Checkbind.com – Gunung Rinjani, mahakarya alam Nusa Tenggara Barat (NTB), kini terancam oleh proyek ambisius PT Indonesia Lombok Resort (ILR). Walhi NTB melancarkan protes keras terhadap rencana pembangunan kereta gantung yang dibiayai investor China. Mereka membongkar rencana perusakan lingkungan: proyek ini akan menebang habis 500 hektar hutan pelindung Rinjani – di saat kerusakan hutan NTB sudah mencapai 60%!
Walhi NTB geram dengan sikap kepala batu PT ILR yang memaksakan proyek kereta gantung dari Desa Karang Sidemen menuju Pelawangan Gunung Rinjani. Amri Nuryadin, Ketua Walhi NTB, menegaskan, “Mana mungkin proyek ini tak merusak hutan? Gubernur bilang takkan babat pohon, tapi nyatanya, tiang kereta gantung dan jalur evakuasi pasti butuh lahan!”
Proyek ini benar-benar serius – akan menggarap 500 hektar kawasan hutan dan memangkas 30% di antaranya (150 hektar)!. “Kalau 1 hektar ada 400 pohon, bayangkan 60.000 pohon lenyap!” seru Amri. Padahal, Rinjani bukan sekadar gunung—ia adalah paru-paru NTB yang sudah kritis.
Walhi membongkar data mengejutkan: dari 1,1 juta hektar hutan NTB, 200.000–700.000 hektar sudah kritis! “Ditambah proyek ini, Rinjani bisa jadi monumen kerusakan lingkungan!” tambah Amri. Ironisnya, Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, justru mendukung proyek ini saat bertemu PT ILR pada Kamis (14/8/2025).
Ahui, Humas PT ILR, mengklaim gubernur meminta mereka “memperhatikan sosial dan lingkungan”. Tapi, dia juga bocorkan rencana kontroversial: “Pak Gubernur ingin pembangunan pakai helikopter biar hutan tak dibabat. Tapi, ini lebih mahal dan lama!”
Aksi penolakan terus bergulir di Mataram. Aliansi Rinjani Memanggil (ARM), pecinta alam, dan masyarakat adat Lombok bergerak bersama. Mereka bersuara lantang: “Rinjani suci, bukan untuk dieksploitasi!”
Aksi damai mereka viral di media sosial, dengan tagar #SaveRinjani menjadi trending. “Kami tak butuh kereta gantung. Kami butuh Rinjani tetap hijau!” teriak salah satu aktivis dalam unggahan video.
PT ILR mengklaim akan menunggu AMDAL selesai sebelum memulai proyek. Tapi, Walhi skeptis: “AMDAL sering jadi alat legitimasi perusakan. Mana mungkin kereta gantung tak ganggu ekosistem Rinjani?” tuding Amri.
Masyarakat pun curiga: “Ini hanya akal-akan investor untuk cepat dapat untung. Rinjani akan jadi korban!”
Rinjani sedang berteriak minta tolong. Proyek kereta gantung ini bukan sekadar soal pembangunan, tapi ujung tombak kehancuran ekologi. Jika kita diam, anak cucu hanya akan mendengar Rinjani dari cerita dongeng.
“Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?”

