Isu Kembai Memanas, Trump Kini Serius Ingin Membeli Greenland

Diposting pada 4 views

Checkbind.com – Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara mengejutkan membocorkan keinginan Presiden Donald Trump di depan parlemen. Rupanya, Trump lebih memilih untuk membeli Greenland daripada langsung menyerangnya. Pernyataan kontroversial ini ia sampaikan dalam sebuah pengarahan tertutup pada Senin (5/1/2026).

Awalnya, fokus pengarahan itu sebenarnya adalah krisis Venezuela. Namun, para anggota parlemen justru menyoroti niat Trump terhadap pulau es raksasa itu. Pada hari yang sama, Trump juga memerintahkan stafnya untuk memperbarui rencana pembelian tersebut. Berita ini dikonfirmasi oleh laporan New York Times pada Selasa (6/1/2026).

Sayangnya, Rubio tidak memberikan detail lebih lanjut tentang rencana besar ini. Padahal, latar belakang Trump sebagai pengembang properti di New York selama puluhan tahun sangat mempengaruhi caranya berpikir. Salah satu diplomat kuncinya, Steve Witkoff, pun berasal dari dunia yang sama. Obsesi Trump terhadap Greenland diketahui telah ada sejak masa jabatan pertamanya.

Greenland sendiri adalah wilayah otonom dengan populasi jarang di bawah kedaulatan Denmark, sekutu AS di NATO. Denmark mulai menguasai Greenland pada abad ke-18 dan memberikannya status otonomi di abad ke-20.

Namun, Denmark dan sekutu-sekutunya tidak tinggal diam. Pada Selasa (7/1/2026), enam pemimpin NATO bergabung dengan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen. Mereka mengeluarkan pernyataan bersama yang menolak keras keinginan Trump. Negara-negara pendukung itu antara lain Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Polandia.

Dalam pernyataan bersama itu, mereka menegaskan seluruh sekutu NATO harus menjaga keamanan di Arktik secara kolektif. Mereka juga menuntut semua pihak menghormati prinsip kedaulatan dan integritas teritorial berdasarkan Piagam PBB. Selain itu, mereka bersikeras hanya rakyat Greenland dan Pemerintah Denmark yang berhak menentukan masa depan Greenland.

Di sisi lain, Gedung Putih justru tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan cara paksa. Juru Bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa Trump tidak mengesampingkan opsi invasi militer. Menguasai Greenland disebut sebagai prioritas keamanan nasional AS untuk melawan musuh di Arktik. Leavitt menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer selalu menjadi opsi bagi presiden selaku panglima tertinggi.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan anggota parlemen AS sendiri. Senator Jeanne Shaheen dan Senator Thom Tillis mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mendesak pemerintah untuk menghormati sekutunya. Peringatan diberikan bahwa memaksa sekutu NATO akan merusak prinsip dasar aliansi tersebut.

Lalu, apa yang mendorong Trump begitu ngotot? Pada Minggu (4/1/2026), ia membuat klaim mengejutkan kepada wartawan. Trump mengatakan Greenland kini dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China. Faktanya, meski kedua negara aktif di Arktik, klaim tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru AS yang telah memiliki Pangkalan Udara Thule di Greenland.

Alasan lainnya adalah kekayaan mineral Greenland yang sangat melimpah. Strategi Keamanan Nasional Trump juga menekankan dominasi di Belahan Barat. Pola ini terlihat dari kampanye militer terhadap Venezuela dan rencananya atas Kanada. Keinginan membeli Greenland adalah bagian dari pola pikir ekspansif yang lebih besar.

Akhirnya, ambisi Trump telah memicu krisis diplomatik dengan sekutu terdekat. Dunia kini menunggu langkah Trump selanjutnya. Apakah ia akan bertahan pada pendekatan bisnis atau beralih ke ancaman militer? Ketegangan di Arktik semakin memanas, menjadikan Greenland pusat perhatian global.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *