SAMARINDA, Checkbind.com – Dunia pendidikan kembali tercoreng! Seorang bocah kelas 1 SD di Samarinda Utara harus mengalami mimpi buruk di hari pertamanya sekolah. Bagaimana tidak? Dia justru menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (14/7/2025). Akibat kejadian ini, sang anak trauma berat dan memilih angkat kaki dari sekolah tersebut!
Bayangkan, baru pertama kali merasakan bangku SD, si kecil malah dapat “sambutan” yang bikin hati miris. Alih-alih mendapat teman baru, dia justru jadi bulan-bulanan body shaming dan kontak fisik oleh siswa kelas 6! Duh, siapa yang tega?
Detik-Detik Mengerikan Saat Perundungan Terjadi
Semua berawal saat jam istirahat MPLS. Penasaran dengan lingkungan barunya, korban yang masih polos itu memutuskan untuk menjelajah ke lantai atas. Tapi siapa sangka, di dekat kelas 6, dia malah jadi sasaran ledekan dan perlakuan kasar dari beberapa kakak kelas.
“Awalnya mungkin cuma candaan, tapi lama-lama berubah jadi kontak fisik,” ungkap Kepala SD tersebut, Nurul Hidayah, saat dikonfirmasi pada Jumat (18/7/2025). Menurutnya, situasi makin panas ketika baju salah satu pelaku sobek tak sengaja tertarik saat korban berlari. Emosi pun meledak!
Tanpa pikir panjang, pelaku yang kesal langsung menghajar korban sekali di bagian tubuh. “Bukan pemukulan berulang, tapi tetap tidak bisa dibenarkan,” tegas Nurul. Meski hanya sekali, pukulan itu cukup membuat korban shock dan enggan balik ke sekolah.
Laporan ke Polisi & Mediasi Alot
Mendengar kabar anaknya jadi korban, orang tua langsung gerak cepat! Mereka melaporkan kasus ini ke Polsek setempat. Namun, setelah melalui pertimbangan, kedua belah pihak akhirnya memilih jalur damai dengan mediasi.
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur turun tangan membantu. Koordinator Lapangan TRC PPA Samarinda Utara, Ayu, mengungkapkan bahwa mediasi sempat dilakukan dua kali karena di sesi pertama belum ada titik terang.
“Kami fasilitasi lagi mediasi kedua dengan melibatkan RT, guru, dan keluarga kedua pihak,” jelas Ayu. Akhirnya, setelah diskusi panjang, semua sepakat menyudahi kasus ini secara kekeluargaan.
Korban Sudah Move On & Dapat Sekolah Baru!
Kabar baiknya, kondisi psikologis korban kini sudah jauh lebih baik. “Alhamdulillah, dia sudah bisa beraktivitas normal lagi,” kata Ayu. Bahkan, TRC PPA sudah membantu mencarikan sekolah baru yang siap menerimanya dengan tangan terbuka.
TRC PPA berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Mereka menekankan pentingnya pengawasan ketat selama MPLS dan edukasi anti-bullying di sekolah dasar. “Jangan sampai ada lagi anak yang trauma karena perundungan,” tegas Ayu.
Pelaku Dapat Sanksi? Ini Kata Sekolah!
Nurul Hidayah memastikan bahwa pelaku sudah mendapatkan sanksi edukatif. “Kami beri pembinaan agar kejadian ini tidak terulang,” ujarnya. Sekolah juga berjanji akan memperketat pengawasan, terutama saat masa orientasi siswa baru.
Kasus ini jadi pengingat keras bagi kita semua! Bullying bukan hal sepele—dampaknya bisa membekas seumur hidup. Yuk, jaga lingkungan sekolah agar tetap aman dan nyaman untuk semua anak!
Kalau kamu pernah lihat aksi bullying, jangan diam! Laporkan ke guru atau orang tua agar korban bisa dapat pertolongan cepat.



