, seseorang menikam Tino hingga terluka parah. Tim medis sempat membawa korban ke RSPP Betun, namun nyawanya tidak tertolong.

AKBP Riki Ganjar Gumilar, Kapolres Malaka, langsung mengambil tindakan tegas. Dia segera mendatangi rumah duka di Dusun Manehat untuk menyampaikan belasungkawa. “Kami pasti akan menangkap pelakunya. Mohon masyarakat tidak main hakim sendiri,” tegasnya di hadapan keluarga korban. Polisi juga mengerahkan tim intelijen dan unit penyidik untuk mengamankan lokasi-lokasi rawan.

Untuk mencegah konflik meluas, polisi melakukan berbagai upaya strategis. Mereka mengerahkan Unit IV Sat Intelkam dan Unit Buser Sat Reskrim untuk memantau situasi di RSPP Betun, rumah duka, serta jalur-jalur yang berpotensi terjadi keributan. Polisi juga menggandeng berbagai tokoh kunci termasuk Ketua Ranting dan Senior IKS-PI dari Desa Alas Selatan.

“Kami meminta semua pihak tidak terprovokasi. Biarkan proses hukum berjalan,” tegas Kapolres. Aparat terus berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Ketua PSHT Cabang Malaka, Ketua IKS-PI Kera Sakti, tokoh agama, dan Kepala Desa Litamali untuk menenangkan situasi. “Kerja sama semua pihak sangat kami butuhkan untuk mencegah aksi balas dendam,” tambah Hendry.

Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Malaka. Namun polisi berharap semua pihak bisa menjaga perdamaian. “Kami tidak ingin ada korban lagi,” pungkas Hendry menutup pernyataannya. Aparat terus bekerja keras menangani kasus ini sembari mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *