KABUPATEN BOGOR, checkbind.com – Jalan rusak di sepanjang Jalan Mohamad Toha hingga Jalan Raya Sudamanik, Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak hanya mengancam keselamatan pengendara. Lebih dari itu, kondisi ini secara langsung memukul penghasilan warga yang menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut.
Baca Juga:Carlos Cuesta, Pelatih Parma 29 Tahun: Sensasi Murid Mikel Arteta yang Siap Guncang Serie A
Di antara korban jalan rusak, Santor Jones (64), pemilik bengkel yang sudah puluhan tahun berjualan di pinggir jalan, merasakan dampak paling nyata. “Jalan depan bengkel saya yang tak kunjung diperbaiki ini terus memotong omzet saya,” tukasnya sambil membersihkan debu yang menempel di meja kerja.
“Omzet saya turun drastis!” Santor memukul meja kerjanya yang berdebu saat berbincang dengan kami di bengkelnya, Jumat pekan lalu. Ia menjelaskan, setiap kali duduk di teras bengkel, debu dan batu yang terpantul dari bawah truk langsung menerpa. “Apalagi kalau cuaca panas, abunya luar biasa tebal,” tambahnya.

Tak hanya mengganggu kenyamanan, debu yang mengepul setiap hari membuat pelanggan enggan mendatangi bengkelnya. Bahkan, banyak pengendara motor memilih jalur alternatif untuk menghindari lubang besar dan batu-batu tajam yang berserakan.
“Debunya banyak banget. Saya tutup bengkel pas Maghrib, besok pagi buka lagi, udah kayak kapur semua,” keluhnya.
Perbaikan Sekadarnya, Tak Pernah Tuntas
Selama enam tahun menetap di Parung Panjang, Santor mengaku belum pernah melihat perbaikan jalan yang menyeluruh. Pemerintah setempat hanya menutupi lubang dengan batu agar terkesan rata, tapi solusi itu tidak bertahan lama.
“Mereka cuma menumpuk batu di lubang, tidak pernah menuang cor beton!” Santor memicingkan mata melihat jalan rusak di depan bengkelnya. “Terakhir menambal dua tahun lalu, sekarang lubangnya muncul lagi lebih dalam,” geramnya sambil menendang kerikil di jalan.
Akibatnya, banyak pelanggan yang mengeluh setiap kali datang.
Santor berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki jalan secara permanen, bukan sekadar tambal sulam. “Kalau terus begini, makin sepi yang lewat. Usaha makin berat. Kita juga enggak tahu harus ngadu ke siapa lagi,” ucapnya dengan nada putus asa.
Ia menegaskan, perbaikan jalan bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga menyangkut kelangsungan usaha warga seperti dirinya. “Kami butuh solusi, bukan janji,” tandasnya.
Selain mengganggu usaha warga, jalan rusak ini juga meningkatkan risiko kecelakaan. Truk-truk besar yang melintas seringkali melemparkan batu kerikil ke arah pengendara motor. Belum lagi lubang-lubang dalam yang bisa membuat kendaraan oleng.
Beberapa warga sekitar bahkan menyebutkan, beberapa kali terjadi kecelakaan karena pengendara mencoba menghindari lubang. “Kalau hujan, lubangnya kebanjiran dan jadi jebakan,” kata seorang pedagang kaki lima yang enggan disebutkan namanya.
Merespons keluhan warga, sejumlah tokoh masyarakat setempat telah mengajukan permohonan perbaikan jalan ke pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada realisasi yang konkret.
“Kami sudah beberapa kali mengirim surat, tapi responsnya lambat. Padahal, ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujar Ketua RT setempat.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor menyatakan sedang memprioritaskan perbaikan jalan di beberapa titik. Namun, mereka belum bisa memastikan kapan jalan di Parung Panjang akan ditangani.
Nasib Warga Kian Terpuruk
Bagi Santor dan warga lainnya, kondisi jalan yang buruk bukan sekadar masalah ketidaknyamanan, tapi sudah merembet ke masalah ekonomi. Omzet bengkelnya terus menurun, sementara biaya operasional seperti membersihkan debu setiap hari justru bertambah.
“Kalau begini terus, saya mungkin harus pindah usaha. Tapi mau pindah ke mana? Ini kan tempat saya cari nafkah puluhan tahun,” ujarnya lirih.
Warga Parung Panjang menunggu tindakan nyata dari pemerintah. Mereka lelah dengan janji-janji yang tak kunjung terealisasi. “Kami butuh jalan yang layak, bukan sekadar perbaikan ala kadarnya,” tegas Santor.
Sampai kapan mereka harus menunggu? Jawabannya masih menggantung. Sementara itu, debu dan lubang jalan terus menggerus penghasilan dan kesabaran warga.
Cerita Santor hanyalah satu dari sekian banyak keluhan warga Parung Panjang. Jalan rusak bukan hanya merusak kendaraan, tapi juga menghancurkan usaha kecil yang menjadi tulang punggung keluarga.
Mereka berharap suaranya didengar. Bukan hanya oleh media, tapi juga oleh pihak berwenang yang memiliki kuasa untuk mengubah nasib mereka. Sebab, di balik debu dan lubang jalan itu, ada nyawa, harapan, dan masa depan yang terus terkikis.



