Site icon Checkbind

Longsor Timpa Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Mandailing Natal, Dua Pekerja Tewas

MANDAILING NATAL, Checkbind.com – Bencana longsor menggegerkan warga Desa Aek Guo, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (4/7/2026) sore. Lokasi kejadian berada di area Pertambangan Emas Tanpa Izin atau PETI. Longsor menimpa para pekerja saat mereka asyik menggali. Dua penambang tewas seketika. Material tanah yang runtuh mengubur mereka dalam-dalam.

Informasi terkini hingga Minggu (5/7/2026) siang mengungkap identitas kedua korban. Mereka adalah EN dan Z, warga asli Kecamatan Batang Natal. Keduanya sehari-hari mencari nafkah dari tambang emas tradisional. Tak ada yang menyangka rutinitas berat ini berujung maut.

Data sementara menyebutkan nama lengkap korban. Erlin Nasution (40) berasal dari Desa Tarlola. Zulparman (50) warga Desa Aek Guo. Keduanya dikenal sebagai pekerja keras. Mereka tak pernah mengeluh meski bekerja di tambang yang jauh dari kata aman. Kini mereka kehilangan nyawa demi sekelumit emas. Risiko yang mereka hadapi setiap hari ternyata membawa petaka.

LONGSOR DATANG TANPA PERINGATAN, PEKERJA TAK SEMPAT SELAMAT

Peristiwa nahas terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Cuaca saat itu masih terang. Para penambang tengah sibuk bekerja di lubang tambang. Mereka menggali tanah dan memecah batu secara manual. Aktivitas ini sudah mereka lakukan bertahun-tahun.

Tanpa tanda bahaya yang jelas, gemuruh tanah tiba-tiba terdengar dari atas bukit. Kondisi tanah yang labil memicu longsor mendadak. Material tanah dalam jumlah besar langsung runtuh. Runtuhan itu menimpa area penambangan. Para pekerja tak sempat menyelamatkan diri. Tanah mengubur mereka dengan cepat.

Suasana panik langsung menyelimuti lokasi. Rekan-rekan korban berteriak histeris. Mereka berusaha mengevakuasi yang tertimbun dengan alat seadanya. Namun kondisi sangat sulit. Material longsoran terlalu berat dan tebal.

Yang memprihatinkan, lokasi tambang ini tak memiliki standar keselamatan sama sekali. Tak ada penyangga kuat di dinding tambang Dan Tak ada alat pelindung diri. Tak ada prosedur evakuasi darurat. Semua serba seadanya. Inilah biang keladi kegagalan penyelamatan saat musibah datang.

DUA NYAWAMELAYANG, TUJUH LAINNYA MASIH MISTERIUS

Dua korban jiwa telah teridentifikasi sebagai warga setempat. Masyarakat mengenal mereka sebagai penambang andal di kawasan itu. Keduanya diduga kuat tak sempat lari dari lokasi longsor. Posisi mereka persis di titik pusat amblesan. Tanah mengubur mereka sebelum bisa berbuat apa-apa.

Kasat Reskrim Polres Mandailing Natal, AKP Tri Boy Alvin Siahaan, membenarkan kejadian tragis ini. “Korban meninggal dunia sebanyak dua orang,” ujar Tri Boy tegas. “Berinisial EN dan Z. Dugaan sementara akibat tertimbun material longsor,” tambahnya di lokasi kejadian.

Namun kabar mengejutkan beredar di masyarakat. Tujuh orang lainnya dilaporkan turut tertimbun dalam peristiwa yang sama. Informasi ini sontak membuat keluarga panik. Mereka kebingungan mencari sanak saudara yang bekerja di tambang. Hingga kini belum ada keterangan resmi tentang ketujuh orang tersebut. Spekulasi dan kekhawatiran terus merebak di kalangan warga.

Pihak kepolisian bergerak cepat merespons kejadian ini. Mereka langsung turun ke lokasi longsor. Tim menyisir area dengan hati-hati. Mereka memastikan tak ada lagi korban tertimbun. Proses evakuasi berlangsung penuh kehati-hatian.

Petugas mengumpulkan data dan bukti-bukti di lapangan. Mereka memeriksa kondisi tanah dan struktur tambang. Dokumentasi dilakukan secara menyeluruh. Semua ini menjadi bahan penting penyelidikan.

Sejumlah saksi mata memberikan keterangan. Mereka menceritakan detik-detik sebelum longsor. Polisi menggali informasi dari berbagai sudut pandang. Mulai dari kondisi cuaca hingga aktivitas penambangan. Kesaksian ini sangat berharga untuk mengungkap kronologi sebenarnya.

AKP Tri Boy menegaskan penyelidikan masih berlangsung intensif. Pihaknya berupaya memastikan penyebab utama longsor. “Kami akan mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya. Faktor alam seperti struktur tanah rapuh menjadi dugaan awal. Namun kemungkinan faktor lain juga tidak ditutup.

Polisi mendalami unsur pidana dalam aktivitas tambang ilegal ini. Jika terbukti ada kelalaian berat, pelaku akan diproses hukum. Ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Aktivitas pertambangan ilegal harus segera dihentikan. Jangan sampai lebih banyak korban berjatuhan.

TANAH RAPUH DAN TAMBANG LIAR, RESIKO MAUT MENGGANDA

Penyebab pasti longsor masih dalam penyelidikan. Namun dugaan kuat mengarah pada kondisi tanah yang tak stabil. Aktivitas penggalian terus-menerus memperburuk keadaan. Tanah yang seharusnya stabil justru digali habis-habisan.

Para penambang bekerja dengan cara tradisional. Mereka hanya menggunakan cangkul, linggis, dan dulang. Tak ada perhitungan teknis tentang kestabilan lereng. Mereka lebih fokus mencari emas. Risiko longsor diabaikan begitu saja.

Pengawasan di lokasi PETI nyaris tak ada. Standar keselamatan kerja juga nol besar. Tak ada pengawas yang mengingatkan bahaya. Tak ada alat komunikasi darurat. Dan tak ada prosedur evakuasi bencana. Semua berjalan liar tanpa aturan. Kondisi inilah yang akhirnya membawa petaka bagi para pekerja tambang ilegal.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version