Checkbind.com – Seorang pendaki asal Kroasia mengalami cedera parah di Gunung Kinabalu. Tim SAR berhasil menyelamatkan sang pendaki dari jalur tidak resmi kawasan Taman Kinabalu. Namun demikian, ia membantah tuduhan sengaja menerobos area terlarang tersebut.
Selain itu, ia menegaskan tidak pernah berniat menghindari pembayaran tiket masuk resmi.
Oleh karena itu, otoritas setempat menjatuhkan sanksi denda maksimal sebesar RM 25.000 atau Rp 109 juta kepada Mauro Persic (46). Tindakan tegas ini berlaku akibat pelanggaran memasuki kawasan Taman Kinabalu tanpa izin resmi pada awal bulan ini.
Selanjutnya, harian The Star melaporkan perkembangan kasus ini pada Minggu (20/9/2026). Persic membenarkan bahwa ia telah melunasi seluruh sanksi denda tersebut pada hari Jumat.
Lalu, pria yang berdomisili di London ini membagikan cerita di balik aksinya lewat media sosial. Ia mengaku mengambil keputusan mendaki gunung setinggi 4.095 mdpl ini secara murni spontan. Dorongan kuat muncul saat matanya pertama kali menyaksikan keindahan Gunung Kinabalu secara langsung.
“Yang ingin saya lakukan hanyalah menjelajahi keindahan Kinabalu yang memikat saat pertama kali melihatnya. Saya melakukannya secara spontan dan tidak cukup memikirkan serta mempertimbangkannya dengan matang,” ujar Mauro Persic di media sosialnya.
Menegaskan Rasa Hormat pada Budaya Masyarakat Kadazandusun
Bahkan, Persic mengklaim selalu menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan di sepanjang rute pendakian.
Ia menjamin tidak pernah meninggalkan jejak sampah sedikit pun di area hutan. Di samping itu, ia sengaja memutar rute dan menghindari area puncak-puncak utama. Langkah ini ia ambil demi menghormati kesakralan gunung bagi masyarakat suku Kadazandusun.
Oleh sebab itu, Persic menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh masyarakat Sabah. Ia mengutarakan rasa penyesalannya jika tindakan nekat mendaki tanpa izin resmi telah menyinggung warga tempatan.
“Saya ingin meminta maaf kepada seluruh masyarakat Sabah yang merasa saya tidak menghormati mereka,” tulis Persic.
“Saya tidak pernah bermaksud meremehkan masyarakat, budaya, maupun gunung tersebut,” tegasnya.
Maka dari itu, ia memuji setinggi langit keramahtamahan warga tempatan. Selama memburu momen di Malaysia, masyarakat Sabah selalu memperlakukannya dengan sangat hangat.
Kronologi Evakuasi Berbahaya dan Foto Pendakian
Sambil menyebut gunung sakral ini dengan nama lokal “Aki Nabalu”, Persic memamerkan foto pendakiannya. Ia mengambil dokumentasi menarik tersebut saat menelusuri jalur berbahaya Sungai Mesilou di dataran tinggi timur.
“Formasi granit yang indah, pepohonan kerdil, puncak-puncak gunung berkabut tanpa nama, vegetasi hutan hujan tropis, dan sejujurnya sangat sedikit hewan,” tulis Persic menceritakan lanskapnya.
“Semua ini dapat kita jumpai dalam area kecil beradius 10 kilometer. Sering kali saya merasa seperti penyusup di dunia yang harmonis dan belum terjamah ini,” lanjutnya.
Namun, aksi pendakian ilegal ini akhirnya terbongkar pada 6 September. Persic mendadak memancarkan sinyal darurat SOS usai menderita cedera dan terjebak di tebing terjal.
Merespons sinyal SOS tersebut, tim penyelamat segera meluncurkan operasi SAR berisiko tinggi. Petugas berhasil menemukan lokasi korban di area tebing. Setelah itu, tim SAR menggendong Persic turun sampai ke kaki gunung empat hari kemudian.
Padahal, tim penyelamat melakoni proses evakuasi yang sangat berat dan menantang. Para petugas harus menaik-turuni tebing terjal dengan tumpuan kaki yang sangat terbatas. Selain itu, gumpalan hujan deras dan jarak pandang buruk terus menggempur petugas selama pencarian.



