Biaya Produksi Melonjak, Petani Tebu Magetan Desak Pemerintah Segera Tetapkan HAP Gula

Diposting pada 6 views

MAGETAN, Checkbind.com – Musim giling tahun ini menjadi ujian berat bagi para petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula (PG) Poerwodadie, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Mereka kini harus berjuang menghadapi dua masalah besar sekaligus. Di satu sisi, biaya produksi terus meroket tanpa kendali. Di sisi lain, pemerintah sampai saat ini masih belum juga menetapkan Harga Acuan Pemerintah (HAP) gula konsumsi yang sangat mereka nantikan. Padahal, kepastian harga ini menjadi penentu utama nasib pendapatan mereka di ujung musim panen.

Sudaryanto, Ketua APTR PG Poerwodadie, mengungkapkan bahwa lonjakan berbagai komponen biaya produksi telah membuat keuntungan petani semakin tergerus habis. Bahkan, banyak di antara mereka yang kini hanya mampu berada di titik impas, dan tidak sedikit pula yang justru harus menelan kerugian pahit.

“Posisi petani sekarang benar-benar terjepit, antara impas dan rugi. Biaya garap melonjak semua, mulai dari tenaga kerja, ongkos tebang, hingga biaya angkutan. Kami hanya berharap HAP gula bisa segera ditetapkan minimal Rp 15.500 per kilogram. Dengan harga itu, petani setidaknya masih bisa merasakan keuntungan, meskipun hanya tipis,” ujar Sudaryanto saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (1/8/2026).

Lebih lanjut, Sudaryanto menjelaskan bahwa tingginya biaya produksi saat ini utamanya dipicu oleh meroketnya upah tenaga kerja serta membengkaknya biaya operasional selama musim panen berlangsung. Ongkos tebang dan angkut tebu juga ikut terdongkrak naik, sehingga beban yang harus ditanggung petani pun semakin berat.

Ia menyebutkan, ongkos angkut tebu kini bergerak di kisaran Rp 48.000 hingga Rp 50.000 per kuintal. Besaran biaya ini sangat tergantung pada jarak antara lahan perkebunan dengan lokasi pabrik gula. “Sekarang ongkos angkut sekitar Rp 48.000 sampai Rp 50.000 per kuintal, semua tergantung jauh dekatnya lahan dari pabrik. Intinya, semua biaya operasional naik,” tambahnya.

Tak hanya biaya angkut yang melambung, upah tenaga kerja pun ikut terkerek naik dibandingkan musim tanam sebelumnya. Jika dulu upah pekerja laki-laki hanya sekitar Rp 60.000 per hari, kini angka itu melonjak menjadi Rp 80.000. Para petani juga harus menaikkan upah pekerja perempuan dari sekitar Rp 70.000 per hari, dan mereka pun masih wajib menyediakan biaya konsumsi tambahan selama masa panen berlangsung.

Kelangkaan Tenaga Tebang dan Antrean Panjang di Pabrik

Persoalan petani tidak berhenti sampai di situ. Selain harus berhadapan dengan biaya produksi yang membengkak, mereka juga kini kesulitan mencari tenaga tebang saat musim giling tiba. Antrean tebu yang menggunung di pabrik semakin memperparah kondisi ini, sehingga mengganggu efisiensi operasional dan memaksa petani menanggung biaya tambahan yang tidak terhindarkan.

“Sulit sekali mencari tenaga tebang sekarang. Antrean tebu di pabrik juga membludak, sehingga pengeluaran petani semakin besar,” keluh Sudaryanto.

Menurutnya, meskipun harga gula tahun ini memang terbilang lebih baik dibandingkan musim lalu, namun lonjakan harga tersebut ternyata belum mampu menutupi laju kenaikan biaya produksi yang meroket di hampir semua sektor. Petani kembali terjepit dan tidak bisa berbuat banyak.

Harapan Tinggi terhadap Kepastian HAP Gula dari Pemerintah

Melihat kondisi yang semakin sulit ini, APTR pun berharap pemerintah tidak lagi menunda-nunda penetapan HAP gula. Para petani pun mendesak pemerintah agar segera mengambil keputusan sesuai dengan usulan yang telah mereka ajukan bersama organisasi petani tebu.

Sudaryanto mengungkapkan bahwa APTR bersama organisasi petani tebu lainnya telah mengusulkan HAP gula berada pada kisaran Rp 15.500 hingga Rp 15.750 per kilogram. Namun hingga awal Agustus 2026 ini, belum ada keputusan resmi yang keluar dari pemerintah.

“Sampai sekarang belum ada informasi resmi dari pemerintah mengenai HAP gula berapa. Padahal usulan dari teman-teman APTR sudah kami sampaikan, berkisar Rp 15.500 sampai Rp 15.750 per kilogram,” ujar Sudaryanto dengan nada penuh harap.

Baginya, kepastian HAP bukanlah hal yang sepele. Harga acuan ini menjadi sangat penting karena akan menjadi patokan harga gula di tingkat petani. Selain itu, HAP juga akan memberikan kepastian usaha bagi petani tebu di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

Meskipun berbagai tantangan datang silih berganti, para petani tidak patah semangat. Mereka tetap melanjutkan penanaman tebu untuk musim berikutnya. Sudaryanto menjelaskan bahwa waktu tanam terbaik terjadi pada Mei hingga Juli. Para petani akan segera menanami kembali lahan yang baru selesai dipanen pada Agustus nanti, asalkan pasokan pengairan yang memadai tersedia di sekitar area perkebunan.

“Kalau ada pengairan, kami masih bisa tanam saat kemarau. Tapi kalau tidak ada air, ya terpaksa harus menunggu musim hujan tiba,” katanya.

Di akhir perbincangan, Sudaryanto kembali menegaskan harapannya agar pemerintah segera mengeluarkan keputusan mengenai HAP gula. Dengan begitu, petani bisa memperoleh kepastian harga dan keberlanjutan usaha perkebunan tebu rakyat tetap terjaga.

“Harapan kami, pemerintah segera menetapkan HAP. Dengan biaya produksi yang terus naik, petani sangat membutuhkan kepastian harga agar usaha tebu bisa tetap bertahan,” pungkas Sudaryanto dengan nada penuh optimisme namun juga kegelisahan yang mendalam.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *