Mahasiswa Surabaya Jadi Korban Pemerasan Oknum Polisi

Diposting pada 5 views

SURABAYA, checkbind.com – Seorang mahasiswa di Surabaya menjadi korban pemerasan oleh oknum polisi. Aksi ini membuat korban kehilangan uang hingga Rp 650.000. Kejadian ini memicu kemarahan publik, terutama karena pelaku memakai seragam penegak hukum.

Baca Juga: Kapal Tanker Terbakar di Batam, 5 Pekerja Terluka

Awal Mula Kejadian
Djumadi (60), ayah korban, menceritakan bahwa anaknya, KV (23), bersama temannya, RA (23), baru saja menghadiri acara kondangan di Pondok Candra, Waru, Sidoarjo, pada Kamis (19/06/2025). Setelah acara selesai, mereka memutuskan pulang ke Surabaya melalui Tol Tambak Sumur, Krian.

Namun, saat melanjutkan perjalanan, KV tanpa sengaja menyenggol seorang pengendara motor dengan mobil yang ia kendarai. “Tabrakan itu sangat pelan, tidak ada yang terluka. Mereka sudah saling memaafkan, dan masalahnya selesai,” jelas Djumadi.

Datangnya Oknum Polisi
Begitu KV dan RA hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dua orang mendekati mobil mereka. Satu mengenakan seragam polisi, satunya lagi berpakaian sipil. Mereka mengaku sedang mengawasi operasi gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan wartawan.

Tanpa basa-basi, salah satu oknum itu langsung menuduh KV dan RA melakukan tindakan asusila. Kedua mahasiswa itu tentu membantah karena memang tidak melakukan hal tersebut. Namun, oknum polisi itu tak mau mendengarkan penjelasan mereka. Dia malah memaksa RA pindah ke kursi depan dan menyuruh KV pindah ke bangku belakang.

Dibawa Berkeliling dan Diancam
Mobil KV kemudian dibawa berputar-putar di sekitar Surabaya Timur. Oknum polisi itu terus mengancam akan membawa mereka ke Mapolda Jatim jika tidak menuruti permintaannya. “Dia bilang, ‘Biar sama-sama enak, saya usahakan biar gampang. Butuh uang Rp 7-10 juta’,” ungkap Djumadi menirukan ucapan pelaku.

Karena tidak memiliki uang sebanyak itu, KV dan RA hanya bisa menawarkan Rp 650.000 yang ada di tabungan. Pelaku pun setuju dan mengantar mereka ke minimarket di Jalan Ahmad Yani untuk mengambil uang tersebut melalui ATM.

Penolakan Transfer dan Pengakuan Polsek
Menariknya, pelaku menolak jika uangnya ditransfer. Dia juga tidak mau memberikan nomor teleponnya. “Katanya uang itu untuk mencabut laporan. Djumadi menceritakan, saat anaknya menawarkan untuk dibawa ke Polda, oknum polisi itu justru menolak dengan alasan, ‘Jangan, nggak enak sama teman-teman’.

Kapolsek Tandes, AKP Julkifli Sinaga, akhirnya mengonfirmasi bahwa pelaku pemerasan tersebut adalah anggota polisi berinisial Bripka H. “Yang bersangkutan sudah diamankan dan sedang ditangani Propam Polrestabes Surabaya. Keterangan lebih lanjut akan disampaikan Kasi Humas,” tegas Julkifli.

Reaksi Publik dan Tuntutan Keadilan
Kasus ini langsung menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Banyak netizen menuntut tindakan tegas terhadap oknum polisi yang terlibat. “Ini bukti ada oknum yang memanfaatkan seragam untuk keuntungan pribadi,” tulis salah satu warganet.

Sementara itu, pihak keluarga korban berharap proses hukum berjalan transparan. “Kami ingin keadilan, bukan sekadar pemeriksaan biasa,” tegas Djumadi.

Hingga berita ini diturunkan, Bripka H masih menjalani pemeriksaan internal oleh Divisi Propam. Polrestabes Surabaya memastikan akan memberikan sanksi tegas jika terbukti bersalah.

Kepolisian mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak main hakim sendiri. “Kami pastikan proses hukum berjalan objektif,” tambah Julkifli.

Kejadian ini kembali mempertanyakan integritas sebagian oknum aparat. Masyarakat harus selalu waspada dan segera melaporkan jika mengalami hal serupa.

“Jangan ragu laporkan ke Propam atau Kompolnas jika ada pemerasan seperti ini,” pesan seorang aktivis hukum.

Kami berharap penanganan cepat ini bisa mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *