SURABAYA, checkbind.com – Empat oknum suporter Persebaya Surabaya akhirnya meringkuk di sel tahanan setelah terlibat aksi pengeroyokan terhadap seorang pengemudi mobil usai perayaan HUT ke-98 klub tersebut, Rabu (18/6/2025). Aksi brutal ini langsung viral di media sosial dan memicu kecaman dari berbagai pihak.
Baca Juga: Pengunjung PRJ Keluhkan Toilet Kotor dan Mushala yang Minim
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto, memaparkan bahwa kejadian bermula ketika korban sedang mengemudikan mobil Avanza warna hitam di Jalan Embong Malang, Genteng. Tanpa alasan jelas, sekelompok suporter tiba-tiba meneriaki korban dengan tuduhan melakukan tabrak lari.
“Padahal, tidak ada kejadian tabrakan sama sekali. Oknum-oknum ini langsung memprovokasi,” tegas Edy saat konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Senin (23/6/2025).
Tanpa berpikir panjang, beberapa orang dari kelompok tersebut turun dari motor dan langsung menghampiri mobil korban. Mereka kemudian memukuli korban secara beramai-ramai dengan tangan kosong. Tidak hanya itu, mereka juga merusak mobil yang dikendarai korban.
“Para pelaku memukuli korban hingga luka-luka di beberapa bagian tubuh dan merusak mobilnya,” tegas Edy.
Laporan Korban dan Aksi Cepat Polisi
Setelah kejadian, korban yang trauma langsung melaporkan insiden tersebut ke Polrestabes Surabaya. Video aksi pengeroyokan itu pun menyebar luas di media sosial, memicu kemarahan netizen.
“Karena viralnya video ini, kami langsung bergerak cepat. Tidak sampai 24 jam, pelaku berhasil kami amankan,” ungkap Edy dengan nada tegas.
Profil Pelaku dan Pasal yang Dijerat
Keempat pelaku yang berhasil diamankan adalah:
- DARP (21) – Warga Tarik, Sidoarjo
- MR (20) – Warga Tarik, Sidoarjo
- OVG (18) – Warga Jetis, Mojokerto
- RDA (16) – Pelajar asal Tarik, Sidoarjo
Mereka semua dijerat Pasal 170 KUHP tentang kekerasan berencana. Jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman maksimal 5 tahun penjara.
Reaksi Publik dan Imbauan untuk Suporter
Insiden ini memicu diskusi panas di kalangan suporter Persebaya. Banyak yang mengecam aksi kekerasan ini dan meminta agar suporter lain tidak meniru tindakan tidak terpuji tersebut.
“Kami harap ini jadi pelajaran bagi semua pihak. Suporter seharusnya mendukung tim dengan sportif, bukan malah mencoreng nama klub,” kata Edy menutup pernyataannya.
Dampak Aksi Kekerasan terhadap Citra Suporter
Aksi kekerasan seperti ini bukan kali pertama terjadi di dunia sepak bola Indonesia. Sayangnya, oknum-oknum tertentu masih sering menggunakan emosi berlebihan saat mendukung klub kesayangan. Padahal, sepak bola seharusnya menjadi ajang persaudaraan, bukan permusuhan.
Polisi juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil hukum ke tangan sendiri. Segera laporkan masalah ke pihak berwajib untuk penyelesaian hukum yang tepat.
Polisi membuktikan bahwa mereka tidak akan membiarkan tindakan kekerasan begitu saja dengan menangkap keempat pelaku. Kami harap masyarakat bisa lebih bijak menyikapi berbagai situasi, terutama saat emosi memuncak.



