3 Pekerja di Bangli Tewas Gagal Napas di Dalam Lubang Bak Air

Diposting pada 6 views

DENPASAR, Checkbind.com – Sebuah insiden mengerikan mengguncang Bangli, Bali! Tiga pekerja tewas mengenaskan saat mereka membangun bak penampungan air di Banjar Seribatu, Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Sabtu (2/8/2025). Bak penampungan air yang biasa warga gunakan untuk menyimpan air bersih rumah tangga atau sistem PDAM justru berubah menjadi kuburan bagi ketiga korban.

Apa yang sebenarnya terjadi? Diduga, ketiganya mengalami gagal napas fatal saat memasuki lubang bak penampungan di area gudang sepeda Bali Echo. Gagal napas bukan sekadar sesak biasa—kondisi ini terjadi ketika tubuh gagal memenuhi kebutuhan oksigen atau membuang karbon dioksida. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah merosot drastis (hipoksemia), sementara kadar CO₂ melonjak (hiperkapnia)—dua kondisi yang bisa merusak otak dan jantung dalam hitungan menit!

Siapa saja korban dalam tragedi ini? Berikut identitas mereka:

  1. I Nengah Darman
  2. Wayan Buda Adnyana
  3. Ketut Juliawan

Sementara itu, Anak Agung Putu Rimbawan berhasil selamat meski sempat mengalami hal serupa.

Plt Kasi Humas Polres Bangli, Ipda I Gede Gumiliarta menjelaskan, “Diduga korban mengalami gagal pernapasan saat membuka tiang pancang bekas coran bak penampungan air.” Ia menambahkan, “Bentuk bak yang sempit memperparah situasi.” Saat ini, polisi masih menyelidiki kasus kecelakaan kerja ini secara mendalam.

Kronologi Mencekam: Satu per Satu Korban Jatuh!

Kasi Humas memaparkan, tragedi ini berawal pada Sabtu pagi, pukul 08.00 WITA. Saat itu, para korban sedang membongkar tiang penyangga bekas coran bak penampungan air.

  • Nengah Darman pertama kali masuk ke dalam lubang.
  • Melihat Darman tak kunjung keluar, Wayan Buda Adnyana menyusul—namun ia langsung lemas!
  • Ketut Juliawan yang berusaha menolong keduanya justru ikut terjebak dan tak mampu keluar.

Anak Agung Putu Rimbawan, pekerja lain yang berusaha membantu, turut merasakan sesak napas. Beruntung, warga setempat berhasil menariknya keluar dan segera membawanya ke Puskesmas Susut 1. Sayangnya, tiga korban lain tidak tertolong.

Ipda Gumiliarta menegaskan, “Mereka tidak tertolong karena lubang bak terlalu sempit dan alat evakuasi terbatas.” Akhirnya, warga dan polisi harus menggunakan eskavator untuk mengevakuasi jenazah sebelum membawanya ke RSUD Bangli.

Lubang Maut: Hanya 60 cm x 60 cm!

Bayangkan—bak penampungan itu memiliki kedalaman 2,5 meter, panjang 6,5 meter, dan lebar 3,5 meter. Namun, lubang masuknya hanya selebar 60 cm x 60 cm! Ukuran sempit ini membuat proses evakuasi nyaris mustahil dilakukan dengan cepat.

Apa pelajaran dari tragedi ini?

  1. Bahaya ruang terbatas (confined space) sering kali pekerja remehkan, padahal risiko kekurangan oksigen atau keracunan gas sangat tinggi.
  2. Alat pelindung diri (APD) dan prosedur keselamatan kerja wajib pekerja penuhi, terutama saat bekerja di area berisiko.
  3. Perusahaan harus memprioritaskan edukasi P3K dan pelatihan evakuasi darurat bagi seluruh pekerja.

Kini, keluarga korban berduka, sementara pihak berwajib masih mendalami penyebab pasti insiden ini. Apakah ada kebocoran gas? Atau kadar oksigen dalam bak sudah sangat rendah sejak awal? Investigasi masih berlangsung.

Bagi Anda yang bekerja di sektor konstruksi atau proyek serupa—waspadalah! Utamakan keselamatan sebelum memulai pekerjaan. Jangan sampai cerita pilu ini terulang lagi.

Dapatkan Berita Terupdate Lainnya di Exposenews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *