Site icon Checkbind

Kronologi Kematian Harimau Putih Anggun di Medan dan Temuan Dokter Hewan

SEMARANG, Checkbind.com – Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Harimau putih bernama Anggun, primadona Semarang Zoo, mati secara misterius. Kematiannya terjadi hanya beberapa hari setelah pengelola memindahkannya ke kebun binatang di Medan. Program pertukaran satwa yang seharusnya mulia ini justru berakhir tragis.

Masyarakat pun bertanya-tanya. Mereka menuntut transparansi penuh atas nasib satwa dilindungi tersebut. Anggun bukan harimau biasa. Ia merupakan maskot kebanggaan dan daya tarik utama pengunjung Semarang Zoo selama bertahun-tahun.

Pemerintah Kota Semarang akhirnya buka suara. Mereka menjelaskan bahwa pemindahan Anggun bukan keputusan asal-asalan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar memperbaiki kualitas genetik harimau di Semarang Zoo. Populasi harimau di kebun binatang tersebut memang sudah lama mengalami perkawinan sedarah atau inbreeding.

Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, menegaskan prosedur ketat telah dilalui. Pihaknya memastikan semua tahapan administrasi beres sebelum keberangkatan. Tim medis juga memeriksa kesehatan Anggun secara menyeluruh pada Maret 2026. “Tim dokter dari Semarang Zoo mendampingi perjalanan hingga di Medan,” ujar Handi kepada awak media, Kamis (30/7/2026).

Handi membeberkan alasan pemilihan Anggun. Pengelola memilih Anggun karena ia merupakan keturunan hasil kawin sedarah. Semarang Zoo butuh individu baru dengan garis keturunan berbeda. Pertukaran ini diharapkan mampu menyelamatkan kualitas genetik harimau ke depan. “Anggun adalah cucu dari perkawinan sedarah. Warna putihnya membuktikan DNA-nya sudah menyimpang. Kami butuh darah baru dari luar,” ungkap Handi.

Kondisi Anggun sempat membaik saat tiba di Medan. Tim pendamping melaporkan harimau itu lincah dan sehat. Ia langsung menempati kandang baru dengan baik. Namun, kabar buruk datang beberapa hari kemudian. Pihak kebun binatang Medan mengabarkan Anggun telah mati. Kabar ini sontak mengejutkan publik dan menjadi viral di media sosial.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Semarang Zoo menerima satwa pengganti. Kebun binatang di Medan mengirimkan tiga ekor rusa bawean. Mereka juga menambahkan dua ekor burung merak dan dua ekor burung macaw. Namun, kehadiran satwa-satwa baru itu tenggelam oleh duka dan kontroversi kematian Anggun.

Tim dokter hewan segera melakukan otopsi untuk mencari penyebab pasti. Hasil nekropsi mengungkapkan fakta-fakta mencengangkan. Kondisi kesehatan Anggun ternyata sangat mengerikan pada akhir hayatnya. Dokter menemukan abses pada bahu kanan harimau tersebut. Abses itu berkembang parah hingga menyebabkan nekrosis atau kematian jaringan kulit.

Pemeriksaan juga menunjukkan tanda-tanda anemia yang jelas. Dokter melihat perubahan pucat pada selaput mata dan hidung Anggun. Selain itu, mereka menemukan ikterus atau warna kekuningan pada mukosa mulut. Kondisi ini menandakan gangguan serius pada organ hati. Tim dokter juga menjumpai lendir pada hidung dan trakea. Lendir itu disertai peradangan serta pendarahan pada paru-paru.

Organ-organ vital Anggun pun mengalami pembengkakan signifikan. Jantung, hati, dan ginjalnya membengkak secara tidak wajar. Sebagian besar jaringan hati bahkan rusak parah. Dokter melihat bercak-bercak pendarahan kecil di permukaan hati. Kerusakan ini mengindikasikan fungsi hati sudah tidak optimal.

Hasil otopsi mengungkap satu temuan paling mencengangkan. Saluran pencernaan Anggun kosong melompong. Dokter tidak menjumpai sisa-sisa pakan sama sekali. Fakta ini membuktikan bahwa sang harimau sudah lama tidak makan. Kondisi ini tentu memperburuk kesehatannya yang sudah kritis. Handi menolak membeberkan detail lebih lanjut. Ia menyerahkan pertanyaan teknis sepenuhnya kepada Direktur Kebun Binatang.

Kabar kematian Anggun langsung memicu sorotan tajam. Publik menyoroti tata kelola Semarang Zoo, khususnya di Kota Semarang, Jawa Tengah. Media sosial pun dipenuhi oleh ungkapan duka dan kemarahan. Akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang bahkan menuntut investigasi menyeluruh.

Mereka menduga keras adanya prosedur anestesi yang keliru. Dugaan ini muncul karena abses dan infeksi seringkali berkaitan dengan tindakan medis. “Jika dugaan itu benar, pihak berwenang wajib mengusut tuntas,” tulis akun tersebut. Mereka meminta hasil pemeriksaan medis dan nekropsi dibuka untuk publik. Publik berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Transparansi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga konservasi.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version