JAKARTA, checkbind.com – Presiden Prabowo Subianto dengan penuh percaya diri memamerkan keberhasilan pemerintahannya dalam meningkatkan produksi beras dan jagung nasional sebesar 50% saat berbicara di St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025, Rusia, Jumat (20/6/2025). Tak tanggung-tanggung, ia menyebut ini sebagai lonjakan produksi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga:Mengenal BMW E30: Ikon Mobil Lawas yang Tak Pernah Pudar
“Saya bangga berdiri di sini dan mengumumkan bahwa dalam tujuh bulan kepemimpinan kami, produksi beras dan jagung melonjak hampir 50%,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia. “Saat ini, kami memiliki cadangan beras pemerintah sebanyak 4,4 juta ton—angka tertinggi yang pernah tercatat!”
Menurutnya, pencapaian ini bukanlah kebetulan. Reformasi besar-besaran dalam efisiensi distribusi, pemberantasan korupsi, dan penyederhanaan regulasi menjadi kunci utama. “Kami bergerak cepat, dan hasilnya langsung terlihat,” tambahnya.
Target Swasembada Lebih Cepat
Prabowo bahkan optimis Indonesia bisa mencapai swasembada pangan dalam waktu lebih singkat. Awalnya, target swasembada diproyeksikan 4 tahun ke depan, namun kini ia yakin bisa dipercepat. “Dalam beberapa tahun, kami tidak hanya mandiri, tapi juga siap menjadi eksportir beras dan jagung,” ujarnya penuh keyakinan.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga telah mengonfirmasi keberhasilan ini. Dalam konferensi pers di Kantor Presiden (2/6/2025), ia mengungkapkan bahwa stok beras nasional tembus 4 juta ton—rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir.
“Ini bukan sekadar angka. Terakhir kali kita punya cadangan sebanyak ini adalah tahun 1984, saat stok mencapai 3 juta ton,” jelas Amran. Dengan kondisi saat ini, ia berharap Indonesia bisa bebas impor beras sepanjang 2025.
Percepatan Swasembada Jadi Kenyataan
Amran mengungkapkan, target swasembada yang awalnya 4 tahun kini bisa dipangkas menjadi 3 tahun. “Target Pak Presiden jelas: swasembada dipercepat. Tahun ini saja, kami berkomitmen untuk zero impor beras,” tegasnya.
Pencapaian ini tentu membawa angin segar bagi ketahanan pangan Indonesia. Dengan manajemen stok yang ketat dan pengawasan distribusi yang transparan, pemerintah berhasil membalikkan tren defisit menjadi surplus hanya dalam hitungan bulan.
Lonjakan produksi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas harga beras di dalam negeri, tetapi juga menguatkan posisi Indonesia di kancah global. Prabowo menegaskan, “Kami tak lagi ingin bergantung pada impor. Ini tentang kedaulatan bangsa.”
Analis menyatakan Indonesia bisa menjadi eksportir beras utama dalam 5 tahun jika konsistensi ini terjaga. Teknologi pertanian mutakhir dan regulasi efisien akan terus mendorong produktivitas semakin melesat.
Antusiasme Petani Lokal
Di lapangan, para petani menyambut baik kebijakan pemerintah. “Dulu pupuk susah didapat, sekarang lebih lancar. Harga jual juga lebih stabil,” kata Slamet, petani asal Jawa Tengah.
Bantuan benih unggul, kemudahan akses pembiayaan, dan perbaikan sistem irigasi menjadi motor penggerak utama. Hasilnya nyata: lahan-lahan tidur pun bangkit kembali dalam waktu singkat.
Meski optimis, pemerintah menyadari masih ada pekerjaan rumah. Perubahan iklim dan fluktuasi harga global tetap menjadi ancaman serius. Namun, dengan strategi mitigasi yang matang, Prabowo yakin semua bisa diatasi.
“Kami tidak akan berpuas diri. Ini baru langkah awal,” tandasnya.
Keberhasilan Indonesia dalam mencapai stok beras tertinggi sepanjang sejarah menjadi bukti bahwa reformasi sistemik membuahkan hasil. Jika konsistensi dijaga, mimpi menjadi lumbung pangan dunia bukan lagi sekadar wacana.
“Kami membuktikan bahwa dengan kerja keras dan integritas, tidak ada yang mustahil,” pungkas Prabowo, mengakhiri pidatonya di SPIEF 2025 dengan gemuruh tepuk tangan.



