Checkbind.com – PSIM Yogyakarta akhirnya mengumumkan transfer spektakuler mereka! Gelandang kreatif asal Portugal, Ze Valente, resmi memperkuat Laskar Mataram mulai Jumat (26/6/2025) malam. Pemain berusia 31 tahun ini bukanlah nama baru di persepakbolaan Indonesia. Sebelumnya, ia sudah membela PSS Sleman, Persebaya Surabaya, dan terakhir Persik Kediri.
Baca Juga: Pemuda Bogor Terseret Ombak di Pantai Sunset Sukabumi
Ze Valente mengawali petualangannya di Indonesia bersama PSS Sleman pada 2022. Setelah itu, ia menjelajahi kompetisi Liga 1 dengan membela Persebaya dan Persik Kediri hingga 2025. Kini, ia memutuskan kembali ke kota yang pertama kali menyambutnya dengan hangat—Yogyakarta.
“Jogja adalah Kota Pertamaku di Indonesia, Jadi Ini Seperti Pulang Kampung!”
Dengan wajah sumringah, Ze Valente tak menyembunyikan kegembiraannya. “Ini kota pertama yang kutinggali di Indonesia, dan aku sangat senang bisa kembali,” ujarnya penuh semangat. Namun, ia memilih tak buru-buru menetapkan target besar. “Aku belum punya tujuan spesifik. Pertama-tama, aku ingin mengenal tim dan rekan-rekan baru.”
Musim lalu, performanya bersama Persik Kediri benar-benar memukau. Dalam 31 pertandingan, ia mencetak 7 gol dan 8 assist—sebuah statistik yang membuktikan kontribusinya di lini serang.
Manajer PSIM: “Dia Tak Perlu Adaptasi Lama, Sudah Kenal Jogja!”
Razzi Taruna, sang manajer PSIM, tampak lega karena Ze Valente tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi. “Dia pernah bermain di Jogja saat membela PSS Sleman, jadi sudah paham betul dengan atmosfer kota ini,” jelas Razzi.
Tak hanya itu, Razzi juga yakin kualitas Ze Valente tetap konsisten selama tiga musim terakhir. “Dia playmaker yang cerdas, bisa mencetak gol dari lini kedua, sekaligus mengatur tempo permainan. Kemampuannya akan sangat berguna untuk tim,” tambahnya penuh keyakinan.
Dukungan Suporter Militan Jadi Alasan Utama Bergabung
Salah satu faktor yang membuat Ze Valente memilih PSIM adalah semangat para suporter. “Aku lihat suporter di sini sangat antusias dan militan. Itu yang bikin aku semakin yakin bergabung,” ungkapnya.
Ia juga tak sabar merasakan atmosfer Stadion Maguwoharjo, yang akan menjadi kandang PSIM di Liga 1 2025-2026. “Kami akan bekerja keras dan bertanggung jawab untuk membawa kebahagiaan bagi kalian,” janjinya. “Dan tentu, kami berusaha memenangkan setiap pertandingan!”
Sebelum kedatangan Ze Valente, PSIM sudah lebih dulu merekrut penyerang anyar, Nermin Haljeta, yang sebelumnya membela PSM Makassar.
Mengapa Ze Valente Bisa Jadi Senjata Ampuh PSIM?
Pertama, pengalamannya di Liga 1 sudah tak diragukan lagi. Kedua, kemampuan teknisnya sebagai playmaker sekaligus pencetak gol membuatnya menjadi pemain serba bisa. Ketiga, kedekatannya dengan budaya Jogja memudahkannya beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ze Valente sendiri dikenal sebagai pemain yang cepat memahami taktik pelatih. Di Persik Kediri, ia sering menjadi otak serangan yang menentukan kemenangan tim. PSIM jelas berharap ia bisa membawa dampak serupa.
Harapan Besar Suporter untuk Duet Ze Valente dan Rafinha
PSIM juga berhasil mempertahankan Rafinha, salah satu pilar penting tim musim lalu. Kini, para suporter sudah membayangkan duet mematikan antara Rafinha dan Ze Valente di lini tengah.
Jika keduanya bisa bersinergi dengan baik, bukan tidak mungkin PSIM akan menjadi ancaman serius bagi klub-klub papan atas. Apalagi, dengan tambahan Nermin Haljeta di lini depan, serangan PSIM diprediksi akan lebih bervariasi.
Liga 1 2025-2026: Tantangan Baru untuk Ze Valente dan PSIM
Musim depan, persaingan di Liga 1 dipastikan semakin ketat. PSIM, yang kini diperkuat pemain-pemain berkualitas, memiliki peluang besar untuk bersaing di papan tengah—atau bahkan lebih tinggi.
Ze Valente sendiri sudah menyiapkan mental terbaik. “Aku datang ke sini untuk berkontribusi, bukan sekadar numpang nama,” tegasnya. Pesannya untuk suporter pun jelas: “Bersiaplah untuk hal-hal menakjubkan!”
Dengan semangat baru dan squad yang semakin solid, PSIM Yogyakarta siap menghadirkan pertunjukan menarik musim depan. Ze Valente? Dia hanya ingin membuktikan bahwa kepulangannya ke Jogja bukan sekadar nostalgia, tapi awal dari kesuksesan baru!



