Militer Israel Kuasai Puncak Beaufort di Lebanon, Netanyahu Janjikan Ekspansi Serangan

Diposting pada 14 views

Checkbind.com – Lebanon selatan kembali bergetar! Pasukan Israel berhasil merebut puncak bukit strategis yang dihiasi kastil legendaris peninggalan Perang Salib, Beaufort. Aksi blitz ini terjadi pada Minggu (31/5/2026) dan langsung mengubah peta kekuatan di kawasan tersebut. Namun yang lebih mencengangkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih belum puas. Ia bersumpah bakal memperluas serangan ke Lebanon setelah keberhasilan ini.

“Kami Lebih Kuat dari Sebelumnya!”

Netanyahu pun langsung melontarkan pernyataan video yang menggelegar. “Hari ini, kami kembali ke Beaufort dengan cara yang berbeda. Kami kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya dengan nada penuh kemenangan. Media AFP mengutip pernyataan ini pada Senin (1/6/2026). Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perebutan Beaufort bukan sekadar operasi biasa. “Ini adalah tahapan dramatis sekaligus perubahan dramatis dalam kebijakan yang kami pimpin. Kami telah menghancurkan tembok ketakutan,” sambungnya dengan percaya diri.

Kilas Balik: Kastil yang Pernah Dikuasai Israel

Ternyata, kastil megah ini bukanlah tempat asing bagi militer Israel. Dulu, mereka menggunakan Beaufort—yang juga populer dengan nama Qalaat al-Chakif—sebagai markas selama pendudukan yang berakhir pada tahun 2000. Kini, dentuman suara keras kembali menggema dan asap hitam mengepul dari area sekitar. Bahkan, bendera Israel dengan sombongnya berkibar di atas kastil bersejarah tersebut.

Netanyahu pun tak main-main. “Sekarang arahan saya adalah untuk memperdalam dan memperluas cengkeraman kita di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah,” tegasnya. Artinya, ini baru awal dari babak baru konflik yang lebih panas!

Menteri Pertahanan Israel Ikut Angkat Bicara

Tak ketinggalan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, ikut membeberkan keuntungan strategis dari kastil ini. Ia menjelaskan bahwa benteng bersejarah tersebut menawarkan pemandangan luas ke seluruh wilayah Lebanon selatan. “Empat puluh empat tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik, dan hari ini kita memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama (1982), pasukan kami telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana,” jelas Katz dengan penuh semangat patriotik.

Meskipun para pemimpin tertinggi Israel memuji perebutan ini sebagai kemenangan besar, kenyataan di lapangan justru membangkitkan kenangan pahit bagi kedua negara. Selama hampir dua dekade pendudukan Israel di Lebanon selatan, pertempuran mematikan kerap terjadi di area ini. Jadi, meskipun bendera Israel berkibar, luka lama kembali terasa perih bagi warga setempat.

Evakuasi Massal dan Teror Warga Sipil

Operasi militer ini langsung memicu kekacauan di kalangan warga sipil. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran untuk daerah-daerah di selatan Sungai Zahrani, utara Litani, dan sekitar 40 kilometer dari perbatasan. Mereka bahkan menyatakan sebagian besar wilayah Lebanon selatan sebagai zona pertempuran! Akibatnya, lebih dari 1 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka. Tak hanya itu, pasukan Israel juga meratakan desa-desa di dekat perbatasan dengan Israel.

Di sebuah tempat penampungan pengungsi di Sidon, kota terbesar di Lebanon selatan, Zeinab Fakih asal Nabatieh tak bisa menyembunyikan ketakutannya. “Tidak mungkin bagi kami untuk kembali ke rumah, karena kota ini hancur total,” katanya dengan suara bergetar. Namun berbeda dengan Issa Tfaily, pengungsi lain dari Nabatieh. Ia justru menyimpan secercah harapan. “Kami akan kembali, jika tidak hari ini, maka besok, selama masih ada perlawanan,” ujarnya penuh tekad. Penduduk dari komunitas besar seperti Nabatieh pun mendapat perintah langsung untuk meninggalkan rumah mereka.

Dengan direbutnya Kastil Beaufort, Israel menunjukkan kekuatan militernya yang luar biasa. Namun Netanyahu sendiri mengakui bahwa ini baru permulaan. Arahan untuk memperluas cengkeraman di wilayah Hizbullah jelas menjadi ancaman serius. Di sisi lain, lebih dari satu juta jiwa kini terlantar, rumah-rumah hancur, dan masa depan Lebanon selatan kembali diselimuti ketidakpastian. Satu hal yang pasti: pertempuran ini belum berakhir, dan dunia kini menahan napas menyaksikan babak selanjutnya dari drama berdarah di Timur Tengah.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *