Checkbind.com – Momen mendebarkan yang membuat masyarakat gempar akhirnya berbuah lega. Selanjutnya, nakhoda kapal MT Honour asal Kabupaten Gowa, Ashari Samadikun (33), berhasil menghirup udara bebas. Sebelumnya, pelaut tangguh ini melewati masa kelam di lautan lepas. Sebab, komplotan perompak Somalia menawan Ashari selama lima bulan lebih.
Kemudian, kebebasan yang membahagiakan ini menyelimuti Ashari beserta tiga warga negara Indonesia (WNI) lainnya. Lalu, aparat militer Puntland melancarkan operasi penggerebekan dramatis di perairan Somalia. Akhirnya, pasukan merebut kembali kapal tanker MT Honour 25 pada Selasa (29/9/2026). Padahal, kelompok perompak bersenjata sempat menguasai penuh kapal tanker tersebut.
Namun demikian, sang nakhoda mengungkap fakta mengejutkan usai lolos dari cengkeraman perompak. Kendati fisiknya selamat, trauma penyanderaan masih membekas sangat kuat dalam jiwanya. Selain itu, kenangan pahit bertaruh nyawa terus membayangi pikiran Ashari setiap saat.
Mengenai hal tersebut, ayah kandung Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing (67), membeberkan kondisi sang putra. Lantas, beliau menyampaikan bahwa fisik anaknya berada dalam kondisi sehat walafiat. Akan tetapi, mental sang kapten rupanya belum pulih secara total. Oleh sebab itu, Ashari terus merasakan ketakutan, curiga, dan waswas setiap detik. Padahal, aparat keamanan sudah memberikan pengawalan militer yang amat ketat.
“Anak saya masih mengalami trauma yang sangat berat,” tutur Syamsuddin membeberkan kisah pilu tersebut. “Dia kerap menaruh curiga dan selalu merasa waswas,” lanjutnya saat menemui awak media. “Bahkan, meskipun militer mengawalnya, dia tetap memasang sikap waspada tinggi,” tegas Syamsuddin. Beliau menyampaikan hal itu di kediamannya di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Pattallassang, Gowa, Senin (5/10/2026).
Lima Bulan Berada dalam Penyanderaan
Jika kita menengok ke belakang, peristiwa horor ini bermula saat Ashari memimpin pelayaran MT Honour 25. Malangnya, kelompok perompak Somalia membajak kapal tanker tersebut pada 21 April 2026. Kala itu, sang nakhoda tengah mengemudikan kapal dari Oman menuju Somalia. Tiba-tiba, komplotan perompak menyergap dan menguasai kapal secara paksa di tengah laut.
Bahkan, kapal nahas itu membawa sebanyak 17 orang awak kapal yang pasrah. Ternyata, empat orang di antara awak kapal tersebut merupakan warga negara Indonesia. Selain sang nakhoda Ashari, tiga ABK Indonesia lainnya adalah Adi Faizal, Wahudinanto, serta Fiki Mutakin.
Maka dari itu, masa penyanderaan lima bulan menjadi ujian mental yang sangat berat. Selanjutnya, seluruh awak kapal harus bertahan hidup dalam isolasi total. Setiap hari, para sandera menghadapi ancaman moncong senjata perompak Somalia yang kejam.
Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Indonesia langsung mengambil langkah diplomatik cepat. Pihak pejabat menggalang komunikasi intensif serta berkoordinasi erat dengan berbagai otoritas internasional. Langkah nyata ini bertujuan mengupayakan pembebasan total bagi keempat warga negara Indonesia.
Hingga akhirnya, drama penyanderaan ini berakhir setelah militer Puntland menggelar aksi penggerebekan. Pasukan khusus menggempur komplotan perompak pada tanggal 29 September 2026. Operasi taktis tersebut bertujuan merebut kembali kontrol penuh atas kapal MT Honour 25.
Sayangnya, baku tembak sengit di atas kapal tersebut memakan korban jiwa. Otoritas Puntland mengonfirmasi bahwa pertempuran itu menewaskan lima orang awak kapal. Selain itu, empat awak kapal lainnya menderita luka tembak yang sangat serius. Rinciannya, korban tewas meliputi tiga warga Pakistan, satu warga India, serta satu warga Myanmar.
Kendati demikian, aparat Puntland akhirnya berhasil menguasai kembali seluruh area kapal. Seketika itu juga, petugas resmi menyatakan empat WNI telah bebas dari bahaya.
Sempat Diikat dan Ditembaki
Di sisi lain, kebahagiaan luar biasa menyelimuti sanubari keluarga besar Ashari di tanah air. Pihak keluarga menerima kabar gembira ini langsung dari Ashari melalui sambungan telepon.
Lantas, Syamsuddin menceritakan bahwa nada bicara anaknya masih menunjukkan kepanikan tinggi. Meskipun pikirannya kacau balau, Ashari tetap menguatkan hati menyapa keluarganya. Dengan begitu, sang kapten berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dia berhasil selamat dari maut.
“Anakku masih panik dan pikirannya kacau balau saat menelepon,” ujar Syamsuddin mengulang momen emosional itu. “Namun, dia tetap memberi tahu keluarga di rumah bahwa dirinya selamat,” sambungnya penuh haru.
Selanjutnya, informasi dari sang nakhoda mengungkap fakta pembebasan yang sangat mencekam. Sebab, para perompak sempat mengikat seluruh awak kapal tanpa daya di atas kapal. Sesaat kemudian, pertempuran meletus dan hujan peluru menerjang area penyanderaan.
“Penyerangan militer pada waktu itu berlangsung luar biasa brutal,” ungkap Syamsuddin menceritakan kengerian tersebut. “Para perompak mengikat semua awak kapal, lalu letusan tembakan menyasar mereka,” tambahnya.
Bahkan, insiden berdarah itu menimbulkan luka fisik pada salah satu sandera asal Indonesia. ABK bernama Fiki Mutakin asal Bogor menderita luka pada bagian kaki akibat tembakan.
Sementara itu, usai militer menyelesaikan operasi, Ashari kini menempati lokasi aman di Bosaso, Somalia.
Oleh karena itu, Syamsuddin menaruh harapan besar agar pemerintah segera memulangkan sang putra ke Makassar. Beliau sangat merindukan momen saat Ashari bisa kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
“Harapan terakhir kami adalah pemerintah segera memulangkan anak saya ke Makassar,” pinta Syamsuddin penuh harap. “Kami ingin dia segera bertemu kembali dengan keluarga besar di rumah,” ucapnya.
Tak cuma itu, Syamsuddin juga mendoakan agar kondisi kesehatan Fiki segera membaik. Sehingga, pemerintah Indonesia dapat memulangkan keempat WNI tersebut secara bersamaan ke tanah air.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

