KKP Minta Gerai Kuliner KNMP Banyuwangi Utamakan Olahan Ikan Lokal

Diposting pada 0 views

Checkbind.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru saja menyemprot pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng, Banyuwangi. Sebab, pejabat kementerian menemukan pemandangan yang sangat mengejutkan saat menggelar inspeksi lapangan. Padahal, publik mengharapkan deretan gerai di sentra kuliner pesisir ini menjual hidangan laut segar. Namun, para pedagang di kawasan tersebut justru memajang ribuan makanan kemasan instan buatan pabrik. Bahkan, fenomena aneh ini langsung memicu rasa kecewa mendalam dari rombongan pejabat KKP. Tak heran jika temuan ini mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat pesisir Banyuwangi. Bahkan, publik pesisir menyambut antusias kegiatan inspeksi ini.

Oleh karena itu, pihak KKP langsung bertindak tegas dengan menyampaikan desakan kuat kepada pengelola kawasan. Mereka meminta gerai kuliner KNMP Lateng segera memprioritaskan penjualan produk olahan hasil perikanan lokal. Selain itu, kementerian ingin melibatkan Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) secara penuh. Warga lokal sejatinya memproduksi olahan ikan tersebut secara mandiri di rumah mereka. Maka dari itu, langkah intervensi strategis ini sangat krusial agar kawasan ikonik Banyuwangi tidak kehilangan roh pesisirnya. Sebab, KKP ingin menjadikan tempat ini sebagai ikon kebanggaan Banyuwangi.

Selanjutnya, Kepala Pusat Standardisasi dan Sertifikasi SDM KKP, Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani, memberikan evaluasi mendalam. Beliau sebenarnya sangat mengagumi konsep tematik kuliner KNMP Lateng yang amat unik dan menarik. Namun demikian, beliau sangat menyayangkan kondisi riil di lokasi yang kurang sejalan dengan perencanaan awal. Bahkan, beliau mendapati produk perikanan hasil kreativitas kelompok masyarakat lokal justru terabaikan. Warga sama sekali tidak menampilkan hasil olahan laut unggulan mereka pada etalase utama sentra kuliner ini. Padahal, penataan ruang kawasan ini sejatinya sangat memanjakan mata para pengunjung.

“Bahkan, kalau saya perhatikan, gerai-gerai ini mayoritas menjual makanan kemasan instan,” tegas Anastasia penuh keprihatinan. Beliau menyampaikan teguran terbuka ini di tengah suasana Peringatan Bulan Bakti HUT ke-27 KKP. Acara kementerian tersebut berlangsung meriah di lokasi KNMP Lateng pada Rabu (4/11/2026). Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa variasi produk olahan ikan kreasi warga pesisir malah belum muncul sama sekali. Akibatnya, pernyataan jujur pejabat pusat ini langsung menjadi cermin evaluasi besar bagi pengelola setempat. Sontak saja, teguran terbuka ini mengejutkan para pengelola gerai setempat.

Padahal, para anggota Poklahsar di penjuru Banyuwangi sudah berhasil menciptakan beragam inovasi produk olahan laut. Selain itu, warga pesisir memproduksi olahan makanan bergizi tinggi seperti bakso seafood, kerupuk ikan, dan abon. Di samping itu, deretan produk unggulan masyarakat pesisir tersebut sebenarnya sudah sangat siap untuk dipasarkan. Oleh sebab itu, para pedagang bisa langsung memajang hasil olahan ikan ini di gerai-gerai KNMP Lateng. Dengan demikian, wisatawan dapat menikmati kuliner khas Banyuwangi dengan mudah saat berkunjung. Maka dari itu, potensi besar olahan laut lokal tidak boleh terbuang sia-sia.

Oleh karena itu, Anastasia mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi agar segera bertindak cepat. Pemda harus membantu mempertemukan dan menghubungkan kelompok Poklahsar dengan para pengelola gerai kuliner. Langkah konkret ini akan membuka akses pemasaran yang luas bagi produk olahan ikan lokal. Di samping itu, kementerian memberikan sinyal hijau apabila pemda berniat menambah unit gerai baru. Maka dari itu, pemda dapat mengajukan usulan penambahan fasilitas tersebut secara resmi kepada KKP. Langkah ini akan menjamin ketersediaan pasokan olahan laut segar setiap hari.

Selanjutnya, Anastasia menerangkan bahwa keberadaan kawasan terpadu KNMP sejatinya harus menghubungkan seluruh mata rantai usaha perikanan. Alur bisnis perikanan yang ideal wajib mengintegrasikan setiap tahapan kegiatan secara solid tanpa terputus. Sebab, proses bisnis bermula dari perjuangan nelayan melaut untuk menangkap ikan segar di tengah samudra. Kemudian, para petugas menangani hasil tangkapan tersebut secara higienis di area TPI pesisir. Pada akhirnya, mata rantai ini bermuara pada pemasaran produk olahan siap saji kepada para konsumen. Dengan begitu, seluruh mata rantai usaha perikanan dapat berjalan selaras dan lancar.

Sebab itulah, sarana dan prasarana fisik modern yang ada wajib mendukung kegiatan usaha warga pesisir. Pemerintah membangun berbagai fasilitas publik ini demi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal secara nyata. Selain itu, pengoperasian sarana penunjang tersebut mestinya mampu mendongkrak nilai tambah komoditas hasil laut. Akibatnya, pendapatan para nelayan dan pengolah ikan di Lateng akan meningkat secara signifikan. Dengan demikian, keberadaan sentra ini benar-benar membawa dampak nyata bagi warga.

Kendati demikian, Anastasia menilai kondisi fisik bangunan dan tata kawasan pesisir Lateng saat ini sudah baik. KKP mengakui estetika kawasan ini sangat memadai untuk menjadi destinasi wisata kuliner unggulan. Namun, ritme pergerakan roda usaha di dalam sentra ini ternyata belum terhubung secara optimal. Akibatnya, sinergi antarsektor usaha perikanan di kawasan Lateng terkesan masih berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Oleh karena itu, perbaikan manajemen kawasan menjadi hal yang sangat mendesak.

“Jujur saja, saya belum melihat bagaimana business process berjalan dari area belakang hingga ke gerai depan,” seloroh Anastasia. Beliau menyampaikan keheranannya karena alur bisnis di kawasan ini tampak membingungkan dan tidak efisien. Sebab, rekan-rekan Poklahsar belum bisa menyalurkan dan menjual dagangannya di warung-warung yang tersedia. Bahkan, ketiadaan alur distribusi yang jelas ini merugikan para pengolah ikan lokal di Banyuwangi. Oleh sebab itu, pengelola kawasan harus segera membenahi alur pemasaran produk warga.

Akhirnya, Anastasia menaruh harapan sangat besar terhadap masa depan sentra kuliner KNMP Lateng Banyuwangi. Beliau ingin kawasan ini tidak sekadar menjadi tempat dengan deretan bangunan fisik yang memadai. Sebaliknya, kawasan sentra maritim ini harus sanggup menggerakkan roda ekonomi rakyat pesisir secara berkelanjutan. Di samping itu, pengelola wajib membuka kesempatan kerja baru yang luas bagi warga sekitar. Dengan begitu, taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat nelayan Lateng dapat meningkat dengan cepat. Pada akhirnya, keberhasilan KNMP Lateng akan menjadi percontohan bagi wilayah pesisir lainnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *