SIDOARJO, Checkbind.com – Kabar mengejutkan mengguncang Sidoarjo! Dugaan keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menimpa siswa-siswi di 19 lembaga pendidikan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah berlokasi di Kecamatan Tanggulangin. Fasilitas ini kini menjadi pusat sorotan publik. Menu makanannya memicu kepanikan luar biasa di kalangan orang tua dan para pengajar. Bayangkan, belasan sekolah sekaligus melaporkan kasus serupa. Waktu pelaporan pun hampir bersamaan. Suasana edukasi di wilayah tersebut berubah menjadi hiruk-pikuk. Kekhawatiran terasa tak terbendung. Para wali murid pun berbondong-bondong mendatangi sekolah-sekolah. Mereka ingin memastikan kondisi putra-putrinya. Kabar burung itu menyebar cepat di grup-grup WhatsApp.
Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Satgas MBG Jatim sekaligus Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, segera mengungkapkan fakta mencengangkan di hadapan awak media. Ternyata, SPPG Kalitengah telah menyalurkan 2.800 porsi MBG ke 19 institusi pendidikan di wilayah Sidoarjo. Jumlah fantastis ini menunjukkan betapa masifnya penyebaran makanan yang mengandung kontaminasi. Dampaknya pun meluas ke berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, semua merasakan getirnya insiden ini. Tak heran jika koordinasi antara pihak sekolah, puskesmas, dan dinas kesehatan setempat pun mereka aktifkan secara cepat. Mereka ingin memetakan seluruh lokasi yang menerima distribusi dari dapur tersebut.
“Ada 19 lembaga yang mengalami dampak. Salah satunya Ponpes Manba’ul Hikam,” tegas Emil Dardak dengan nada tegas saat berbincang santai namun serius dengan wartawan pada Rabu (2/9/2026). Dari total 19 lembaga itu, pondok pesantren tersebut mengalami dampak paling parah. Ratusan santri menderita keluhan kesehatan yang cukup mengkhawatirkan. Gejalanya beragam, mulai dari pusing ringan hingga muntah-muntah hebat. Ruang kesehatan pesantren pun penuh sesak oleh pasien. Bahkan, beberapa santri terlihat lemas dan harus mendapatkan infus di klinik terdekat. Suasana pondok yang biasanya tenang berubah menjadi riuh. Suara ambulans keluar-masuk area pesantren terdengar silih berganti.
Tak ingin kejadian ini meluas ke wilayah lain, pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional berencana meninjau beberapa sekolah lain di luar Ponpes Manba’ul Hikam dalam waktu dekat. Langkah antisipatif ini mereka ambil untuk memastikan tidak ada satu pun siswa yang luput dari penanganan medis. Mereka juga ingin mendeteksi dini potensi kasus serupa di lokasi distribusi lainnya. Tim kesehatan pun mereka turunkan secara bergerak. Tim ini menjangkau seluruh titik distribusi yang menjadi sasaran SPPG Kalitengah. Selain itu, petugas gabungan juga menyisir setiap sekolah. Mereka mengumpulkan data akurat mengenai jumlah korban. Mereka juga mencatat tingkat keparahan gejala yang dialami masing-masing siswa.
“Semua penerima kebetulan berada di satuan pendidikan. Karena itu, tim kami akan menelusuri siapa saja yang menerima makanan. Jika ada siswa tidak masuk sekolah, kami akan mendatangi kediamannya secara langsung. Kondisi ini lebih memungkinkan karena mereka semua berasal dari sekolah,” jelas Emil dengan penuh kewaspadaan. Pendekatan door-to-door ini mereka pilih agar tim kesehatan menjangkau semua korban. Dengan cara ini, semua pasien mendapat perhatian medis yang layak. Tidak ada hambatan jarak atau waktu yang menghalangi. Cara cepat ini sekaligus menjadi bentuk pelayanan publik yang responsif. Penanganan keracunan tidak bisa mereka tunda-tunda. Semua itu karena menyangkut nyawa anak-anak.
Meski demikian, Emil belum merinci secara spesifik nama-nama lembaga pendidikan yang menerima MBG dari SPPG Kalitengah. Proses pendataan masih terus berjalan. Namun, ia menegaskan bahwa SPPG Kalitengah hanya mendistribusikan menu ke sekolah swasta pada hari kejadian. Fakta ini tentu menarik perhatian banyak pihak. Negara menganggarkan program ini, namun justru lebih dulu menyasar institusi swasta. Hari itu, tidak ada satu pun sekolah negeri yang menerima. Hal ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Beberapa pengamat pendidikan pun mempertanyakan pola distribusi yang dinilai tidak transparan. Mereka khawatir kondisi ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial antar-sekolah.
“Ada SMA swasta, SMP swasta, SD swasta, bahkan TK swasta juga kebetulan menerimanya. Memang tidak ada yang negeri,” ujarnya menambahkan klarifikasi. Pernyataan ini memicu pertanyaan publik mengenai alasan distribusi yang tidak merata tersebut. Masyarakat bertanya, apakah ada perbedaan standar keamanan antara sekolah negeri dan swasta dalam program bergengsi ini? Publik pun mendesak transparansi penuh dari pihak penyelenggara. Mereka menilai keamanan pangan seharusnya menjadi prioritas utama. Status akreditasi sekolah seharusnya tidak membedakan perlakuan.
Sebelumnya, Emil dan Koordinator Regional BGN Jatim mengambil keputusan tegas. Mereka memberhentikan sementara seluruh operasional SPPG Kalitengah. Langkah drastis ini mereka ambil demi memutus mata rantai potensi keracunan lebih lanjut. Selain itu, tim laboratorium segera menguji sampel makanan dari dapur tersebut secara komprehensif. Semua pihak sangat menantikan hasil uji laboratorium. Mereka ingin mengetahui zat berbahaya apa yang menyebabkan reaksi massal di kalangan pelajar. Pihak berwenang berjanji akan mengumumkan hasilnya segera setelah proses analisis selesai. Mereka juga memeriksa seluruh rantai pasok bahan baku. Mulai dari pemasok telur, tempe, hingga sayuran, semua mereka teliti. Tujuannya untuk memastikan apakah kontaminasi berasal dari bahan mentah. Bisa juga berasal dari proses pengolahan yang kurang higienis.
RATUSAN SANTRI MANBA’UL HIKAM MENGELUH MUAL DAN MUNTAH!
Sebelumnya, kabar mengkhawatirkan muncul pada Selasa (1/9/2026). Kabar itu langsung menyebar cepat di media sosial. Ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, mendadak mengeluhkan gejala keracunan. Mereka baru saja menyantap menu MBG. Mereka bergantian mengalami pusing hebat. Mual yang sangat hebat pun menyerang. Muntah-muntah terjadi di mana-mana. Suasana pesantren menjadi heboh. Para pengurus panik dan segera memberikan pertolongan pertama. Mereka membawa korban ke klinik terdekat. Beberapa santri bahkan mengaku merasakan perih di ulu hati. Demam tinggi juga mereka rasakan beberapa jam setelah makan siang. Aktivitas belajar mengajar di pondok terpaksa mereka hentikan sementara waktu.
Menu yang mereka santap terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan apel segar. Semua hidangan itu berasal dari dapur MBG di Kalitengah, Tanggulangin. Kini, para orang tua dan pengasuh pondok hanya bisa menunggu hasil uji laboratorium. Sambil menunggu, mereka terus memantau kondisi anak-anak mereka. Akankah program MBG yang mulia ini harus berhenti karena kelalaian prosedur? Kita nantikan perkembangan selanjutnya! Pemerintah pun dihadapkan pada ujian berat. Mereka harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap program unggulan ini. Keselamatan generasi muda jelas tidak bisa mereka korbankan. Demi sekadar gengsi program, hal itu tidak sebanding dengan nyawa anak-anak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



