Usia Bertambah Ternyata Picu Jenis Insomnia Ini – Banyak yang Tidak Sadar!

Diposting pada 4 views

Checkbind.com – Meskipun banyak orang mengira insomnia hanya soal sulit memulai tidur, tahukah kamu bahwa ada jenis gangguan tidur lain yang kurang dikenal namun tak kalah menyebalkan? Gangguan ini bernama insomnia lanjut, dan gejalanya justru kerap menghampiri mereka yang usianya semakin bertambah.

Bentuk insomnia ini bukanlah sekadar sulit terlelap, melainkan terbangun di dini hari dan benar-benar tidak mampu kembali tidur, padahal tubuh masih lelah. Dr. Angela Holliday-Bell, seorang dokter dan spesialis tidur, menjelaskan dengan gamblang, “Insomnia lanjut atau terbangun dini hari adalah kondisi di mana kita bangun jauh lebih awal dari jadwal yang kita harapkan dan kemudian terjaga tanpa bisa memejamkan mata lagi, meski sebenarnya tubuh masih sangat membutuhkan istirahat.”

Menurut temuan dalam jurnal “Sleep Medicine Clinics”, risiko mengalami insomnia jenis ini memang meningkat seiring dengan pertambahan usia. Namun, kabar baiknya, para ahli menyatakan bahwa kita sebenarnya bisa mengatasi masalah ini secara mandiri.

Dr. Meredith Broderick, seorang ahli saraf yang fokus pada ilmu tidur, menegaskan bahwa terbangun dini hari sesekali masih tergolong normal. Akan tetapi, ia mengingatkan, “Kondisi ini baru dianggap sebagai insomnia lanjut jika terjadi setidaknya tiga kali dalam seminggu dan berlangsung terus-menerus selama minimal tiga bulan.”

Lalu, apa saja sih yang menjadi pemicu utama insomnia lanjut dan mengapa lansia paling rentan mengalaminya? Berikut tiga alasan utamanya menurut para pakar tidur.

1. Irama Sirkadian Berubah Secara Alami

Pertama-tama, perubahan irama sirkadian menjadi faktor kunci. Dr. William Lu, seorang dokter spesialis tidur, mengungkapkan kepada HuffPost bahwa jam biologis internal tubuh kita secara alami akan berubah seiring penuaan. Perubahan inilah yang kemudian berkontribusi besar pada munculnya insomnia lanjut.

“Seiring bertambahnya usia, jam internal tubuh kita mengalami pergeseran. Akibatnya, banyak lansia yang justru merasa mengantuk lebih awal di sore hari dan akhirnya terbangun jauh lebih pagi dari yang diinginkan,” jelasnya. Selain itu, Lu juga memaparkan bahwa lansia umumnya mengalami durasi tidur nyenyak yang lebih singkat dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam fase tidur ringan. Kondisi ini jelas membuat mereka menjadi sangat rentan terbangun di dini hari.

“Tidak hanya itu, produksi melatonin—hormon pengatur tidur—juga semakin menurun seiring usia. Penurunan ini secara langsung dapat menurunkan kualitas tidur secara keseluruhan,” tambahnya.

2. Perubahan Hormon yang Signifikan

Selanjutnya, khususnya bagi wanita, fase perimenopause dan menopause membawa perubahan hormonal drastis yang sangat mempengaruhi pola tidur, termasuk memicu insomnia lanjut. Dr. Lu kembali menerangkan, “Pada masa transisi menopause, perubahan level hormon—terutama penurunan estrogen dan progesteron—langsung mempengaruhi pusat tidur di otak dan mengacaukan irama sirkadian yang sudah terbentuk.”

Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Romie Mushtaq, seorang ahli saraf dan dokter pengobatan integratif. Ia menambahkan bahwa gelombang perubahan hormonal ini tidak hanya sendiri; seringkali ia dipadu dengan peningkatan hormon stres (kortisol) dan irama sirkadian yang sudah tidak teratur. Kombinasi inilah yang akhirnya memicu seseorang kerap terbangun di tengah malam dan sulit untuk kembali tidur.

3. Depresi dan Kecemasan yang Sering Diabaikan

Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah kondisi kesehatan mental. Para pakar kesehatan tidur menyatakan bahwa terbangun dini hari sesungguhnya merupakan gejala khas dari depresi. Dr. Lu memberikan penjelasan lebih lanjut, “Depresi dapat menyebabkan seseorang terbangun sangat pagi karena kondisi ini mengacaukan ritme sirkadian alami tubuh dan memicu peningkatan kadar kortisol yang terjadi lebih awal, yaitu pada pagi hari.”

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Langkah pertama dan paling penting untuk mengatasi insomnia lanjut adalah mengidentifikasi akar penyebabnya. Dengan mengetahui pemicunya, kita akan jauh lebih mudah menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika hot flashes membangunkanmu, segera gunakan sprei penyerap keringat dan turunkan suhu AC/kipas angin.

Masih bingung dan tidak tahu apa penyebab pastinya? Jangan khawatir, saatnya kamu menjadi detektif untuk tidurmu sendiri! Dr. Angela Holliday-Bell memberikan sejumlah saran praktis, “Mulailah dengan melacak kebiasaan tidurmu. Pertahankan jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, bahkan di akhir pekan. Ciptakan rutinitas sebelum tidur yang benar-benar menenangkan, seperti membaca buku atau mandi air hangat. Hindari kafein sejak sore dan jauhkan gadget satu jam sebelum tidur.

Segera konsultasi ke psikolog atau psikiater jika kamu curiga kesehatan mentalmu pemicu insomniamu. Langkah proaktif ini memberimu strategi terarah untuk mengelola depresi atau kecemasan, yang akhirnya mengembalikan tidur malammu yang nyenyak.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *