KUPANG, Checkbind.com – Angin kencang menerpa dua helai baju yang tergantung di tali jemuran, membuatnya terjatuh ke tanah pada Sabtu (14/6/2025) siang. Dengan suara tegas, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Yunus Labba (45) meminta dua remaja putri segera memungutnya. Tanpa berlama-lama, kedua gadis itu langsung mengambil baju tersebut dan membawanya ke dalam garasi mobil.
Di depan rumah bercat hijau dengan keramik putih milik Ipda Yunus, puluhan remaja dan anak-anak berlarian dengan riang. Rumahnya yang terletak di Jalan HR Koroh Kilometer 8, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu bukan sekadar tempat tinggal—melainkan juga Panti Asuhan Generasi Pengubah.
Panti dua lantai itu menjadi rumah bagi 115 anak yatim piatu dan telantar dari berbagai suku di NTT, seperti Timor, Alor, Flores, Rote, Sabu, dan Sumba. Mereka tidak hanya mendapat tempat tinggal dan makanan, tetapi juga pendidikan layak hingga perguruan tinggi. Bahkan, Yunus yang juga seorang pendeta Kristen Protestan, membekali mereka dengan kedisiplinan dan kerohanian.
“Saya mendidik mereka agar disiplin sejak dini. Waktu ibadah, makan, belajar, hingga berangkat sekolah harus tepat waktu. Hal-hal kecil yang tidak beres di rumah pun harus segera dibereskan,” ujar Ipda Yunus saat berbincang dengan Kompas.com di tengah teriknya siang Kupang.
Awal Mula Kepedulian yang Berbuah Panti Asuhan
Sebelum mendirikan panti pada 2017, Yunus sudah menampung anak-anak telantar sejak 2007. Jiwa sosialnya tumbuh dari pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan melawan kemiskinan. Ketika akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai polisi, tekadnya bulat: membantu anak-anak yang kurang beruntung.
Semuanya berawal saat ia menikah dengan Marselina Wunda Laba (38), wanita asal Sumba, pada 2006. Tak lama setelah pernikahan, lima anak dari keluarga tidak mampu yang masih memiliki hubungan kerabat ikut tinggal bersamanya.
Jumlah anak asuhnya terus bertambah: 14 anak pada 2009, 19 anak pada 2012, 24 anak pada 2014, dan 28 anak pada 2016. Saat itu, gajinya sebagai Briptu pas-pasan, namun ia berusaha keras memenuhi kebutuhan mereka.
Suatu hari, persediaan makanan habis. Mereka terpaksa makan ubi pahit dari kebun belakang panti. “Beras benar-benar habis. Kami masak ubi pahit dan makan seadanya. Syukurlah, keesokan harinya komandan saya memberi bantuan Rp 1 juta. Uang itu langsung saya belikan beras, sayur, dan bensin,” kenang Yunus.
Berkorban demi Masa Depan Anak-anak
Sebagai Kapolsek Amarasi Timur, Yunus tak hanya mengandalkan gaji. Ia rela menggadaikan SK pengangkatannya demi membiayai panti. Bahkan, ia mengambil kerja sampingan sebagai pendeta dan pembicara seminar untuk menambah penghasilan.
Meski jalan terjal, ia tak pernah menyerah. “Saya percaya, setiap tetes keringat dan pengorbanan ini akan berbuah manis suatu hari nanti. Saya ingin melihat mereka sukses dan mengubah hidup mereka sendiri,” ujarnya penuh haru.
Kini, Panti Asuhan Generasi Pengubah bukan sekadar tempat tinggal—melainkan bukti nyata dedikasi seorang polisi yang menjadikan pelayanan sebagai panggilan hati.



