Site icon Checkbind

Prabowo Instruksikan Transformasi BUMN, Dari Ribuan Entitas Dipadatkan Jadi Maksimal 300

JAKARTA, Checkbind.com – Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, baru saja membocorkan rencana raksasa yang bakal mengubah peta bisnis negara selamanya. Pihaknya, menurut Dony, saat ini tengah gencar-gencarnya membereskan tatanan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jangan bayangkan sekadar merapikan meja, ini operasi besar-besaran!

Lebih lanjut, Dony menegaskan bahwa langkah perampingan jumlah perusahaan BUMN ini punya tujuan mulia: menciptakan pengelolaan yang jauh lebih efisien. Proses perampingan ini bukan isapan jempol belaka. Masyarakat bakal menyaksikan transformasi luar biasa dari awalnya terdapat 1.077 entitas yang tersebar di berbagai sektor, lalu angka gila itu akan menyusut drastis hanya menjadi sekitar 200-300 perusahaan saja. Wow!

Jangan Panik! Prabowo Bersumpah Tidak Akan Ada PHK Massal, Tenang Saja!

Namun, sebelum kamu membayangkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, Dony langsung menepis kekhawatiran itu. Dengan nada mantap, ia mengklaim pemangkasan BUMN ini sama sekali tidak bakal berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Jadi, tarik napas lega! Seluruh karyawan, terang Dony, akan tetap dipertahankan dengan setia dan perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi akan menampung mereka semua. Bukan membuang, tetapi memindahkan ke tempat yang lebih baik.

Dony pun menyampaikan pesan penting dari pucuk pimpinan. Presiden Prabowo Subianto, katanya, telah memberikan arahan yang sangat jelas. Transformasi besar-besaran di tubuh BUMN ini, tegas Prabowo, jangan sampai merugikan para pekerja kecil. “Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK,” ujar Dony dalam keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), yang kami kutip pada Minggu (14/6/2026). Jadi, rakyat kecil tetap mendapat perlindungan penuh!

Target Rampung 2026, Danantara Menggeser Perusahaan-perusahaan yang Boncos

Proses streamlining atau perampingan BUMN ini, jelas Dony, sudah ditargetkan bakal rampung total pada 2026. Jangan menunda-nunda lagi, karena langkah tegas ini bertujuan mengatasi satu masalah besar: banyaknya perusahaan BUMN yang tidak efisien dan bahkan terus-menerus mengalami kerugian. Daripada membiarkan mereka jeblok, Danantara lebih memilih menyelamatkan seluruh ekosistem bisnis negara.

Dony membeberkan fakta mencengangkan. Dari total 1.077 perusahaan yang eksis saat ini, sekitar 52 persen atau lebih dari separuhnya tercatat merugi! Parahnya lagi, akumulasi kerugian dari perusahaan-perusahaan bermasalah tersebut mencapai angka fantastis, yaitu Rp 20 triliun. Gila, kan? Para pemilik usaha pasti menggeleng-geleng kepala melihat uang sebesar itu lenyap begitu saja tanpa hasil.

Hitung-hitungan Jenius! Lebih Hemat Menyimpan Karyawan daripada PHK, Ini Buktinya!

Lantas, bagaimana cara menyehatkan perusahaan tanpa memecat siapa pun? Danantara pun tidak asal klaim. Tim ahli melakukan perhitungan super matang terkait opsi tanpa PHK. Hasilnya sungguh mengejutkan. Ternyata, penghematan yang diperoleh dari proses konsolidasi dan efisiensi struktural jauh melampaui biaya tenaga kerja yang harus ditanggung untuk mempertahankan semua karyawan.

“Kita hitung, kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp 2-3 triliun,” papar Dony santai. Hanya segitu? Dibandingkan kerugian dan inefisiensi lainnya, angka itu terbilang kecil. Dengan potensi efisiensi yang mencapai puluhan triliun rupiah, Danantara dengan sadar memilih mempertahankan seluruh pekerja. PHK bukanlah pilihan, karena secara bisnis pun tindakan itu tidak masuk akal.

Hemat Puluhan Triliun, Danantara Memilih Menyelamatkan Karyawan: “Saya Masih Hemat Rp 47 T!”

Coba bayangkan logika sederhana namun brilian ini. Penghematan yang diperoleh dari konsolidasi jauh lebih besar daripada biaya untuk mempertahankan karyawan. Jadi, buat apa repot-repot melakukan PHK? Dony pun memberikan ilustrasi nyata. “Jadi saya berpikir, kalau gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp 47 triliun,” kata Dony dengan penuh keyakinan. Dengan mempertahankan semua orang, mereka tetap bisa menghemat puluhan triliun! Itulah yang namanya win-win solution.

Dony pun menegaskan kembali komitmennya. Seluruh pegawai, tekanannya, akan tetap menjadi bagian penting dari perusahaan hasil konsolidasi. Menurut pandangannya, para pekerja sama sekali tidak boleh menjadi pihak yang menanggung beban dan dampak buruk dari restrukturisasi korporasi. Ini soal keadilan, tegasnya.

“Seluruh karyawan tidak akan ada yang kita kurangi. Mereka akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi. Karena tadi pemikiran kita, kita tidak mau juga menzalimi karyawan. Karena itu kan bukan salah mereka,” tukasnya tegas. Kalimat ini seharusnya membuat hati para pekerja BUMN berbunga-bunga penuh sukacita.

Gila! Efisiensi BUMN Ternyata Bisa Menghemat Rp 50 Triliun Per Tahun, Segini Rincinya!

Bukan hanya menyelamatkan karyawan, pemangkasan BUMN ini ternyata menyimpan potensi keuntungan yang luar biasa. Dony mengungkapkan dengan penuh semangat, langkah ini berpotensi menghasilkan penghematan langsung hingga Rp 50 triliun per tahun! Sumbernya dari mana? Danantara menemukan praktik busuk: transaksi berlapis antara induk perusahaan, anak usaha, hingga perusahaan cucu yang selama ini diam-diam menimbulkan inefisiensi besar.

“Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, yang menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp 30 triliun,” beber Dony. Bayangkan duit sebesar itu lenyap hanya karena proses birokrasi internal yang berbelit-belit. Nah, dengan perampingan, semua lapisan itu akan terpotong bersih.

Bukti Nyata Merger Pertamina: Langsung Hemat Ratusan Juta Dolar!

Dony pun memberikan contoh konkret yang sudah terbukti. Ia menyebut penggabungan tiga entitas raksasa: PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS). Menurutnya, merger ini terpaksa mereka lakukan karena ketiga perusahaan berada dalam rantai bisnis yang saling terkait erat. Daripada ribet dengan transaksi internal yang berbelit, lebih baik menyatukan mereka semua.

Hasilnya? Danantara berhasil memangkas berbagai biaya transaksi internal dan potensi kerugian akuntansi yang selama ini membebani perusahaan. “Contoh pertama, kita merger sekarang, kita sudah menghemat kurang lebih sekitar USD 600-700 juta dari hasil merger ini,” ujarnya. Dalam rupiah, jumlah itu setara sekitar 9-10 triliun! Bukti nyata bahwa perampingan membuahkan hasil manis.

Praktik boros serupa juga terjadi di lingkungan Telkom Group. Dony mengungkapkan, dalam sejumlah proyek pembangunan jaringan serat optik, pekerjaan harus melewati beberapa lapis perusahaan sebelum akhirnya tim mengeksekusi. Akibatnya, biaya tambahan yang tidak perlu muncul dan membebani keuangan negara.

Puncaknya: Rp 50 Triliun Mengendap di Depan Mata Tanpa Perlu Meningkatkan Laba!

Puncaknya, Dony membuat pernyataan yang bakal membuat para ekonom terperangah. Apabila seluruh proses streamlining ini selesai mereka lakukan dan jumlah perusahaan berhasil mereka pangkas menjadi sekitar 254 entitas saja, maka Danantara akan langsung mengantongi penghematan langsung sekitar Rp 50 triliun. Dan yang lebih gila lagi, mereka bisa meraih penghematan ini tanpa harus menunggu peningkatan profitabilitas perusahaan hasil konsolidasi.

“Jadi kita punya Rp 50 triliun kalau proses ini selesai kita laksanakan. Kita punya immediate saving tanpa kita harus melakukan improvement terhadap kualitas pengelolaan dan profitability daripada hasil penggabungan. Di depan mata kita ada Rp 50 triliun,” imbuhnya dengan penuh optimisme. Uang segar itu sudah mengendap di depan mata, tinggal bagaimana mereka merampingkan struktur. Jadi, tunggu apa lagi? Transformasi BUMN besar-besaran ini layak untuk kita nantikan bersama!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version