TEHERAN, Checkbind.com – Panggung duka di Iran mendadak berubah drastis. Rombongan elit dari tiga kelompok militan paling disegani di Timur Tengah mendarat di Teheran. Mereka bukan sekadar melayat. Para panglima Hizbullah, Hamas, dan Houthi hadir dalam upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (4/7/2026). Kehadiran mereka langsung memicu spekulasi liar. Banyak pihak mencurigai ini sebagai isyarat babak baru konflik regional.
Ratusan ribu pelayat membanjiri Grand Mosalla. Di tengah hiruk-pikuk itu, ketiga faksi menunjukkan solidaritas penuh. Mereka adalah ujung tombak “Poros Perlawanan” selama ini. Mereka mengirimkan sinyal keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Pesannya jelas: perjuangan tidak akan padam, meskipun sang arsitek utama telah tiada.
Delegasi Hizbullah tiba dengan formasi mencolok. Petinggi senior mereka, Mohammed Fneish, memimpin langsung rombongan. Fneish adalah mantan menteri berpengaruh di Lebanon. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Rombongan besar turut membawa para keluarga syuhada. Para syuhada ini gugur dalam berbagai bentrokan dengan Israel. Mereka berjalan mantap memasuki kompleks pemakaman.
Hamas mengirimkan jajaran pimpinan tertinggi. Kepala biro politik mereka, Mohammed Darwish, memimpin delegasi. Tokoh kawakan seperti Bassem Naim turut mendampingi. Kehadiran Darwish terasa sangat istimewa. Pada Juli 2024 lalu, pendahulunya tewas di kota yang sama. Ismail Haniyeh gugur dalam operasi Israel yang kontroversial. Ia tertembak di kediamannya di Teheran. Kini, luka lama itu seolah terbalut oleh momen penghormatan terakhir ini.
Jihad Islam juga mengirimkan perwakilan. Pemimpin mereka, Ziyad al-Nakhalah, hadir dalam barisan depan. Dari Yaman, gerakan Houthi turut mengirim utusan senior. Dhaif Allah al-Shami datang memberikan penghormatan. Para tokoh ini kemudian bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Pertemuan berlangsung di sela-sela prosesi duka. Momen ini menjadi penting. Ia menunjukkan koordinasi militer dan politik tetap berjalan mulus. Kondisi geopolitik yang memanas tidak menyurutkan langkah mereka.
Suasana di Grand Mosalla tergambar sangat mengharu-biru. Ratusan ribu warga Iran tumpah ruah memenuhi kompleks megah itu. Mereka menciptakan lautan manusia berwarna hitam dan merah. Para pelayat memukul-mukul dada dengan kompak. Ritual duka khas Syiah ini menggambarkan kedalaman kehilangan. Sosok Khamenei telah memimpin negara sejak 1989. Kepergiannya terasa begitu berat.
Di angkasa, berkibar megah bendera-bendera merah. Para pelayat mengibarkannya tinggi-tinggi. Dalam tradisi setempat, warna merah melambangkan seruan pembalasan. Ia juga simbol penegakan keadilan. Bendera merah menjadi latar sempurna bagi peti mati kayu sang pemimpin. Peti itu diletakkan dengan khidmat di atas panggung tinggi. Sebuah sorban hitam khas turban ulama menghiasi bagian atasnya. Di sampingnya, terdapat empat peti mati lain. Keempatnya berisi anggota keluarga Khamenei. Mereka turut gugur dalam serangan dahsyat pada 28 Februari 2026 lalu.
Pembagian sektor antara pelayat pria dan wanita berlangsung ketat. Sekat-sekat pembatas memisahkan mereka. Hal ini justru menambah kesan khidmat. Kepadatan luar biasa tetap tertata dengan rapi. Potret-potret raksasa Ayatollah Khamenei terpajang di setiap sudut. Potret itu menghadirkan aura kehadiran sang tokoh. Ia seolah berada di tengah-tengah umatnya untuk terakhir kalinya.
Duka mendalam tidak menghapus eskalasi politik. Iran menjadi pemasok utama dana selama bertahun-tahun. Mereka juga memasok pelatihan dan persenjataan. Sasaran utamanya adalah Hamas di Gaza. Hizbullah di Lebanon juga menerima dukungan serupa. Houthi di Yaman pun tidak ketinggalan. Dukungan ini membuat ketiga kelompok masuk daftar hitam teroris. Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya memasukkan mereka dalam daftar tersebut. Akibatnya, Iran menjadi sasaran sanksi ekonomi internasional yang berkepanjangan.
Kehadiran para pemimpin “Poros Perlawanan” ini terjadi di saat kritis. Iran sedang berada dalam tekanan maksimal. Khamenei baru saja tewas. Para pengamat menilai momen duka ini sangat penting. Ia bukan hanya soal kehilangan seorang pemimpin. Kelangsungan ideologi yang ia bangun juga dipertaruhkan. Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel. Serangan itu terjadi pada akhir Februari lalu. Insiden ini langsung mengubah peta politik global.
Namun, para pendukung memiliki pandangan berbeda. Kehadiran para sekutu dari Lebanon, Palestina, hingga Yaman menjadi bukti nyata. Poros perlawanan tidak akan runtuh hanya karena satu orang tiada. Mereka tetap solid dan bersatu.
Hari Jumat sebelumnya, sebagian besar pejabat asing sudah lebih dulu datang. Mereka memberikan penghormatan terakhir. Namun, eskalasi justru terjadi pada hari Sabtu. Massa kembali berkumpul dengan semangat lebih membara. Mereka mengantar perjalanan terakhir pemimpin mereka. Kelompok-kelompok bersenjata dari Irak juga turut hadir. Mereka merupakan bagian dari jaringan sekutu Iran. Kedatangan mereka menambah deretan panjang kekuatan. Semua elemen ini bersatu padu. Mereka mengesampingkan perbedaan geografis dan etnis. Satu tujuan menyatukan mereka: meneruskan perjuangan Khamenei. Tekanan internasional dan serangan militer tidak akan memadamkan semangat ini.
Di sela-sela kepungan pelayat, diskusi tertutup berlangsung. Para pemimpin Hizbullah, Hamas, dan Houthi duduk bersama Menlu Araghchi. Mereka membahas langkah-langkah strategis ke depan. Detail pembicaraan tidak dipublikasikan. Namun, banyak analis yakin agresi balasan menjadi topik utama. Targetnya adalah pos-pos AS dan Israel di kawasan tersebut. Mereka memandang pemakaman ini sebagai momentum penting. Momentum untuk memperkuat koordinasi. Mereka juga ingin menunjukkan sikap kepada dunia. Dukungan Iran kepada mereka tidak akan terputus. Kepemimpinan baru pun akan melanjutkan tradisi ini.
Sorotan dunia kini tertuju pada Teheran. Suasana haru, kemarahan, dan tekad berbaur menjadi satu. Ribuan warga memenuhi kompleks Grand Mosalla. Mereka tidak hanya datang untuk menangis. Mereka bersumpah setia melanjutkan jalan perlawanan. Pemimpin mereka mungkin telah tiada. Namun, gema semangat juangnya terus berkumandang. Setiap pukulan dada para pelayat menggemakan tekad itu. Bendera merah berkibar dengan gagahnya. Sorban hitam di atas peti mati menjadi saksi bisu. Perjuangan ini masih panjang. Pertarungan di kawasan Timur Tengah tampaknya akan terus berlanjut.
Kepergian Ali Khamenei menyisakan lubang besar. Hati rakyat Iran dan para pendukungnya terasa hampa. Namun, gelombang solidaritas dari para pemimpin faksi bersenjata menunjukkan satu hal. “Poros Perlawanan” yang ia bangun tidak akan bubar. Puluhan tahun pembangunan tidak sia-sia. Di atas panggung duka, mereka menemukan panggung baru. Mereka menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan. Mereka siap membalas dendam. Dan siap mempertahankan warisan sang pemimpin agung.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.



