checkbind.com, PAMULANG – Narun Sempat Melawan Firdaus. Masyarakat Pamulang digegerkan oleh kasus pembunuhan sadis seorang kakak oleh adik kandungnya sendiri. Firdaus (52) nekat menghabisi nyawa Narun (65), kakak kandungnya sendiri, setelah bertahun-tahun memendam dendam. Pelaku merasa kakak-kakaknya telah mengkhianatinya dengan menggadaikan rumah warisan orang tua, termasuk korban, tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu. Tidak hanya itu, Firdaus juga tidak menerima bagian dari hasil gadai tersebut, sehingga kemarahannya memuncak.
Dendam Membara Berujung Pembunuhan
Dengan niat balas dendam, Firdaus nekat menyerang Narun menggunakan celurit hingga korban tewas kehabisan darah. Menurut Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Alvino Cahyadi, kejadian bermula saat Firdaus melihat korban melintas dengan sepeda motor. Tanpa pikir panjang, pelaku langsung mengejar Narun hingga berhenti di depan sebuah toko material.
“Di lokasi itu, tersangka langsung mengacungkan celurit ke arah korban,” jelas Alvino. Narun sempat berusaha melawan dengan mengambil sebatang kayu balok dan meminta adiknya menurunkan senjata. Namun, Firdaus sama sekali tidak menghiraukan permintaan tersebut.
Korban Berusaha Bertahan Sebelum Tewas
Korban kemudian memukul lengan kiri pelaku untuk melucuti celurit, sayangnya kayu yang digunakan justru patah. “Tersangka langsung mengayunkan celurit ke pundak kiri korban, menyebabkan luka parah,” tambah Alvino. Dengan tubuh penuh luka, Narun berusaha menyebrangi jalan di depan toko material sebelum akhirnya ambruk tak berdaya di depan warung kelontong.
Firdaus mendekati kakaknya untuk memastikan korban benar-benar tak bergerak lagi. Setelah yakin Narun telah tewas, pelaku meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki.
Motif Utama: Sengketa Warisan yang Tak Kunjung Usai
Kapolres Tangsel, AKBP Victor Inkiriwang, menegaskan bahwa konflik warisan yang berkepanjangan mendorong motif pembunuhan ini.
“Firdaus merasa kakak-kakaknya mengkhianatinya karena mereka menggadaikan rumah orang tua tanpa memberitahunya. Selain itu, pelaku sama sekali tidak menerima bagian dari hasil gadai tersebut,” jelas Victor saat memberikan keterangan di Polres Tangerang Selatan, Serpong, Minggu (11/5/2025).
Firdaus selama ini menyimpan kekecewaan mendalam terhadap kakak-kakaknya. Ia merasa haknya diabaikan dalam pembagian harta keluarga. Akibatnya, emosi yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya meledak dalam aksi brutal yang merenggut nyawa sang kakak.
Proses Hukum dan Penyidikan Berlanjut
Polisi terus mendalami kasus ini guna memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat. Mereka telah menahan Firdaus dan sedang memeriksanya secara intensif. Kepolisian mengimbau masyarakat setempat agar tidak main hakim sendiri dan menunggu proses hukum selesai.
Keluarga korban dan pelaku diliputi duka mendalam. Tetangga yang mengenal kedua bersaudara itu mengaku terkejut karena keduanya sebelumnya tidak pernah terlihat terlibat konflik terbuka.
Pelajaran dari Tragedi Keluarga Ini
Kasus ini menjadi pengingat betapa pentingnya komunikasi dan keadilan dalam pembagian warisan. Konflik keluarga yang dibiarkan berlarut-larut dapat berujung pada tragedi tak terduga. Para ahli hukum menyarankan agar setiap keluarga menyelesaikan sengketa warisan melalui jalur mediasi atau pengadilan demi menghindari kekerasan.
Tragedi pembunuhan ini menjadi peringatan keras bagi seluruh keluarga tentang bahaya menyimpan dendam. Konflik warisan yang tidak terselesaikan dengan baik telah memicu kekerasan fatal antara saudara kandung. Kini, pihak berwajib terus bekerja keras menyelesaikan kasus ini sambil mengingatkan masyarakat agar menyelesaikan sengketa keluarga melalui jalur hukum.
Selanjutnya, para ahli menyarankan pentingnya mediasi keluarga dan pembagian warisan yang transparan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa. Akhirnya, keluarga korban dan pelaku harus menghadapi duka mendalam, sementara proses hukum tetap berjalan untuk menegakkan keadilan.

