LABUAN BAJO, Checkbind.com – Sebuah kisah pilu menyelimuti keluarga di Desa Ruang, Kecamatan Satarmese Utara, Manggarai. Bayi laki-laki yang lahir melalui operasi caesar pada 20 Juni 2025 harus menghembuskan napas terakhirnya hanya empat hari setelah kelahirannya. Penyebabnya? RSUD Ruteng kehabisan ventilator, sementara sang bayi mengalami gangguan pernapasan sejak lahir.
Operasi Caesar Darurat, tapi Nasib Bayi Tak Tertolong
Siprianus Jemalur, perwakilan keluarga, menceritakan detik-detik penuh haru sebelum sang bayi lahir. Awalnya, dokter memprediksi kelahiran akan terjadi pada 23 Juni 2025. Namun, seminggu sebelumnya, sang ibu sudah menunjukkan tanda-tanda melahirkan. Dengan bantuan bidan setempat, ia segera dibawa ke Puskesmas Langke Majok.
Sayangnya, proses persalinan normal berjalan sangat lama karena kondisi ibu yang lemah. Akhirnya, Puskesmas merujuknya ke RSUD Ruteng. Tapi di sana, harapan mulai pupus.
“Saat tiba di Ruteng, tim rumah sakit tidak langsung melakukan operasi caesar karena ruangan sudah penuh dan fasilitas pasca-melahirkan tidak memadai,” tegas Siprianus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/7/2025). Namun, melihat kondisi ibu yang semakin drop, keluarga memutuskan untuk tetap melanjutkan operasi.
Bayi Lahir Tak Menangis, Keluarga Berjuang Manual dengan Pompa Oksigen
Setelah operasi, bayi lahir dalam keadaan selamat. Tapi, ada masalah serius: dia tidak menangis dan kesulitan bernapas. Tanpa ventilator yang tersedia, keluarga terpaksa memompa oksigen secara manual, berharap ada alat yang bisa menyelamatkan nyawa sang bayi.
Namun, harapan itu musnah di hari ketiga. Kondisi bayi semakin memburuk, dan pada hari keempat, tepatnya pukul 19.30 WITA, ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya dibawa pulang ke kampung dan tiba pukul 23.00 WITA. Sang ibu bahkan tidak sempat melihat detik-detik terakhir buah hatinya karena masih dalam perawatan.
“Ibu baru bisa bertemu bayinya keesokan harinya… di rumah duka,” kata Siprianus dengan suara berat.
Keluarga Murka: “Ini Bukan Takdir, Tapi Kelalaian!”
Keluarga tidak terima dengan kejadian ini. Mereka menuding RSUD Ruteng tidak siap menangani pasien kritis. “Kami bisa menerima jika dia meninggal setelah dapat perawatan maksimal. Tapi nyatanya, tidak ada upaya serius untuk menyelamatkannya,” tegas Siprianus.
Mereka menuntut pertanggungjawaban pihak rumah sakit. Pasalnya, fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat teraman untuk menyelamatkan nyawa, bukan malah menjadi “kuburan” karena minimnya alat medis.
RSUD Ruteng Buka Suara: “Ventilator Rusak, Pasien Terlambat Dirujuk”
Menanggapi protes keluarga, Direktur RSUD Ruteng, Oktavianus Yanuar Ampur, memberikan penjelasan. Dia mengakui bahwa rumah sakit hanya memiliki enam ventilator, dan empat di antaranya sedang dipakai. Dua lainnya rusak karena pemakaian berlebihan.
“Pasien ini sudah kami tangani dengan intubasi dan VTP (ventilasi tekanan positif). Kami juga menyarankan rujukan, tapi keluarga menolak.
Miris! Masalah Klasik Kesehatan di NTT Terulang Lagi
Ini bukan kali pertama RSUD Ruteng dikritik karena keterbatasan fasilitas. Daerah terpencil seperti Manggarai seringkali jadi korban sistem kesehatan yang timpang. Ventilator adalah alat kritis, tapi nyatanya, banyak rumah sakit di NTT yang masih kekurangan.
Kasus ini seharusnya jadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan pusat. Jangan sampai ada bayi atau pasien lain yang menjadi korban berikutnya hanya karena alat medis tidak tersedia.
Apa Solusinya? Masyarakat Menuntut Perubahan!
Masyarakat Manggarai mendesak pemerintah segera:
✅ Menambah ventilator dan alat medis darurat di RSUD Ruteng.
✅ Memperbaiki sistem rujukan agar pasien tidak terlambat ditangani.
✅ Meningkatkan anggaran kesehatan untuk daerah terpencil.
Kematian bayi ini bisa dicegah jika saja ada alat yang memadai. Jangan biarkan nyawa rakyat kecil menjadi taruhannya!

