Jakarta, Checkbind.com – Nilai tukar rupiah diproyeksikan mengalami tekanan pelemahan signifikan. Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, memprediksi rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 16.400 hingga Rp 16.500 per dolar AS. Aksi antisipasi para investor global yang menunggu serangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat secara langsung memicu proyeksi pesimistis ini.
“Kita harus paham bahwa mayoritas mata uang kawasan Asia memang menunjukkan tren melemah terhadap dolar AS. Investor sedang bersikap sangat hati-hati karena mereka menunggu rilis data pasar tenaga kerja AS yang akan keluar pekan ini,” tegas Josua di Jakarta, Rabu (3/9/2025). Pernyataan ini mengonfirmasi sentimen negatif yang menyelimuti pasar.
Sebagai bukti dari proyeksi tersebut, rupiah langsung membuka perdagangan dengan catatan merah pada hari Rabu. Mata uang nasional kita melemah sebanyak 21 poin, atau setara dengan 0,13 persen, ke level Rp 16.435 per dolar AS. Posisi penutupan sebelumnya berada di level Rp 16.414.
Data Ekonomi AS Jadi Fokus Utama
Lalu, data apa saja yang begitu ditakuti pasar? Ternyata, seluruh perhatian investor saat ini tertuju pada dua rilis data kunci. Pertama, data Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa AS yang akan terbit pada Kamis (4/9/2025). Kemudian, yang paling ditunggu dan sering disebut sebagai market mover adalah data Non-Farm Payrolls (NFP) atau data payroll di luar sektor pertanian AS yang akan rilis pada Jumat (5/9/2025).
Sebelumnya, data PMI Manufaktur AS untuk Agustus 2025 yang kutip dari S&P Global telah memicu gejolak. Data yang rilis pada Selasa (2/9) itu menunjukkan angka 53,0, melonjak tajam dari posisi Juli yang hanya 49,8. Angka ini bukan hanya sekadar naik, melainkan mencatatkan pertumbuhan terkuat sejak Mei 2022, yang jelas merupakan sinyal positif bagi perekonomian AS.
Kondisi operasional sektor manufaktur AS mengalami perbaikan yang sangat pesat. Tiga hal utama mendorong peningkatan fantastis ini: pertama, lonjakan produksi; kedua, pertumbuhan solid dari jumlah pesanan baru yang masuk; dan ketiga, peningkatan persediaan barang di perusahaan-perusahaan manufaktur. Selain itu, kabar gembira juga datang dari sektor ketenagakerjaan dimana perusahaan manufaktur secara konsisten merekrut lebih banyak pekerja. Yang mengejutkan, penambahan jumlah pekerjaan ini telah berlangsung selama delapan bulan berturut-turut tanpa henti.
Namun, di balik semua data positif itu, tersimpan satu kelemahan. Ternyata, kenaikan jumlah pekerjaan dan pesanan baru lebih banyak berpusat pada permintaan domestik. Sementara itu, penjualan internasional justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dua isu global memengaruhi kondisi ini: kebijakan tarif yang terapkan AS dan tingginya ketidakpastian perdagangan global. Kedua faktor ini secara efektif membebani dan mengurangi permintaan dari luar negeri.
Sinyal Berbeda dari Laporan Lain
Di tengah euforia data PMI S&P Global yang kuat, Josua Pardede mengingatkan pasar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia mengungkapkan adanya sinyal berbeda yang lembaga lain laporkan.
“Selain itu, kita juga harus mencermati laporan ISM (Institute for Supply Management) Manufacturing yang juga merilis PMI Manufaktur AS. Yang menarik, angka dari ISM hanya naik tipis ke level 48,7 dari sebelumnya 48,0. Bahkan, angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan angka 49,0,” papar Josua dengan detail.
Perbedaan data antara dua lembaga terpercaya ini menciptakan kebingungan dan ambiguitas di kalangan investor. Akibatnya, para pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati-hati dan mengambil posisi aman dengan membeli aset-aset safe haven seperti dolar AS. Aliran modal yang keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, memberikan tekanan berat pada nilai tukar rupiah.
Oleh karena itu, kita dapat simpulkan bahwa pelemahan rupiah bukanlah sebuah insiden terisolasi, melainkan dampak dari fenomena global yang antisipasi terhadap data ekonomi AS picu. Investor secara agresif memindahkan dananya ke aset dolar AS sembari menunggu kejelasan dari data-data tersebut. Sampai data-data kunci ini rilis dan memberikan kejelasan arah kebijakan moneter The Fed, volatilitas tinggi akan terus menghantui pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

